保育参観=Berkunjung kesekolah aina

img_9912

Tanggal 24 november 2016 adalah Jadwal mama buat berkunjung ke daycare nya aina. Jadwal kegiatannya itu
9.30 : jalan-jalan ketaman

11.00 : makan siang

12.00 : aina tidur siang sedangkan mama interview sm walikelasnya aina

13.00 : interview soal alergi

Jadwal sudah tersusun rapih, tapi apa daya manusia hanya bisa berencana, ALLH SWT yang menentukan.

Pada hari yang ditentukan, salju turun dari jam 6 pagi dan semakin siang semakin deras. Jam 8.15 menit, kami keluar rumah, menuju parkiran sepeda, dan berjuang melawan derasnya salju yang turun.


Salju itu indah sekali kalau dilihat, tapi ketika berada ditengah salju, dinginnya luar biasa. Jari jerami menjadi kebas, dan sangat mudah tergores.

Persiapan menaiki sepeda lumayan memakan waktu kurang lebih 10 menit. Mamanya harus menggunakan jas hujan, sarung tangan dan tidak lupa sepatu boots anti air. Aina juga sama. Aina duduk dikursi depan, dan ditutupi dengan rain cover. Aina sendiri juga harus menggunakan jas hujan, boots anti air dan sarung tangan, plus selimut hangat yang digunakan untuk menutupi bagian perut hingga kaki. Kan kan kaaaan, persiapannya rempong..

Jam 8.45 pagi kami tiba di daycare. Perjalanan dari rumah ke daycare memakan waktu 15 menit bersepeda, tapi karena jalanan bersalju, maka saya memperlambat laju sepeda.

Aina masuk keruangan kelas seperti biasa, dan mama pun pamit.

Setelah itu, saya dibawa ke sebuah ruangan, dan disana ada lagi seorang mama yang anaknya satu kelas dengan aina. Jadwal kami sama, yaitu melihat kehidupan anak-anak kami di daycare. Kami pun menggunakan masker, kacamata hitam dan tutup kepala, serta epron, itu bertujuan agar anak-anak tidak mengenali mamanya.

Kalau yang sebelumnya, mereka pasti ikut anak-anak main ketaman, tapi karena hari itu turun salju, maka anak-anak bermain didalam kelas saja.

Hampir setiap hari aina dibawa ketaman, dan itu membuat aina mengenali alam lebih jago daripada mama-ayahnya. Buktinya adalah, setiap weekend kami sebisa mungkin membawa aina bermain ketaman, dan ditaman itulah aina mengajarkan kami tentang alam. Semua benda yang ditemui ditaman, aina mengetahui namanya dengan benar. Tidak terlewat serangga, karena memang kalau musim panas, anak-anak jepang dibiarkan bermain ditaman dan menangkap serangga.

Kembali ke kelas aina. Kegiatan diawali dengan waktu bebas, anak-anak mengeluarkan berbagai macam mainan, dan bermain. Hebatnya, tidak ada pertengkaran perebutan mainan, karena kenapa..??? Silahkan baca di cerita yang saya tulis sebelumnya 😅😜

Aina main puzzle yang isinya 4pcs, dan alhamdulillah doi bisa meskipun terus didampingi gurunya.

Jadi, satu kelas itu isinya 20 anak dengan range umur antara 1,5 tahun sampai 2,5 tahun dan ada 5 orang guru perempuan yang sudah sangat terlatih, mereka lulusan nursery school teacher. Perlu diingat, di Jepang, segala pekerjaan harus memiliki ijazah atau harus sekolah minimal les. Sampai tukang pasang AC pun wajib berijazah.

Saya dan mamanya teman aina terus menonton kegiatan anak-anak melalui jendela pembatas ruangan kelas dengan toilet. Sepanjang kami menonton, sepanjang itu pula toilet anak-anak dibersihkan. Sangat bersih..

Toilet terdiri dari tempat mencuci tangan mini, dan wc dengan ukuran mini pula.

Ruang kelas terbagi dua, dan dibatasi dengan tembok setinggi 150cm saja. Ruangan pertama diisi oleh anak-anak yang bermain boneka, puzzle dan beragam mainan edukasi. Dan ruangan yang lain, ada perosotan buatan, yang memang bisa dicopot dan disimpan, bukan perosotan permanen. Setelah bermain puzzle yang bertahan 2 kali acak, aina pun pindah bermain perosotan dengan beberapa anak laki-laki. Aina lebih menyukai kegiatan fisik, berlari, memanjat, dan melompat. Maka diruangan itulah aina terus berada. Hampir 1 jam aina bermain perosotan, benar-benar tidak terlihat lelah.

Setelah itu, guru yang lain menyiapkan kertas karton yang dibentangkan dan ditempel ditembok, kemudian ada 2 buah baskom berisi cat pewarna, yang satu berwarna hijau dan satunya lagi kuning. Anak-anakpun berlari dan dengan otomatis membuat garis mengantri, mereka memasukan kedua telapak tangan keatas cat kemudian “petan” (b.indonesia : plok) telapak tangannya mereka tempelkan keatas karton, dan ceplakan tangan-tangan mungil menghisi karton tersebut. Penuh tawa dan sangat menyenangkan menonton anak-anak kecil yang lucu.

Setelah selesai, seorang guru membunyikan seruling dan dengan cepat anak-anak berkumpul duduk mengitari sang guru. Dan mulailah sang guru bercerita sembari membunyikan serulingnya memainkan musik.

Bukan berarti tidak ada pertengkaran antara anak-anak, tetap ada pertengkaran namun tidak sering. Seperti perebutan mainan bisa diselesaikan dengan damai, perebutan duduk dekat ibu guru pun berakhir dengan romantis, yang padahal sebelumnya terjadi adu kaplok antara aina dan hayu-chan yang kemudian tertangkap tangan oleh ibu guru dan segera berdamai sambil keduanya menyatakan “gomen ne” (maaf ya).

Ketika jam menunjukan pukul 10.30, Seorang guru berbicara dengan suara lantangnya “ayooo siapa yang mau pipis ditoilet, sebelum makan siang” . Dan disusul oleh anak-anak yang berlari menyerbu sebuah keranjang berukuran 15cmx20cm yang sudah disekat-sekat dengan tali rapia menjadi 12 kotak, dan setiap kotak ada gambar yang menandakan itu adalah kepunyaan masing-masing anak. Contohnya, aina menyukai kucing, maka semua tempat untuk menyimpan barang-barang aina dilabeli gambar kucing. Begitupun kotak tersebut.

Disetiap kotak sudah dimasukan satu paket pakaian ganti setiap anak,dikemas dalam pelastik sederhana, yang setiap pagi selalu saya dan para orangtua isi. Paket itu berisi celana, kaos, kaos dalam dan diapers.

Setiap anak mengambil pelastik tersebut, mengeluarkan isinya. Baju dan celana dirapihkan dilantai, ternyata mereka berusaha memastikan bagian depan-belakang baju, selanjutnya mengantri di toilet. Tetap tugas ibu guru merapihkan bagian depan-belakang baju anak-anak yang berbaris dilantai.

Anak-anak pergi ketoilet,membuka celananya sendiri, buang air kecil, mereka flush sendiri, pakai tisue basah lap lap sendiri. Dan kemudian dibersihkan lagi oleh gurunya. Setelah itu mereka mengenakan celana. Semua mereka lakukan sendiri dan selalu diiringin pujian “pinter ya semua bisa melakukan sendiri..” kurang lebih seperti itu.

Setelah selesai, mereka menuju ruang bermain yang sudah disulap menjadi ruang makan. Meja kecil berkaki pendek serta kursi yang imut-imut berjajar rapih. Diatas meja sudah tersusun rapi epron dan saputangan basah yang digulung menyerupai risol. Dan ternyata setiap anak mengenali barangnya masing-masing. Tanpa ada keributan, mereka menempati tempat mereka masing-masing. “Luar biasa..” lagi-lagi saya tercengang melihat pemandangan ini.

Mereka makan bersama, sebelum makan mereka bersama-sama menangkupkan kedua tangan didepan dada sambil berseru “itadakimasu” yang artinya “mari makan. ”

Nah disini baru saya merasa aneh sekaligus sedih. Karena aina sudah hapal doa sebelum makan, tapi hanya bisa dilafalkan ketika makan bersama keluarganya saja, ketika disekolah, aina tidak pernah mengulang doa itu.

Mereka makan dengan sangat seru, ada yang menangis karena tidak mau makan sayuran tapi dibujuk dengan lembut oleh ibu gurunya, ada yang memamerkan kehebatannya mau makan sayur, ada yang berteriak minta minum lagi, ada yang menumpahkan air minum.

Pemandangan yang sangat langka bagi saya. Dulu waktu saya kecil, mana saya tahu soal “day care” yang saya tau hanya si mba yang bantuin umi masak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Setelah selesai makan, mereka membuka epronnya sendiri, dibentangkan diatas meja, meletakkan lap basah ditengah epron yang sudah digunakan untuk membersihkan tangan dan mulut, dan kemudian digulung bersamaan. Setelah itu dimasukan kedalam pelastik yang setiap pagi saya pasangkan disebuah kotak-kotak kecil dipojok ruangan kelas.

Setelah itu, mereka langsung menuju ruangan kelas yang telah disulap menjadi ruangan tidur, dimana telah berjajar kasur-kasur atau biasa disebut futon kecil yang empuk beserta selimut yang hangat.  Persiapan tidur pun kewajiban para orangtua menyetorkan setiap hari senin pagi dan dibawa kembali pulang pada hari jumat sore, dan begitu setiap minggunya.

Setelah itu, saya langsung menuju ruangan kelas yang lebih mirip kamar tidur, karena disana banyak tersusun rapih tempat tidur bayi-bayi.

Saya duduk dilantai beralaskan bantal kecil. Kalau pernah menonton film Jepang, mungkin bisa membayangkan bagaimana biasanya orang Jepang yang duduk beralaskan bantal, saling berhadapan yang ditengah dipisahkan sebuah meja kotak berkaki rendah.

Saya dan wali kelas aina berbincang-bincang tentang bagaimana kesan saya setelah melihat kegiatan aina pagi tadi, apakah ada saran yang ingin disampaikan. Saya tidak memiliki saran apapun, hanya sajaaaa, seandainya sebelum makan aina dituntun untuk membaca doa makan.. 😊

Perbincangan kami cukup singkat namun bermanfaat, serta menyenangkan..

Dan setelah selesai, saya pun meminta izin untuk membawa serta aina pulang, walaupun diluar masih badai salju, tapi saya tetap ingin segera berada dirumah, didalam selimut yang hangat.

Penuh perjuangan membawa aina masuk kedalam kursi disepedanya, kursinya memiliki cover yang bisa dibongkar-pasang. Seperti yang terlihat difoto, sepeda kami tertutup salju, dan saya harus menyingkirkan salju dari atas cover kursi aina terlebih dahulu, baru mengangkat dan mendudukkan aina.

Setelah selesai, saya pun harus berjuang menerjang salju yang cukup deras.

Perjalanan yang biasa ditempuh hanya dengan 10 menit, siang itu menjadi 30menit.. Tapi perjalanan yang cukup menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s