Sopan santun – tatakrama- manners

Saya ingin berbagi cerita beberapa hal yang pernah bahkan beberapa kali saya temui dan alami di perantauan ketika bertemu dengan para turis Indonesia. Kenapa cuma bahas turis indonesia..? Ya karena saya orang indonesia jadi Pe-de nya cuma membahas soal Indonesia.

Beberapa minggu yang lalu saya dan suami makan di sebuah restoran ramen halal didaerah ebisu Tokyo. Saat itu sudah pukul 2 siang, jam makan siang sudah lewat jadi restoran lumayan lengang. Hanya ada saya dan suami, serta satu keluarga turis Indonesia, ayah ibu dan dua orang anak perempuan yang kisaran umur 10 tahun dan 7 tahun dengan ditemani seorang mba tour guide. Tidak ada yang salah dari penampilan keluarga ini, sampai pada waktu mereka akan keluar dari restoran tersebut. Restoran ramen ini cukup kecil, dua lantai namun sangat sempit. Lantai satu adalah dapur dan counter untuk makan ramen yang hanya bisa di isi oleh 4 orang pelanggan saja. Lantai dua, berisi 3 meja kotak pendek tanpa kursi yang setiap mejanya bisa diisi 4 pelanggan, dan menikmati ramennya duduk bersila. Keluarga tersebut makan dilantai dua. Si mba tour guide duduk di counter lantai 1 berjajar dengan saya dan suami. Ketika keluarga tersebut turun dan bersiap untuk meninggalkan restoran, sang ibu mengeluarkan dua botol air mineral ukuran 500ml yang sudah kosong. Dan label air mineral itu produksi Indonesia, jadi pasti botol tersebut dibawa dari Indonesia. Tanpa basa basi, si ibu menuangkan air dari ceret restoran tersebut kedalam botol air mineralnya. Hingga dua botol air mineral tersebut terisi penuh. Setelah itu mereka meninggalkan restoran.

Saya dan suami merasa aneh, ko ya bisa mengambil air tanpa permisi terlebih dahulu, padahal si pelayan restoran ada didepan mereka. Pelayan restoran kebetulan orang Jepang, dan dari raut wajahnya pun menggambarkan rasa kaget. Saya rasa bukan masalah air yang habis diambil oleh si ibu, tapi lebih ke tata krama, sopan santun atau bahasa kerennya manners si ibu. Apa susahnya meminta izin terlebih dahulu kepada pelayannya.. saya tidak tau kalau diluaran sana mungkin ada yang berpikir “yailaaah air doang kaleee.. ribet amat” tapi bagi saya dan mungkin bagi kebanyakan orang yang berpikir soal sopan santun itu penting, akan merasa terganggu dengan sikap para tamu yang seenaknya bertingkah di negri orang lain.

Kasus lainnya yang pernah terjadi adalah disebuah restoran di Tokyo, saya dan teman saya kebetulan sedang makan disana berbarengan dengan serombongan keluarga turis Indonesia. Mereka membawa beberapa anak kecil sekitar umur 10 tahun – 13 tahun, anak-anak dibiarkan berlarian didalam restoran, yang padahal itu bisa membahayakan mereka sendiri serta mengganggu pelayan restoan ketika mereka membawakan makanan. Membahayakan adalah apabila si pelayan membawa sup atau ramen panas, kemudian tertabrak dengan si anak, terguyur badan si anak oleh kuah ramen, maka siapa yang akan disalahkan? Kami mencoba menjelaskan kepada orangtuanya bahwa bercanda didalam restoran itu mengganggu serta membahayakan, tapi yang kami terima malahan jawaban sinis sang orangtua “namanya juga anak-anak mba, ya gimana dong.. ”

Anak-anak memang belum tahu, tapikan tugas orangtua memberitahukan apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh anak-anak. Bagaimana harus bersikap dirumah dan ditempat umum.. ahhh sudahlah, saya letih dan deg-deg-an melihat adegan menegangkan tersebut. Belum lagi ada seorang bayi yang mungkin baru berumur satu tahun yang di dudukan diatas meja saji makanan, padahal sudah disediakan kursi bayi. Entahlah apa yang dipikiran keluarga ini, sopan santun yang macam apa yang sedang mereka ajarkan kepada anak-anak mereka.

Saya dan kawan saya merasa amat sangat tidak nyaman melihat pemandangan tersebut, dan teguran kamipun berakhir dengan tatapan sinis dari grup tersebut. Kamipun bersegera keluar dari restoran tersebut. Jadi silahkan pembaca simpulkan sendiri cerita pengalaman saya yang kedua ini.

Dan yang terakhir, pengalaman ini saya dengar dari mantan share house saya ketika zaman masih mahasiswi dulu yang baru saja berlibur ke Jepang bersama keluarganya beberapa waktu lalu. Kebetulan teman saya ada jadwal berlibur ke daerah shirakawago. Sebelum berangkat, mereka sudah mempersiapkan tiket kereta dan bus dengan baik. Ketika tiba di takayama stasiun, mereka pun segera bergegas menuju bus yang akan membawa mereka ke daerah tujuan wisata shirakawa go. Ketika naik kedalam bus, mereka berlima segera menelusuri jajaran kursi bus untuk mencocokan nomor kursi yang tertera ditiket mereka. Tapi diluar dugaan, nomor kursi yang sudah mereka pesan telah diduduki oleh seorang ibu, dan beberapa tas pun sudah diletakan diatas kursi-kursi yang lain. Teman saya menegur dengan bahasa inggris, karena berpikir mungkin si ibu ini turis dari negara asia timur selain Indonesia. Ternyata mereka adalah turis Indonesia, dan si ibu berkata

“Oo suami saya masih antri tiket mba, untuk 6 orang. Jadi saya tek-in dulu aja kursinya biar engga ditempatin orang”

Bingunglah teman saya ini harus komentar apa, karena kursi sudah diatur sesuai nomor dan si ibu masih berpikir sedang naik metro mini yang harus di tek-in terlebih dahulu. Akhirnya setelah dijelaskan dengan penuh hati-hati, maka si ibu pun bersedia memindahkan barangnya, serta turun dari bus menunggu suaminya yang sedang antri membeli tiket.

Sekian cerita pengalaman saya yang bisa saya bagikan. Semoga bisa menjadi tambahan materi untuk mendidik anak-anak kita semua.

Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s