Ikhlas..


Dari judulnya mungkin sederhana, tapi mengandung makna yang dalam bagi saya pribadi dan mungkin bagi umat muslim khususnya.

Satu waktu saya mengikuti kajian rutin Liqo yang diadakan oleh teman-teman saya sesama muslimah disini. Pembahasan saat itu adalah tentang Qada dan Qadar. Dan didalam pembahasan tersebut ada satu point yang sangat menyentuh dan membuat saya meneteskan air mata, yaitu pembahasan tentang Ikhlas.

Satu kalimat yang sangat membekas adalah “Ikhlas itu tidak di ucapkan, tapi dilakukan. Ke-ikhlasan seseorang itu dilihat ketika pada saat merespon benturan pertama kali”

Dengan penjelasan bahwa ketika seseorang menerima cobaan, sebagai contoh, ketika mendengar atau melihat orang tercinta kita menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya, respon pertama itu lah bisa menentukan apakah kita ikhlas atau masih harus terus mengingat bagaimana cara mempraktekan Ikhlas itu.

Dan air mata saya pun tak kuasa bergulir, jatuh perlahan tapi pasti, mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saya melihat melalui web camera, bagaimana umi merespon kepergian papa saya, belahan jiwanya.

Masih terekam dengan jelas, ketika saat terakhir nafas papa berhembus, tidak ada jeritan histeris keluar dari mulut umi, kalimat tasbih dan istighfar terus mengalir dari bibir umi, dan airmata pun bergulir halus membasahi pipinya. Umi perlahan menjauhi jenazah papa, berdiri memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, dan bibirnya terus melafadzkan kalimat indah, yang sangat dia yakini bisa membuat dirinya tenang.

Dan saya hanya bisa memandang umi dari balik kotak kecil gawai, berharap ada disana untuk memeluk umi. Baru beberapa saat kemudian datanglah adik saya yang langsung memeluk umi. Umi yang paling tenang diantara yang lain, betapa dia dengan segenap tenaganya, melepas laki-laki yang sangat dia cintai.

Ketika tiba dirumah, didalam kamar, umi pun menumpahkan kesedihannya, menangis mengeluarkan suaranya. Pecah lah sudah kesedihan yang selama ini disembunyikan, di tahan dan diredam.

Umi selalu berusaha ceria dan berusaha tegar didepan belahan jiwanya, sampai detik terakhirpun masih tetap dia lakukan. Umi mematuhi semua perintah papa untuk tidak menangis berlebihan, untuk mengikhlaskan papa apabila harus berpisah.

Dan saya baru mengerti atas sikap umi, kenapa umi begitu bisa menguasai dirinya saat itu, ternyata dia berusaha Ikhlas, berusaha sekuat tenaga menerapkan apa yang telah dipesankan papa, menerapkan apa yang sudah dia pelajari selama ini. Indahnya kisah cinta orang tua saya.

Mereka saling mencintai karena Allah yang mempersatukan mereka. Mereka saling mencintai dan hanya Allah yang bisa memisahkan mereka. Dan ketika detik terakhir mereka bersama pun, mereka tetap pasrah dan berusaha mempraktekkan “Ikhlas”.

Dan saya pun terus belajar agar ketika saat itu datang, saat dimana Ikhlas itu harus dipraktekan bukan diucapkan, saya bisa melakukan dengan baik.

Insyaallah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s