kontra Sekolah IBU..

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca postingan salah satu pemimpin daerah soal angka perceraian didaerah yang beliau pimpin itu meningkat, dan beliau menggagas sekolah yang menyasar kepada kaum IBU saja. kontan para kaum ibu merasa tersinggung dengan gagasan tersebut. Pastinya kami merasa dilecehkan, karena seperti berkesan semua salah kami maka kami lah yang HARUS dididik dengan baik.

Tapi disatu sisi, saya cukup memahami bahwa rumah tangga itu, membutuhkan ibu yang “waras” maka rumah akan menjadi tentram. Ini pengalaman saya sebagai ibu rumah tangga yang tinggal jauh dari kampung halaman. Dimana tidak ada tukang pecel ayam ataupun nasi goreng abang abang penyelamat dikala letih tak bisa memasak untuk keluarga. Namun kewarasan ibu itu tergantung dengan peran sang ayah, apakah beliau mau turun kedapur menyingsingkan lengan kemeja membantu membereskan urusan cucian piring didapur sementara si ibu harus memberikan ASI ke bayinya. urusan mengurus anak-anak apalagi anak balita itu memang sulit digantikan pihak ketiga, karenanyalah urusan bersih-bersih rumah dan sejenisnya mohon di handle oleh para ayah.

Jadi menurut saya, daripada membuat sekolah ibu, lebih baik membuat sekolah untuk para orangtua. karena tidak semua laki laki dididik oleh ibu mereka untuk turun tangan membantu istrinya kelak, para ibu lebih fokus medidik anak laki laki mereka menjadi pencari nafkah yang ulung.

Saya akan bercerita pengalaman saya di Jepang, khususnya di kota Tokyo. Bagaimana peran ayah-bapak dalam proses kehamilan dan rumah tangga itu sangat penting. Ketika awal saya hamil anak pertama, saat itu suami masih di luar Jepang, sedang sidang tesis S2 yang tidak mungkin ditinggalkan demi mengurus saya yang sedang muntah-ngidam. Maka saya disini, dalam keadaan hamil muda, bergantung kepada teman-teman dekat saya. ketika awal menerima hasil bahwa saya positif hamil, pertanyaan pertama dari dokter saat itu adalah apakah janin ini mau dipertahankan atau digugurkan. Saat itu saya kaget luar biasa, apa mungkin ini pertanyaan yang masuk diakal dan normal, sementara dinegara saya aborsi itu sangat melanggar norma hukum, agama dan masyarakat. Setelah diberi penjelasan, si dokter ini lebih mengkhawatirkan nasib bayi kedepannya. apakah calon orangtua ini sudah siap secara mental dan juga finansial. apabila salah satunya dari faktor tersebut belum terpenuhi, maka dikhawatirkan si bayi kemungkinan besar akan ditelantarkan. Bagi saya, penjelasan tersebut masuk diakal, dimana di Indonesia banyak berita bayi yang dibuang, ditelantarkan atau bahkan dibunuh dengan keji. Naudzubillah

Setelah saya mengutarakan kesiapan saya untuk mempertahankan kandungan, maka berlanjut pada tahap selanjutnya. saya dan suami wajib mengikuti kelas mama-papa. Kandungan saya baru berumur 3 bulan, dan suami masih belum datang ke Jepang. Tapi klinik mewajibkan mama-papa ikut hadir dalam kelas ini. Dan dengan seijin suami saya, saya mengajak sahabat kami menggantikan posisi suami saya saat itu.. hehehe.. nakal ya..

Dikelas itu, pendidikan dipusatkan kepada para suami. Ada sekitar 6 pasang suami-istri, semua istrinya mengandung di trisemester pertama. Para istri teler, ada yang bolak-balik toilet, ada juga yang terus menggenggam kantong plastik kresek, salah satunya ya saya. Suami dibekali pengetahuan bahwa di fase ini, istri sedang tidak berdaya. Mereka harus sadar diri membantu pekerjaan rumah, dan membuatkan makanan bergizi untuk para istri. Satu yang membuat saya terkejut, sang bidan menekankan bahwa “puji selalu istri anda, besarkan hatinya, buat istri anda selalu bahagia”

Sayang sekali suami saya tidak hadir, tapi sahabat kami melaporkan semua pelajaran hari itu dengan detail. Ketika suami saya tiba di Tokyo, dia pun berusaha mempraktekannya.

Kelas selanjutnya adalah memasuki trisemester akhir, persiapan kelahiran. kelas ini juga sangat menarik. Disini, disediakan sebuah boneka replika bayi. Pasangan ditanya kemungkinan kelamin bayinya, dan diberikan boneka dengan kelamin yang sama. Bayi perempuan, maka replikanya pun boneka berkelamin perempuan. saya dan suami diajarkan bagaimana mengganti popok bayi, memakaikan baju dan menggendong.

Selain itu, para suami diajarkan bagaimana menangani istri pada saat kontraksi tiba. Nomor yang harus dihubungi, pertanyaan yang harus dijawab, tanda-tanda mau melahirkan seperti apa saja. Sangat detail.

Pada saat kontraksi hebat, apa yang harus dilakukan suami untuk meringankan rasa sakit istri. Pijatan dibagian mana, bagaimana memijatnya dan terpenting bagaimana menyikapi emosi istri pada saat kontraksi. Mungkin ibu-ibu yang sudah pernah merasakan melahirkan paham betul ya rasanya. Saya sih, saat itu sampai meremas lengan suami sekuat tenaga, dan beberapa kali berteriak kearah wajah suami karena dia  selalu bertanya “sakit apanya sayang, ini nya ya..” saya jawab “SEMUAAAAAAAA…!”

Setelah itu, ada momen dimana suami saya dipakaikan semacam rompi yang ada bulatan menyerupai perut dengan berat kurang lebih 10kg. Sebelumnya mereka diminta membuka sepatu, lalu naik keatas matras. Saat para suami menggunakan itu, bidan mengarahkan mereka untuk duduk bersila, tiduran terlentang, kemudian miring kearah kanan-kiri dan bangun dari tiduran tadi. Mereka kesulitan. lalu diminta menggunakan kaos kaki. Para suami pun tertawa, namun saya lihat sorotan mata suami saya penuh ungkapan minta maaf karena sebelum berangkat menuju kelas mama-papa, dia menolak membantu saya menggunting kuku kaki dengan alasan takut tergunting jari saya. Dan lagi-lagi sang bidan menekankan untuk membantu meringankan pekerjaan rumah, karena sang istri sangat membutuhkan bantuan para suami. fullsizeoutput_22b3fullsizeoutput_22ab

Diperjalan pulang, benar saja, dia meminta maaf atas penolakannya pagi tadi. Dia baru sadar bahwa membawa perut hamil itu jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan. Dia tau itu sulit, tapi setelah menggunakan rompi perut hamil, dia paham bahwa itu jauh lebih sulit. Terima kasih suamiku sayang.. cieeee

Tidak sampai disitu saja, setelah melahirkanpun, tetap ada pendidikan mama-papa. suami saya diminta ikut belajar memandikan bayi kami. Belajar memijat payudara saya untuk melancarkan ASI, dan takaran yang tepat untuk susu formula (apabila ingin memberikan sufor kepada bayi) serta cara mensterilakan botol susu bayi.

Ketika kehamilan anak kedua sayapun, kelas mama-papa tetap wajib kami ikuti. Dan isi materinya pun kurang lebih sama seperti anak kami yang pertama. Jadi bisa saya simpulkan kalau itu merupakan SOP di setiap klinik atau Rumah sakit bersalin di Jepang.

Saya merasakan dihargai disini, tidak melulu saya yang harus belajar atau sekolah. Tapi mereka mewajibkan para suami untuk ikut aktif membantu para istri.

Jadi menurut saya, sebaiknya tidak hanya kaum Ibu yang di sorot, tapi kaum ayahpun harus disertakan dalam kehidupan berumah tangga. Cerita saya hanya sebagian kecil dari kehidupan berumah tangga, tapi berdampak besar untuk kelangsungan hidup berumah tangga.

semoga cerita saya bermanfaat.
Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s