“Gomen ne aina chan.. “


Assalamualaikum para mamak-mamak dan para calon mamak.. cerita kali ini tentang pertengkaran sederhana ala anak-anak tetapi cukup membuat saya terpana.. cieee..

Kejadian ini terjadi minggu lalu, ketika saya menjemput aina pulang dari daycare-nya.

Saat itu di genkan banyak anak-anak yang sedang bersiap untuk pulang, dan mereka sibuk berusaha menggunakan kaos kaki dan sepatunya sendiri. Karena saat ini masih musim dingin, maka anak-anak juga sibuk mengenakan jaketnya sendiri, sarung tangan dan topi. Tidak ketinggalan aina, dia sibuk sendiri berusaha mengenakan semuanya sendiri “aina jibun de dekiru yo mama” (aina bisa sendiri mama)

Tidak jauh dari tempat aina duduk, ada teman sekelas aina bernama sana-chan yang juga sedang sibuk mengenakan atribut musim dinginnya. Dan mereka selesai diwaktu yang bersamaan. Tiba-tiba sana-chan menghampiri dan berkata,

“Aina chan, otete tsunagooo” (aina gandengan tangan yuk)

“Iya da.. sana-chan iranai” ( engga mau, engga butuh sana-chan) jawab aina dengan ketus. 

Kontan saja sana-chan menangis sedih, merasa ditolak. Saya langsung berusaha menenangkan sana-chan dan meminta maaf. 

“Gomen ne sana-chan, aina-chan warui ne..” (maaf ya sana-chan, aina tidak bagus ya) 

Dan mama sana-chan pun tertawa.

“Iiiyo sana-chan, mama to tsuide ne” ( engga apa-apa sana-chan, gandengan sama mama saja ya)

“Iya da, aina-chan to tsunagooo” sambil menangis sana-chan berusaha tetap ingin bergandengan tangan dengan aina.

“Aina, kenapa begitu, sana-chan kasian, aina melukai hatinya sana-chan” bujuk saya

“Aina gohan tabetai no mama” 

Ooo ternyata aina lapar dan ingin segera tiba dirumah. 

“Up up mama.. gohan yo mama” (gendong mama, mau makan nasi) 

Saya mengerti kenapa aina bersikap seperti itu. Segera saya gendong aina dan menjelaskan kepada sana-chan dan tidak lupa meminta maaf. 

Setelah itu saya bergegas membawa aina pulang. Dan sayapun lupa untuk membahas kejadian itu kembali.

Selang beberapa hari, kejadian yang sama berulang, diwaktu yang sama pula. Tetapi kali ini aina yang ingin bergandengan tangan dengan salah satu temannya, ik-kun.

“Ik-kun, o tete tsunagoo ne” 

“Iyada, achi itte..!” (engga mau, pergi sana..!)

Jawaban ik-kun pun melukai hati aina, aina segera berlari memeluk saya sambil menangis. 

“Engga apa-apa aina, aina gandengan tangan sm mama aja ya”

“Ik-kun dake yo mama..” (Sama ik-kun saja, mama)

“Aina ingat beberapa hari lalu, aina menolak sana-chan. Kanashii (sedih) kan jadinya. Makanya jangan tolak-tolak teman ya, harus baik sama teman” 

“Aina mau tsunogoo mama, ik-kun dake mama” aina tetep merengek meminta bergandengan tangan dengan ik-kun.

Tidak lama kemudian mama ik-kun datang sambil menggendong ik-kun dan melakukan hal yang sama seperti yang pernah saya lakukan. Meminta maaf dan menjelaskan alasan ik-kun menolak aina. Saya pun sangat mengerti.

Ketika tiba diparkiran sepeda, saya melihat ik-kun yang masih terus diajak bicara oleh mama nya. Tidak lama kemudian mereka menghampiri kami.

“Ayo ik-kun minta maaf sama aina-chan. Ik-kun sudah menyakiti hati aina chan” dengan lembut mama ik-kun berusaha membujuk supaya anaknya meminta maaf. Ik-kun dengan wajah sedih hanya menatap aina.

“Mama mengerti ik-kun lapar, tapi bukan alasan untuk berkata kasar kepada teman. Semakin cepat ik-kun meminta maaf, semakin cepat kita pulang untuk makan malam. Ayoo bilang gomen ne aina-chan”

“Gomen ne aina-chan. Boku warukatta ne” (maaf ya aina-chan, aku sudah bersikap buruk) dengan lembut ik-kun meminta maaf. 

“Iiyo.. ” jawab aina dengan riang

Dan kami pun bergegas pulang. 

Disepanjang perjalanan saya berpikir, saya merasa malu dengan sana-chan. Beberapa hari lalu, aina yang menyakiti temannya, hari ini aina yang disakiti, tapi penanganannya sangat berbeda. Betapa saya ibu yang sok kuat, mengambil tanggung jawab dan kewajiban aina. Seharusnya saya benar-benar memberitahukan aina bahwa aina bertanggung jawab dan wajib meminta maaf kepada sana-chan, apapun alasannya. Bukan malah saya rebut tanggung jawab itu dan menganggap remeh masalah ini. 

Kedepannya, akan banyak hal yang harus aina lakukan sendiri, dan saat itu mungkin saya sudah terlambat untuk memberikan tanggung jawab dan kewajiban yang harus aina pikul, lantaran saya terlalu serakah merebut tanggung jawab aina mulai dari sekarang. 

Aaah, malunya saya.. karena alasan aina lapar, dengan entengnya saya mewakili aina meminta maaf pada sana-chan.. 

Malam itu, sebelum tidur saya mengingatkan aina perihal sana-chan dan ik-kun. Saya berbicara pada anak umur 2 tahun yang selalu saya remehkan, saya pikir aina masih terlalu kecil untuk meminta maaf dan berperilaku selayaknya orang dewasa. Saya pikir aina sulit mengerti apa yang akan saya katakan, karena itu saya ambil jalan pintas mewakilinya. Tapi ternyata, jawaban anak 2 tahun ini membuat saya terharu 

“Iiyo mama, ashita sana-chan ni gomen ne suru ne” (ok mama, besok bilang maaf ke sana-chan” 

Alhamdulillah.. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s