Betapa Rasa Rindu itu Membuat Tenggorokan Terasa Tercekat.. 

Awal agustus 2016, papa saya divonis kanker paru-paru stadium 3. Dunia rasanya jungkir balik. Dan dimulailah episode penuh airmata dalam hidup kami sekeluarga.

Papa perokok hebat, kenapa hebat.?? Karena papa bisa merokok tanpa henti dan bisa menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Ketika saya dibangku kuliah, saya merasa muak melihat papa yang merokok macem knalpot bemo, ngebul terus. Hampir setiap hari saya marah-marah ke papa.

“Papa memangnya engga mau ya liat anak-anak ama nanti, papa engga mau gendong-gendong cucunya. Kalau sayang sama ama dan adik-adik, berhenti merokok doooong” kurang lebih begitulah omelan ke papa.

Dan alhamdulillah berhasil. Saya lupa tepatnya berapa tahun papa berhenti merokok, yang jelas sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, timbunan nikotin menampakan kekuatannya.

“Kenapa berhenti merokoknya pak..?” Tanya dokter edi sembari senyum-senyum. dokter edi itu dokter  yang menangani papa.

“Hahaha..” papa menjawab dengan tawa renyah

“Ibu, ini bapaknya lagi mulai nebok celengan, jadi ibu mesti banyak sabar ya mendampingi bapak. Dan buat bapak, yang kuat ya pak, jangan stress” dokter edi memberikan wejangan singkat.

Kami tidak terpikirkan apapun saat dokter edi berpesan, kami sekeluarga hanya berpikir bahwa papa sakit kanker, dan pasti sakit itu ada obatnya.

Minggu pertama, papa diberi resep pengurang rasa sakitnya, berupa tablet morfin, satu hari satu kali minum. Bertahan satu minggu saja, papa mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa. Dosis morfin pun ditambah, hingga akhirnya papa harus rawat inap di Rs. Dharmais karena selain sakit yang menyerang dada, papa pun mulai mengalami sesak napas.

20 agustus 2016.

Papa resmi dirawat di Rs. Dharmais. Hanya kamar dikelas 3 saja yang saat itu tersedia, maka papa pun dirawat dikamar yang diisi oleh 6 orang penderita kanker. Didalamnya Ada bermacam penderit kanker, kanker usus besar, ada kanker lambung, ada kanker anus, dan yang menyeramkan ada seorang penderita kanker getah bening yang sel kankernya sudah pecah diwajahnya. Wajahnya sudah tidak berbentuk. Ini deskripsi atau penggambaran yang umi dan adik saya berikan, karena memang saya tidak melihat langsung. Kira-kira seperti ini, Gusi dan giginya menonjol keluar dari mulutnya, hidung bagian kirinya bengkak dan nyaris menutupi mata kirinya. Jadi bentuk wajahnya sudah memprihatinkan.

Setelah 3 hari dikamar itu, akhirnya papa-umi melihat seorang pasien kanker meninggal dunia. Umi menghampiri tempat tidur pasien tersebut, dan dengan sukarela meminjamkan pundaknya untuk menopang sang istri yang menangis tersedu-sedu melihat suaminya sudah tidak bernyawa lagi. Tanpa bisa ditahan, umi pun ikut menangis. Ketika kembali ketempat papa, ternyata papa pun sedang menangis, kesedihan sangat dalam tergurat diwajahnya.

“Papa harus ikhlas ya, ikhlas se-ikhlas-ikhlasnya ya pah. Ini sebagai penggugur dosa-dosa papa, dan jangan pernah menyerah ya pah, anak-anak masih butuh kita”

“Mama jangan pernah ninggalin papah ya, jangan pernah ya mah”

“Iyaaa, insyaallah mama akan selalu menjaga papah, merawat papah, mama akan selalu menemani papah”

Percakapan ini entah sudah berapa kali umi ceritakan kepada kami anak-anaknya, kepada teman-temannya, kepada kerabat dan keluarga.

Setelah kejadian itu, kami anak-anaknya berusaha mencari solusi pindah kamar, karena memang papa dapet jatah kelas 2A dan atau kelas 1 dari asuransi kantornya. Tapi ternyata umi menolak untuk pindah kamar, karena satu pagi ada pasien pindahan dari kamar VIP, pasiennya anak laki-laki masih berumur awal 30-an, ibunya yang menemani. Si ibu pindah kelas karena dia bilang tadi malam dia melihat hantu berjalan dilorong, dia pikir suster, dia panggil tapi menghilang. Dan setelah itu dia terus mendengar langkah kaki yang terseok-seok. Wallahu a’lam bishawab..

Karena itu umi memilih tetap berada dikamar itu, tidur dilantai beralaskan kasur lipat. Allah SWT maha adil, umi diberikan kesehatan sempurna untuk selalu menemani belahan jiwanya.

Alhamdulillah, semua biaya pengobatan papa full cover dari asuransi tempat papa bekerja, kebayang kan klo harus bayar sendiri. Kanker itu penyakit yang amat sangat mahal biaya pengobatannya. Mulai dari proses pemeriksaan, harus mengeluarkan biaya tidak sedikit. Cityscan, MRI dan Petscan, itu merupakan tingkatan pemeriksaan untuk mengetahui sampai mana sel kanker menguasai tubuh si pasien. Dan biaya yang paling mahal adalah Rp. 12,000,000,- untuk sekali pemeriksaan Petscan. Untuk MRI sekitar Rp. 9,000,000,- dan untuk cityscan mungkin masih kisaran ratusan ribu rupiah. Itu belum pengobatan, baru pemeriksaan awal. Jadi saran saya, buat para perokok, kalian mesti banget punya banyak duit, karena biaya pengobatan akibat nikotin tidak murah..!! Ingat itu..!!

Hari-hari tanpa tidur terus dilalui papa. Ketika sel kanker mulai merajai tubuh papa, papa sudah tidak bisa lagi tidur terlentang, papa cuma bisa duduk dengan posisi badan menekuk kedepan, apabila papa berusaha menyenderkan badannya sedikit, maka dada akan tertarik kebelakang, dan itu akan menekan sel kanker yang sudah menempel ditulang dada, efeknya batuk yang tidak henti dan sesak nafas. Jadi, hari-hari papa dilalui dengan duduk, sebelah tangannya selalu terbuka, jari-jari jempolnya bergerak berirama menyentuh buku-buku jari yang lain. Kami menduga bahwa papa sedang dzikir, insyaallah kami tidak salah menduga.

Ketika sel kanker aktif, badan papa bergetar hebat, sampai-sampai membuat tempat tidurnya pun bergetar. Urat-urat dikepala bermunculan sebesar tambang, tegang dan kaku. Kesakitan luar biasa bisa kami saksikan. Satu hari saat video call, saya menyaksikan betapa papa sedang berjuang melawan rasa sakitnya.

“Papah sakit nak, sakit sekali ini”

“Sabar ya pah, istighfar pah. Kata suster wahyu kan papa harus tenang, meditasi dengan istighfar. Semoga ini penggugur dosa-dosa papah ya.. ama sayang papah”

Bijak sekali kata-kata saya, padahal saya menahan supaya air mata tidak keluar, mencoba setenang mungkin melihat kondisi papa. Setelah selesai videocall, saya pun mengambil wudhu, dan duduk diatas sajadah, entah saat itu sudah masuk waktu shalat atau belum, yang jelas saya mau menangis menumpahkan sesak dalam dada, saya ingin mengadu kepada pemilik seluruh alam raya ini, ingin bercerita pokoknya, sambil menangis di tempat yang benar.

Dan kejadian yang sama pun terjadi saat abang saya yang pertama videocall.

Sedikit info tentang keluarga saya, abang saya ada dua, yang pertama bekerja diperusahaan pengeboran minyak lepas pantai dan bertugas di daerah timur tengah. Saat papa sakit, abang saya ada di Qatar, dan ketika ada didarat saja, bisa menghubungi keluarga. Yang kedua bekerja di jakarta dan tinggal didaerah bekasi. Saya anak ketiga dan anak perempuan pertama, saya tinggal ditokyo bersama suami dan anak perempuan saya berumur 2tahun. Adik saya ada 3, semua perempuan. 2 dibekasi dan si bontot tinggal di tokyo bersama beberapa temannya di apartemen dekat dengan kampusnya.

Kembali kecerita papa. Karena papa pun menderita asma, maka sesak nafasnya dinetralkan terlebih dahulu, setelah itu baru akan masuk ketahap kemoterapi. Dulu, saya pikir kemoterapi itu dimasukin kedalam mesin semacam peti. Ternyata, kemoterapi itu diinfus, dan isi infusan itu bahan-bahan kimia yang bertugas menghancurkan semua sel, sel baik ataupun buruk, sel jahat maupun sel baik.

9 september 2016.

Jumat jam 1 pagi, kemoterapi dimulai. Pesan dokter dan para suster adalah papa harus makan, makan apa aja, yang penting makan banyak. Karena dengan makanan maka sel baru akan segera tumbuh dan badan papa segera segar. Kemoterapi berlangsung sekitar  3 jam. Dan alhamdulillah, papa tidak mengalami muntah-muntah seperti pasien lainnya. Hanya rasa mual yg dirasakan.

Kami sekeluarga memuji papa,

“Papa kereen, papa hebat.. insyaallah papa sembuh deh.. Papa kuat banget..”

pujian yang kami tujukan untuk membangun kepercayaan diri papa, keberanian papa. Lebih mirip memberikan semangat ke anak kecil.

Hari berikutnya, papa terlihat segar, meskipun masih lemas. Usaha keras untuk makan, tapi tetap jelas terlihat betapa sulitnya mengunyah dan menelan makanan. Hari minggu, papa latihan lepas oksigen, karena sudah diperbolehkan pulang maka papa mencoba lepas oksigen. Alhamdulillah lancar..

Tapi kami sepakat untuk menyiapkan oksigen tabung, menjaga kemungkinan terburuk. Adik saya menyiapkan sebuah tabung oksigen kecil yang bisa digunakan selama 4 jam non-stop.

Akhirnya hari yang ditunggupun tiba. Senin siang, setelah makan siang, papa pun pulang kerumah. Sepanjang jalan lepas oksigen. Awalnya papa masih bisa bertahan tanpa oksigen. Tapi begitu tiba dirumah, mulai lah kewalahan, nafas mulai sesak. Tabung Oksigen hanya bertahan 4 jam, sepanjang malam papa macam ikan kurang air, megap-megap sulit bernafas.

Hari berikutnya, setelah sholat subuh, umi keliling kerumah tetangga yang sekiranya punya tabung oksigen, dan alhamdulillah dapat pinjaman. Jam 9 pagi, adik saya pun langsung pergi membeli tabung oksigen yang lebih besar yang bisa bertahan selama 7 jam non-stop, plus satu lagi tabung kecil. Jadi kalau ditotal papa punya 3 buah tabung oksigen. Namun manusia hanya berusaha, Allah SWT lah yang menentukan.

13 september 2016,

Selasa, setelah maghrib, kesehatan papa menurun. Setelah kemo, papa memang buang buang air besar tidak henti, menurut dokter itu bagus karena membuang bahan kimia sisa kemo dalam tubuh. Dan harus diimbangi dengan makan. Tapi apa daya, papa minum aja harus pakai sendok kecil, dan itu pun keluar lagi.

Setelah sholat maghrib, papa berkata “papa capek, udah ya papa capek..”

Seiring dengan nafasnya yang berhenti setiap sepersekian detik.

Jam 1 pagi waktu Tokyo, saya ditelpon dan kami pun videocall. Saya lihat betapa papa saat itu benar-benar kacau, nafasnya tidak teratur. Setiap kali tarikan nafasnya, terlihat jelas semua perut dan dadanya mengempis, kemudian berhenti sepersekian detik. Umi terus mendampingi ditelinga kanan, dan tidak henti-hentinya menuntun takbir-tahmid. Pemandangan macam apa itu, saya panik. Saya marah, bingung, sedih.. pecah lah tangis saya malam itu.

“Pah, tunggu ama ya, besok ama cari tiket. Ama pulang. Tunggu ama ya pah” saya merengek, hati kecil saya berkata kalau papa ada diambang perpisahan.

Tanpa disangka, papa masih bisa menjawab dengan anggukan kepala.

Setengah jam kemudian ambulance datang dan papa dibawa ke rumah sakit terdekat.

14 september 2016

Jam 9 pagi waktu Tokyo, saya berusaha cari tiket pesawat, dan sayang sekali saya tidak mendapatkan tiket keberangkatan hari itu. Saya dapet tiket tanggal 15 september. Pasrah lah saya jadinya.

9.30 pagi waktu Tokyo, saya telpon umi menggunakan videocall, ternyata mereka sedang didalam mobil. Umi dan adik-adik berkumpul dan ada abang saya juga.

“Kata dokter eti, sel kanker papa nge-block tenggorokan papa, jadi papa engga bisa masuk makanan. Dikasih selang makanan lewat hidungpun dokter engga berani, takut kesenggol sel kankernya, nanti pendarahan dan papa tersiksa. Dokter juga bilang, kalau detak jantung papa melemah, dokter engga berani kasih kejut jantung, takut sel kanker papa pecah..” penjelasan adik saya penuh airmata dan suara terisak.

Disamping kanan, saya bisa lihat umi dengan jelas, menangis tersedu-sedu.

“Kita harus bagaimana, umi bingung”

“Mi, yang harus kita lakukan menuntun papa untuk bisa tetap mengingat ALLAH SWT. Kita bantu papa kalau memang papa harus meninggalkan kita, papa meninggal insyaallah khusnul khotimah”. Entah datang darimana ide untuk berkata-kata seperti itu, saya sendiri pun tidak pernah menyangka itu keluar dari mulut saya.

Mereka pun segera beranjak menuju ruang ICU dimana papa dirawat. Adik perempuan saya berencana akan menikah tanggal 6 november 2016, melihat kondisi papa, mereka berdua langsung berinisiatif melangsungkan akad nikah diruangan ICU, maka mereka bergerak cepat mencari izin dari pihak rumah sakit dan alhamdulillah diterima. Calon suaminya pun lanjut membeli mas kawin.

Umi terus mendampingi papa. Kondisi papa pun menurun perlahan,  tapi tetap sadarkan diri. Masih bisa menegur adik saya yang salah membaca surah yasin, ada tajwid yang salah dan papa spontan menoleh kearahnya dan menatap tajam. Kebiasaan papa yang tidak pernah berubah, papa selalu melakukan itu apabila kami salah melafalkan ayat-ayat alquran. Detak jantung turun secara perlahan, dan kamipun diberi waktu untuk berpamitan. Tidak ada kepanikan seperti dalam sinetron, semua begitu halus.

“Pah, kalau papah masih ada, papah kasih tanda sm mama coba” permintaan terakhir umi dibalas dengan jari telunjuk papa yang menekan ketelapak tangan umi, 2 kali tekanan.

Jam 6 sore waktu Tokyo, papa menghembuskan nafas terakhir. Indah, karena Allah SWT memberikan kami waktu untuk melihat saat-saat terakhir papa. Kami diberikan kenangan dimana papa kami tercinta pergi dengan tenang, tanpa tersedak atau tercekat, tanpa berteriak tapi berbisik, membisikan takbir untuk yang terakhir kalinya. Perlahan namun jelas. Indahnya..

Namun tetap rasa sakit menusuk dada kami, kenapa begitu cepat papa kami diambil.

“Ya allah, suami hamba rajin mengaji, sepanjang pernikahan kami, hamba tidak pernah melihat suami hamba mengisi waktu liburnya dengan acara lain selain mengaji. Tapi kenapa bukan panjang umur yang suami hamba dapat..” suara lirih umi, merintih melepaskan sesaknya.

“Mi, istighfar mi.. papa orang baik dan ALLAH selalu baik. Jangan meragukannya” lagi-lagi kata bijak keluar dari mulut saya. Yang padahal saya pun sangat tersiksa. Berpisah puluhan ribu meter, dan hanya bisa melihat melalui kamera. Tanpa bisa mengelus atau mencium papah. Sakit, teramat sakit.

Berbeda dengan si bontot, dia menangis meraung hebat, saya berusaha keras menenangkan, tapi gagal.

“Papah buka matanya pah, papah janji mau liat pipit wisuda. Papah..!”

“Mama, bangunin papah. Bangunin..! Jangan dikubur papah, jangan mah, jangan maaah.. pipit mau cium papah. Please mah, pipit mohon mah.. ” tangisan si bontot yang cuma bisa melihat jasad papanya melalui video camera.

Kami ber-4 melewatkan malam yang berat di Tokyo, hanya bisa menyaksikan saudara, kerabat dan tetangga yang datang bertakziah. Jasad papa begitu pucat, terlihat dingin, tapi terlihat tenang. Tidak ada lagi rasa sakit yang menghantam tubuhnya, mencoba menggugurkan ke Imanan kami sekeluarga, mencoba meracuni kami agar berpikir “kenapa kami, kenapa Papa kami, papa sudah berhenti merokok”

Tapi keikhlasan papa membuat kami tersadar bahwa ini adalah jalan papa menuju surga, INSYAALLAH..

15 september 2016

Jenazah papa dibawa ke Masjid dan dimandikan, bapak yang memandikan tak henti-henti mengucapkan kekagumannya, takbir dan tahmid terus beliau kumandangkan.

“Saya baru nih memandikan mayat yang sudah bermalam tapi masih lemas, masih luwes. Dan bersih bu, mayat bapak harum” entah itu benar-benar pujian atau hanya untuk menyenangkan kami sekeluarga. Hanya ALLAH yang mengetahui.

Perjalanan menuju pemakaman pun tidak pernah terduga. Ketika mobil jenazah tiba di depan komplek, ada sekitar 10 mobil menunggu, mereka ingin mengantarkan papa kami ketempat peristirahatan terakhir. Dan umi tidak bisa menghitung berapa banyak mobil yang ikut mengiringi.

Kami tinggal dibekasi, tapi papa asli betawi-pasar minggu. Dan kami sepakat mengembalikan jenazahnya ke tanah kelahirannya. Maka, iring-iringan pun menuju pasar minggu.

Banyak kebaikan yang kami terima ketika kami sedang berduka. Tidak terhitung berapa banyak orang yang kami kenal ataupun tidak pernah kami kenal sebelumnya memberikan pertolongan. Kebaikan dan kebaikan yang terus mengalir. Salah satu kebaikan yang tidak pernah kami bayangkan adalah dengan tiba-tiba mobil ambulance almarhum dikawal oleh polantas, dan jalan pun terbuka dengan sangat lancar. Kami mengagumi segala kebaikan mu ya ALLAH, sang pemilik alam raya ini.

Prosesi pemakaman yang syahdu, seolah awan menutupi sengatan matahari jam 12 siang itu. Awan memayungi jenazah papa, indahnya.. Subhanallah

Setelah pemakaman pun, berdatangan orang-orang yang tidak pernah kami kenal, mereka mengucapkan belasungkawa dan menceritakan kebaikan almarhum. Dari mulai pemulung sampah yang merasa sangat kehilangan, karena tanpa kami ketahui, almarhum selalu menjadwalkan untuk setiap pagi memberikan bantuan dalam berbagai bentuk. Tukang bubur ayam yang menitikkan air mata, dan hampir semua penjaja keliling dikomplek kami kenal dan sangat kehilangan. Belum lagi tetangga-tetangga yang merasa sangat merindukan suara adzhan almarhum, suara tilawah dan imam sholat berjamaah dimushola kecil dilingkungan tempat tinggal kami.

Betapa rasa rindu itu bisa membuat tenggorokan terasa tercekat.. Mengingat setiap senyumnya, sayup-sayup suara lantunan murotal yang selalu terngiang. Hampir tidak ada memory diotak saya tentang perjalanan wisata mengisi setiap weekend ataupun liburan sekolah, yang ada hanya memory menonton dan mendengar papa mengaji. Kegiatan rutin setiap weekend.

Aaah.. mengecup keningnya untuk yang terakhir kali saja saya tidak bisa..

Betapa rasa rindu itu bisa membuat tenggorokan terasa tercekat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s