Emosi

Kali ini hanya ingin curhat, meluapkan isi hati yang sudah membuncah rasanya.

4 bulan sudah saya menjadi ibu dua anak. Ya ampun rasanya tak terlukiskan. Capek, kesal, sedih tapi juga bahagia yang tak terhingga.

Awalnya aina di daycare, tapi karena saya sok belagu, sok kuat, sok sempurna, maka saya turuti permintaan aina untuk berhenti daycare dan menghabiskan hari-hari kami dirumah bertiga.

Minggu pertama cukup menyenangkan, karena memang sejak umur 18 bulan aina sudah masuk daycare dan saya harus kembali bekerja. Tapi setelah itu, setiap hari bagaikan medan perang, dimana aina dan saya selalu ribut. Luka bekas operasi masih belum sembuh sempurna, rasa lelah di induksi selama 3 hari menjelang melahirkan pun masih tersisa, membuat saya cepat lelah dan frustasi tidak sanggup menahan amarah dan kesal.

Sekuat tenaga saya tahan amarah, apabila aina berulah. Sekuat itu pula rasa sakit menyerang dada, punggung dan pinggang.

Setiap jam tidur siang kenes, aina tidak mau jauh dari saya dan kenes. Maka aina pun ikut tiduran dikasur, tidak tidur. Melainkan bernyanyi, berguling atau apalah gerakannya yang membuat kenes sulit tertidur pulas.

Sesaat kenes bisa tertidur pulas, aina bangun dari kasur sambil melompat. Jutaaan kali saya mengingatkan untuk stop jumping, tapi sepertinya adrenalin dalam tubuh aina tidak bisa ditahan.

Maka saya pun berusaha untuk setiap hari membawa aina menghabiskan energinya, sekedar membawanya berbelanja atau sengaja ketaman, atau ketempat bermain anak. Tapi setelah itu, energi saya pun terkuras habis karena harus menggendong kenes yang mulai berat. Dan harus selalu siaga menjaga aina, karena memang dia selalu bergerak aktif.

Sampai suatu hari, saya meledak. Begitu suami tiba dirumah sepulang bekerja, sayapun berlari masuk kedalam toilet, seketika itu pula saya menangis kencang, menjerit dan tergugu. Meluapkan emosi yang membuncah.

Saya selalu berusaha sebisa mungkin untuk tidak membentak aina. Saya percaya satu bentakan akan memutuskan sinap otaknya. Jadi setiap dia melakukan kesalahan, saya langsung merendahkan badan dan berusaha menyamakan posisi wajah kami agar bisa bicara eye to eye. Saya tegaskan nada bicara dan berusaha menegangkan raut wajah agar aina tau saya sedang marah. Sebelumnya, saya selalu berhasil melakukan itu, tapi sekarang, saya tidak bisa menguasai emosi. Setiap kali aina melakukan kesalahan, rasanya ingin saya lahap anak itu bulat-bulat. Subhanallah.. sungguh saya sangat lemah..

Pernah dimalam lain, saya pukul telapak kaki aina bertubi-tubi, sepulang kami berbelanja. Alasannya memang cukup masuk diakal, ketika saya memarkirkan sepeda di supermarket, aina berlari dengan kencang menuju pintu masuk supermarket. Saya menggendong kenes dan tidak mungkin saya mengejar aina. Rasa khawatir berubah menjadi amarah. Setibanya dirumah, saya luapkan amarah saya, sambil berusaha terus istighfar.

Saya yakin banyak ibu-ibu diluar sana yang memiliki masalah yang sama dengan saya. Masalah “anger management”

Tak henti-hentinya saya memohon perlindungan.. Hanya kepada Mu lah ya Allah hamba berlindung dari segala amarah dan keburukan didunia serta akherat.

Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s