Apakah bisa meringankan luka lewat Tulisan..??(2)


Beri aku obat dan tuntun aku cara berdamai dengan masalalu ku. Stop melabeli “pendendam” dan pahamilah bahwa setiap orang sakit itu butuh obat, bukan komentar yang itu-itu saja. Terima kasih untuk salah satu komunitas wanita di Jepang yang sudah mengenalkan aku pada konsep

“its ok to..”
i choose “it’s OK to be NOT OK” its OK for me to share my past sufferings and showing that i`m not OK right now.

Setelah keluar dari perusahaan berbendera merah, aku bekerja di perusahaan digital marketing didaerah shibuya. Perusahaan itu cukup besar, karyawan yang non-Japanese bisa dihitung jari, sangat sedikit. Disini banyak sekali perbedaan dengan perusahaan sebelumnya. Cara kerjanya, budayanya. dan banyak lagi.

Disinilah aku mulai bisa melihat kebelakang dengan lebih tenang.

“oo ternyata selama ini aku kerjanya lebay ih..” itu yang akhirnya tercetus di benakku.

Dan rasa kecewa ku kepada perusahaan merah mulai berkurang dan lama-lama pudar. Aku bisa berdamai dengan masa laluku. Aku pernah bertemu dengan big boss perusahaan remittance merah, kami berpelukan hangat. Berbincang-bincang seperti biasa. Tidak ada dendam. Aku sangat menyadari bahwa sebagai pemimpin, mereka harus adil. Ada aturan-aturan yang harus mereka terapkan. Dan keputusanku keluar dari tempat itu adalah yang terbaik bagi kami semua.

Aku memutuskan untuk rehat dari dunia per-remittance-an, namun tetap saja beliau dan suamiku serta sahabat baik ku berkecimpung di dunia tersebut dan selalu menempatkan aku ditengah-tengah mereka. Aku tidak pernah lepas dari dunia itu.

Aku bahagia dengan dunia baruku. Tapi aku merasa ada yang hilang saat itu.

Aku tetap rutin memeriksakan kondisi ginjalku 3 bulan sekali. Kondisiku membaik.

Beliau dan team Indonesia bekerja di perusahaan remittance berbeda Biru. Perjanjian diawal adalah ingin menjadi mandiri. Mereka melakukan perjanjian dengan pihak perusahaan remittance Biru bahwa apabila team Indonesia mencapai angka sesuai kesepakatan, maka berhak untuk menjadi Agen perusahaan Biru. Artinya memiliki perusahaan sendiri dan mendapatkan izin untuk menjadi “penjual” produk perusahaan Biru itu.

Beliau sama sekali tidak bisa membaca ataupun menulis dalam bahasa Jepang, maka mendirikan perusahaan itu dilakukan oleh sahabat kami. Sahabat kami ini sangat pintar, kerjanya cakap dan cekatan, mendekati kata Sempurna, namun dia berbeda keyakinan dengan kami. Kami memanggilnya Koko.

Untuk membuat perusahaan, Koko harus bolak-balik mengurus perizinan yang artinya memerlukan biaya transport yang tidak sedikit. Aku pernah mengingatkan kepada beliau, bahwa transport itu harus jadi tanggung jawab bersama.

“namanya juga lagi merintis sept, ya harus modal lah. kan nanti juga Koko dapet saham dari perusahaan ini”

Beliau selalu mengingatkankan bahwa perusahaan ini adalah perusahaan bersama. suamiku bekerja disitu dan akan mendapatkan 15% porsi dari saham perusahaan, Koko 15% dan beliau itu 70%. Kalau diingat lagi, seharusnya kami sadar bahwa pembagian ini tidak adil. Yang bolak-balik mengurus perizinan dan mengeluarkan modal transport dari kantong sendiri hanya mendapatkan 15%.

Selain itu, ketika harus mengeluarkan dana untuk permodalan, beliau tidak mengeluarkan uang.

“kan kalian tau keluarga gw butuh uang di Indonesia, dapur gw dua. Jadi kalian aja ya, nanti gw ganti”

Suamiku dan Koko yang mengeluarkan dana modal. Tapi beliau yang akan mendapatkan saham 70%. Sungguh naif ya kami..

Koko berstatus single, maka dia lah yang paling punya uang diantara kami. Pengorbanan Koko tidak kecil. Lagi-lagi karena koko berbeda keyakinan dengan kami, dan itu akhirnya menjadi alasan untuk tidak menyukai Koko. Maka secara perlahan, beliau mulai membangun image Koko yang buruk. Aku sempat percaya dengan segala mulut busuknya, menempatkan Koko sebagai sosok berkeyakinan yang berbeda membuat tingkah lakunya sangat dekat dengan neraka. Tidak tahu cara menghormati orang yang lebih tua.

Suamiku orang yang paling netral, dia selalu memberikan pengertian kepadaku bahwa
“koko kan menganggap beliau seperti bapaknya sendiri, sejak SMP koko kehilangan papanya. ya wajar aja klo dia bertingkah manja. lagipula ini kan bukan pertama kali koko bertingkah begini. dibalik itu, Koko lah yang paling banyak berkorban untuk perusahaan ini.”

Tapi ternyata racun beliau mulai tajam, koko mulai tidak merasa nyaman bekerja diperusahaan itu. Di akhir tahun 2017 Koko mengundurkan diri dengan posisi perusahaan baru itu masih berhutang sekitar 500,000 JPY atau sekitar 60 juta rupiah kepada Koko.

Beliau mulai mengajak aku kembali untuk masuk keperusahaan itu, bergabung bersama dengan suamiku juga. kami akan bersama-sama di rumah maupun di kantor. Suamiku seperti keberatan, karena dia mulai tidak nyaman dengan tabiat beliau yang mulai terlihat arogan dan Bossy. Tapi suamiku juga seperti punya keyakinan bahwa aku bisa mematahkan sikap Bossy laki-laki paruh baya itu. Koko juga sangat keberatan, koko memintaku untuk berpikir lagi keputusan untuk kembali ke perusahaan dan bekerja dengan beliau.

Dari masukan mereka, aku mengambil keputusan bahwa

“ok, gw mau masuk ke perusahaan ini. gw rapihin urusan administrasi ini perusahaan tapi gaji gw itu 70% dari gaji pokok lo”

“lah berarti klo gaji gw 1juta yen, elo 700 ribu yen. Nah klo gaji lo sekarang digabung sm gaji suami lo, totalnya 1 juta yen dong. gede banget”

“kan gw sama suami sama-sama kerja, bukan numpang tidur disini, gimana sih. kan elo juga sm istri lo kerja, klo digabungin gajinya juga sama.. kok jadi iri sih”
“bukan iri sih, tapi ya serakah aja kyanya..”
“point serakahnya dimana..?”

Pembicaraan kami terhenti disitu. Perusahaan yang menjadi agen dari perusahaan remittance biru mulai berjalan. Angka transaksi yang disepakati telah mencapai target. Koko keluar dari perusahaan dan pindah ke perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pengadaan barang. Kami menyewa sebuah kantor kecil di jantung kota Tokyo. Income perusahaan masih terlalu kecil, maka suamiku menurunkan gajinya dan aku tetap berada di nominal 70% dari gaji pokok beliau.

Kami mulai merapihkan administrasi. Aku menghandle semua pekerjaan administrasi, dan menerima seorang mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jepang di Tokyo. Awalnya beliau keberatan karena mengingat kemampuan bahasa Jepang anak ini yang masih rendah, namun aku meyakinkan bahwa anak ini mau belajar dan anak yang baik, aku akan membimbing anak ini supaya bisa tangguh di dalam kantor maupun diluar, serta membuat target “harus lulus N2 apabila ingin mendapat visa kerja dari perusahaan ini”. Tapi apa daya, aku salah. Jiwa pejuang seseorang memang hal yang mahal dan sulit di temui. comfort zone sudah membuat sebagian orang berlindung dibalik kata “bersyukur”. Padahal masih banyak hal yang harus di raih diusia muda, agar kelak bisa menjadi mentor yang mumpuni demi anak-anak kelak.

Tapi itu pilihan hidup masing-masing, aku tidak ada hak untuk menghakimi. Point ku bercerita tentang sosok anak ini hanyalah untuk pandangan ku yang salah menilai jiwa pejuang seseorang.

Keuangan perusahaan juga aku handle. Account Bank untuk segala urusan keuangan aku yang pegang. Dan aku berkewajiban menyimpan dana untuk pembayaran pajak perdana perusahaan. Selang satu bulan kami pun menerima lagi satu karyawan. Berkebangsaan Jepang namun pernah tinggal di Indonesia, dan anak ini berkeyakina sama seperti kami. Lagi-lagi beliau menyinggung masalah koko yang berbeda keyakinan. Bahwa perusahaan ini hanya akan menerima yang se-iman saja. Aku mulai tidak nyaman dengan tingkah lakunya, kenapa baru sekarang dia bersikap rasis kepada Koko, kenapa dulu dia sangat menerima dan menyayangi koko..?

Dari sinilah pertengkaran demi pertengkaran muncul. Aku selalu berbeda pandangan dengan beliau. Aku dipandang seperti orang yang berbeda keyakinan dengan beliau. Aku terlalu moderat atau apalah itu istilahnya. aku tidak paham dan tidak ingin memahaminya.

1 Comment

  1. “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu!” [HR. al Bukhari]

    Berapa tahun Beliau menggeluti biz ini?
    Sebelumnya Beliau ini awam soal biz nya.

    Koko khilaf, lupa izin waktu keluar ke boss nya, Beliau bukan boss dia 😎

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s