Perjalanan Musim Dingin 2012-2013 (1)

peta perjalanan winter
Peta perjalanan

Perjalanan ini adalah perjalanan Bussines trip yang paling berkesan buatku. Garis biru itu adalah rute perjalanan yang pernah kami lakukan. Suhu dibulan Februari bisa mencapai -2 didaerah Tokyo, semakin ke utara, suhu semakin rendah. Rute kami dimulai dari Tokyo-Nagano-Ishikawa-Kyoto-Hiroshima-Fukuoka.

Sebagai intermezo, aku akan jelaskan pekerjaanku pada saat itu. Aku bekerja di perusahaan kirim uang yang berkantor di Shinjyuku-Tokyo sebagai marketing team. Partnerku mantan pramugara maskapai nasional Indonesia yang beralih profesi sebagai pengacara dan panjang cerita, doi akhirnya terlempar di Tokyo dan jadi seniorku di kantor tersebut. Kami harus mencari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang dan memperkenalkan produk jasa kami. Partnerku punya tipe kerja “Jemput Bola”, jadilah kami yang selalu keliling menghampiri orang-orang Indonesia yang hampir 80% nya adalah para pekerja pemagang (Tenaga Kerja Indonesia). 

Kami start dari kantor sekitar pukul 6 sore hari, karena kami membuat jadwal akan bermalam dinagano, perjalanan dari Tokyo menuju Nagano sekitar 3 jam, maka bisa dipastikan sekitar jam 9 malam kami berada di Nagano dan bisa langsung check-in, menyimpan tenaga untuk keesokan harinya. Kesalahan kami saat itu adalah, tepatnya sih kesalahanku, karena partnerku tidak bisa sama sekali baca dan bicara bahasa Jepang, maka sudah seharusnya aku yang selalu check prakiraan cuaca. Karena aku lalai tidak check prakiraan cuaca, maka kamipun terjebak dibadai salju dasyat ketika mulai memasuki Nagano. Nagano memang salah satu daerah dingin diJepang, suhunya bisa mendekati -10 dan salju selalu rajin turun.

Beginilah sisi kanan-kiri jalan ditengah Tol, dan kami sama-sama perdana berkendara ditengah Salju tepatnya badai salju.. 🙂

Sebelum memulai perjalanan ini, teman dikantor banyak yang khawatir dan mempertanyakan pengalaman kami berada ditengah salju. Partnerku dengan entengnya menjawab “i’ve been driving in the mud” maksudnya sih mau bilang “gw pernah nyetir dijalanan berlumpur bekas banjir”, tapi engga nemu kata yang tepat saat itu, dan ternyata beda banget lumpur dengan salju. Salju itu krenyes krenyes  rasanya klo baru turun, tapi kalau sudah mengendap, macem batu es didalam freezer kulkas, mesti dicongkel pake garpu klo mau diambil dari freezer. licin banget dan sangat berbahaya. Karena itu, untuk memasuki daerah bersalju, mobil harus menggunakan ban khusus atau menggunakan rantai yang dililitkan diseputaran ban mobil.

ini fotonya engga begitu jelas, karena memang sambil jalan dan semua gambar aku ambil hanya menggunakan camera iPhone. Itu bapak sedang nge-check ban semua mobil yang akan masuk tol, apakah menggunakan ban salju atau rantai.

Karena badai salju lumayan kencang, semua mobil berjalan lambat dan kami pun kesulitan melihat penunjuk jalan untuk keluar dari area tol. Dan akhirnya kamipun tidak bisa check-in dihotel.. 😦

Ini Parkir Area, kami berhenti hanya untuk buang air kecil saja. Semua tertutup salju, dan membuat suasana cukup mencekam.

Kami terus melanjutkan perjalanan menuju Ishikawa. Ishikawa berada di prefektur Kanagawa, tempat tujuan kami adalah asrama pemagang yang bekerja sebagai pelaut. Mereka pergi berlayar selama 3 bulan dan berada didaratan hanya 1 bulan, karena itu kami memutuskan untuk mendatangi mereka, mumpung mereka sedang ada didaratan. Sebenernya ada 1 orang lagi partner kami, beliau sudah puluhan tahun berada di Jepang dan cukup berpengalaman, tapi pada hari H beliau ada urusan mendadak jadi terpaksa hanya kami berdua yang  tidak memiliki pengalaman di daerah bersalju.

Jarak pandang semakin pendek, partner ku menempelkan dadanya ke stir mobil supaya wajahnya bisa lebih dekat ke kaca untuk bisa melihat jalanan dengan jelas. Saat itu suasana cukup tegang, kami sama-sama belum punya pengalaman di tengah badai salju. Tidak lama kemudian wiper mobil berhenti bergerak, karena airnya membeku dan membuat wiperpun sulit bergerak. Kami pun panik, berusaha mecari rest area supaya bisa membersihkan wiper tersebut.

di Rest area, saljunya cukup tebal dan tidak ada orang yang masuk kedalam rest area ini, karena saljunya masih rapih tidak ada jejak ban mobil atau telapak kaki. Hanya kami di rest area tersebut. Cukup mencekam saat itu. ditengah guyuran salju, kami berdua membersihkan wiper yang membeku. Pengalaman yang sungguh sangat berharga..

Setelah kami pikir cukup bersih dari salju yang membeku, kami pun segera keluar dari tempat itu. Dan sedikit demi sedikit gerakan wiper pun kembali melambat, kami segera memutuskan untuk mencari tempat bermalam, karena perjalanan ini cukup membahayakan.

mw2-4
Semua mobil yang akan memasuki Tol dicheck, apakah sudah menggunakan ban salju/rantai

Akhirnya kami menemukan Service Area yang cukup ramai diisi oleh beberapa truk dan mobil yang sedang beristirahat. Kami pun memutuskan untuk bermalam di Service Area tersebut. Badai salju belum juga reda, karena semua mobil di Jepang atau semua mobil didaerah yang memiliki musim dingin dilengkapi dengan penghangat udara, jadi kami bisa tidur dengan hangat. Tapi, penghangat ruangan itu sebenarnya tidak selalu nyaman, itu membuat suhu udara hangat tapi membuat kulit kita kering, juga tenggorokan. Karena itu kami selalu menyediakan handuk basah didekat mesin penghangat, agar ruangan tetap terjaga kelembapannya.

mw3-4
Seorang pekerja sedang membuka jalan masuk ketokonya, karena tertutup salju

Beginilah penampakan Service Area tempat kami memutuskan untuk bermalam. Dan pagi harinya aku cukup mencuci muka dan sikat gigi saja di toilet umum yang ada di SA, oya hampir semua toilet di pitstop di Jepang sangat sangat bersih dan bagus.

mw3
Beberapa truk sedang beristirahat

Setelah sarapan onigiri dan minum kopi, kami pun melanjutkan perjalanan.

Berikut ini foto-foto perjalanan kami menuju asrama kenshusei.

mw3-2

Setelah melewati jalanan pinggir laut, kami mulai memasuki jalanan berbukit. Jalanan ini lebih menegangkan lagi, karena jalanan terbagi dua arah dan hanya bisa dilewati dua mobil saja. Jalanan yang bisa dibilang sempit dan diapit bukit yang tertutup salju dikanan-kiri.

mw3-3
Memasuki jalan ditengah bukit

Garis kuning yang membelah jalan menjadi dua ruas itu menggambarkan garis batas jalan dan TIDAK BOLEH jalan melewati garis kuning tersebut. Ketika berada dibelakang mobil yang menurut kita jalannya sangat lambat, kita pasti ingin mendahului dengan cara menyalip dari arah kanan. Apabila kita melakukan itu, dan itu berarti akan melewati garis kuning tersebut, maka kita dipastikan melanggar peraturan lalu lintas. Oya, sepanjang perjalanan ini, partner ku yang mengendarai mobil dan aku tugasnya jadi co-pilot.. hehehe.. aku tidak punya SIM Jepang, karena memang di Indonesia juga aku tidak pernah lulus ujian SIM.. :p

Partnerku selalu mematuhi semua peraturan lalulintas, bukan karena doi pernah bekerja dibidang hukum, tapi karena doi takut klo ketangkep nanti engga bisa nge-les ato jelasin apapun, karena kan engga bisa Bahasa Jepang.. :p

Balik lagi kegaris kuning, sepanjang perjalanan bermobil, aku belum pernah menemukan orang yang melanggar garis kuning. Ternyata, setelah dua tahun aku menjalani pekerjaan marketing, satu hari aku pernah nonton sebuah acara TV (TV Jepang), ternyata di atas jalanan itu ada helikopter polisi yang memantau semua pengguna jalan. Jadi klo sampe ada yang melanggar garis kuning, polisi didalam helikopter langsung halo halo sama polisi yang ada dijalan, dan cuss si mobil dijegat dan ditilang. Dasyat bener.. selain itu, ditengah tol juga dipasang kamera CCTV yang memantau kecepatan semua pengguna jalan. Waw kaan tuh..

Dan setelah perjalanan 20 jam (sudah termasuk waktu istirahat dan tidur), kami tiba juga di daerah asrama para pelaut. Karena saat itu yang kepikiran cuma biar kerjaan cepet selesai, jadi engga sempet foto-foto keadaan sekitar. Kebayangkan dijalan aja saljunya setinggi itu, gimana diasrama mereka.  Sebelumnya, aku sempet masuk onsen dulu, pemandian air panas, klo kita di Indonesia sih seperti klo kita ke ciater gitu sih. Nah ini juga aku engga bisa ambil foto, karena dilarang.

Ketika masuk ke Onsen, didalam sana cuma ada 2 orang nenek-nenek. Mereka belum pernah liat orang asing selain di TV, tapikan aku bukan orang asing yang bule gitu, aku turunan betawi-dayak, kulit sawo mateng ranum keceh gitu, mata ya engga sipit tapi engga yg belo juga. Itu nenek-nenek heboh bener, dia bilang “mecha kawaine..” (cakep banget ya) ini aku beneran loh ya, bukan cerita bo`ongan, aku sendiripun kaget, langsung berkaca saat itu juga dikaca jendela yang banyak bintik-bintik uap air onsen-nya.. Mayanlah kamuflase dikit.. Mereka nanya aku mau kemana, dan ku jawab mau bertemu para kenshusei yang bekerja dikapal penangkap cumi, mereka heboh lagi.. Menurut mereka, anak-anak muda pekerja dari Indonesia itu orang-orang hebat, mereka sopan dan ramah serta rajin sekali membantu siapa aja yang butuh bantuan, bantuan disini itu lebih kedalam bentuk fisik ya. Seperti membantu mengangkat belanjaan para nenek yang habis belanja ditoko sayur, pokoknya yang model begitu deh.

Sebelum kita masuk ke kolam onsen, kita diwajibkan untuk mandi. Dan kita tidak boleh menggunakan pakaian selembarpun, kecuali handuk kecil. Di dalamnya itu ada beberapa kolam, kolam tersebut dibagi menurut suhu airnya, ada yang 40 derajat, ada yang 50 derajat.. Panas banget kan ya… tapi untuk suhu udara yang saat itu -5 derajat, itu sangat-sangat hangat. Selain kolam didalam ruangan, ada juga kolam yang berada diluar ruangan, biasanya disebut 露天風呂 (rotenburo). Engga berarti diluar ruangan bisa ditonton orang loh ya, tetep aja semuanya dikelilingi tembok tinggi, jadi aman dari orang-orang yang lalu lalang, cuma atapnya aja yang terbuka. Saat itu aku memutuskan untuk masuk kekolam yang berada diluar, pas banget salju rintik-rintik turun. Aku tidak bisa lupa betapa merasa bersyukur atas hidup ini, atas apa yang sudah kudapatkan, atas semua semua doa-doa seluruh keluargaku. Saat itu aku bener-bener melow dan terkagum-kagum atas keindahan yang Allah ciptakan..

Saking asiknya aku melepas lelah perjalanan panjang, sampe aku lupa klo ada partner yg lagi nungguin, doi engga suka onsen-an, aneh katanya. Pas aku balik, mukanya udah nyaris ijo, nahan kesel n kedinginan.. 😛

Setelah berasa segar, kami pun langsung menuju asrama para kenshusei. Kami dijamu dengan baik, mereka masak masakan Indonesia, pedes-enak-segar. Kami berada ditempat mereka sekitar 5jam, dan pada pukul 6 sore, kami pun mencari hotel untuk menginap satu malam sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

mw3-1

Mission Completed. Tokyo – Ishikawa.

_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s