Bayi pun Jago Antri loh..  

img_9685-1Mama mulai nge-blog soal parenting. Bukan sok tau, atau mau menggurui, cuma mau berbagi pengalaman aja..
Pasti udah sering banget kan denger soal budaya antrinya orang Jepang yang OK punya. Bukan berarti disini, engga ada orang yang serobot antrian loh ya, ada banget, tapiiiii dari 10 kasus antrian maksimal 3 kasus yang ada serobotannya. Ini pengalaman saya pribadi.
Aina, umurnya 2 tahun 1 bulan, anak ini jago banget ANTRI, entah gimana caranya guru-guru di daycare mengubah anak saya yang sebelum masuk daycare itu normalnya anak Indonesia ya, suka berantem rebutan mainan sama temennya sesama anak Indonesia, atau sama sepupunya ketika pulang ke Bekasi.
Kalau di Indonesia, hampir semua orangtua itu super baik dan super maklum, “engga apa-apa bu namanya juga anak kecil, wajar kalau nakal, wajar kalau berebutan mainan.”
Dan ketika saya berada disini, hampir tidak pernah saya melihat adanya pertengkaran perebutan mainan oleh anak-anak. LUAR BIASA.

Karena kenapaa..???

Mari saya ceritakan pengalaman saya yang akhirnya menjadi kesimpulan saya bagaimana mereka, para ibu-ibu atau guru-guru dijepang mendidik anak-anak mereka sedini mungkin.

Setelah aina saya titip di daycare kurang lebih setengah tahun, banyak perubahan yang membuat saya terharu dan bangga. Salah satunya adalah pemahaman aina soal antri.

Setiap kami bermain ketaman, aina mulai paham kalau ingin main perosotan, main naik-naik tangga harus antri dengan yang lain, harus jyunban. Awalnya saya bingung, bagaimana aina mengerti ya. Lama kelamaan saya paham, LINGKUNGAN dan Kegigihan untuk mengajarkan soal Antri kepada para bayi-bayi ini yang bicara saja mereka masih belum bisa.

Ketika ada satu anak menyerobot antrian, maka anak yang lain akan merasa heran atas tingkah laku si penyerobot. Tidak ada anak lain yang komplain, tapi tatapan aneh cukup membuat si pelaku merasa malu atas tingkah lakunya. Belum lagi si ibu-ayah yang dengan sigap memperingatkan “kamu harus antri, mundur sekarang juga..!!” Hampir seperti itulah kira-kira peringatan orangtua si anak. Setelah si anak berada dalam jangkauan sang orangtua, mereka langsung melakukan permintaan maaf, “gomennasai” dan kepala sianak dipaksa untuk menunduk, menandakan mereka sangat menyesal dan malu sudah menyerobot antrian. Kira-kira seperti itulah keadaan ditaman-taman diJepang.

Tidak pernah saya temui orangtua yang meminta dimaklumi kelakuan anaknya yang serobot sana-sini..

Bukan hanya ditaman, hampir disemua tempat-tempat umum yang ada anak-anaknya, pemandangan seperti itu ada.

Jadi, menyerebot antrian itu adalah salah satu tindakan yang tidak terpuji dan memalukan. Apalagi merebut mainan yang sedang digunakan temannya, itu kejahatan bagi anak-anak.

“Mama, bagaimana mungkin kakak tya bisa rebut mainan aku, padahal aku sudah antri untuk bisa main mainan itu..” kurang lebih seperti itu lah penggambaran aina saat mainannya direbut oleh kakak sepupunya.

Saya tidak menyalahkan keponakan apalagi kakak saya soal perebutan ini, dengan pengalaman tersebut, saya memperkenalkan budaya Antri pada anak-anak itu penting. Selain menjaga perdamaian rumah, juga menanamkan kedispilinan sejak dini. 😊

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s