Kekuatan Kami.. (kekuatan mama-ayah-aina-kenes)

Manusia berencana, Allah lah yang menentukan. Serapih apapun kami manusia berencana, namun tetap ketetapanNYA lah yang pasti dan tidak bisa ditawar apalagi di lawan.

Akhir tahun 2019 aku bersama kedua anakku aina-kenes kembali ke Tokyo, dan kami berkumpul kembali di apartemen kecil kami yang nyaman. Dari apartemen bisa terlihat langit yang sangat luas dan indah, salah satu caraku meredam stres dan penat adalah dengan melihat langit. Dan juga salah satu caraku untuk mengingat wajah almarhum Papa, karena aku selalu merasa dilangit itu ada Papa yang sedang melihat ku menjalani peranku sebagai seorang ibu dan istri.

Ekonomi kami belum stabil, pasca kebangkrutan kami yang membuat kami terpuruk berada di titik terendah dalam hidup kami. Tapi lagi-lagi kami bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kami dengan tulus, teman-teman yang tidak pernah pamrih dan sabar membantu kami melewati segala kesulitan ini.

Suami ku mendapatkan beberapa project yang alhamdulillah memberikan tambahan income yang bisa membantu mengatasi tagihan-tagihan yang terbengkalai. Suami ku masih bekerja di perusahaan Kirim uang yang berfokus pada pasar Nepal, dia membangun koridor Indonesia, dan kemudian tibalah saat nya untuk membuka pasarnya. Untuk marketing, akulah yang dirasa cocok untuk menempati posisi itu. Direktur dan pemilik perusahaan suamiku memang sudah mengenal kami sejak berada di remittance merah. Direkturnya sangat mengenalku sejak awal didunia marketing-remittance, dan selalu mendampingi aku dan suami dalam bidang pekerjaan ini. Suamiku hobi kutak-katik sistem dan per IT-an, maka dia tidak cocok berada di posisi marketer.

Project yang sedang suamiku kerjakan adalah pengiriman tenaga kerja ke Jepang dan import bahan makanan laut, alhamdulillah berjalan mulus, dan project itu juga di kerjakan bersama dengan perusahaan tempat suamiku bekerja saat itu. Karena mulai terjadi benturan bidang pekerjaan, si Direktur yang Jepang totok mengajak kami untuk meeting dan membicarakan pekerjaan ini. Meeting dilakukan di kantor suamiku dan aku membawa aina-kenes, karena memang tidak mungkin kami menitipkan anak-anak ini. Dengan keriwehan yang terjadi, meeting tetap bisa berjalan dengan lancar. Sang Direktur memintaku untuk kembali bekerja di perusahaan remittance si cepat ini dan mengembangkan pasar Indonesia, suami ku diminta memfokuskan project tenaga kerja dan import. Kami sepakat akan meminta bantuan keluarga dari Indonesia untuk membantu menjaga aina-kenes. Aku menyatakan keberatanku apabila kami berdua full diluar rumah sementara kenes dibawah pengawasan keluargaku saja tanpa orangtuanya, jadi aku mengajukan syarat jam kerja yang pendek supaya aku ada dirumah sebekum gelap. Namun si direktur memberikan pilihan suamiku bisa bekerja di rumah karena semua pekerjaan bisa di remote dan diperlukan dikantor apabila harus meeting saja atau urusan ketika harus menjemput barang dan para pekerja.
DEAL.. Suami dirumah dan aku ngantor sesuai jam normal.

Kami pun menyiapkan dokumen untuk mengundang keluarga agar bisa membantu menjaga anak-anak agar suamiku bisa fokus bekerja dirumah. Pembagian tugas pun kami lakukan, diskusi dengan aina pun lancar.

Qadarallah Corona menghajar dunia dengan hebat, hampir seluruh dunia di guncang oleh mahluk Allah yang tidak terlihat dengan mata telanjang namun bisa menumbangkan ratusan juta manusia di dunia ini.

Kiriman barang laut delay dan akhirnya berhenti total. Proses Visa ke Jepang ditutup, tenaga kerja tidak bisa berangkat ke Jepang, dan adikku tidak bisa mengurus Visa untuk datang ke Jepang.

Plan B pun kami bahas, dan kami bentangkan rencana-rencana apabila project-project ini gagal, aku harus fokus dengan pekerjaanku di perusahaan si Cepat, target-target segera kami pasang, dan kami petakan cara menuju target yang telah dibuat. Kami bagi tanggung jawab seluruhnya. Bagi kami berdua, kewajiban dalam menafkahi anak-anak adalah tanggung jawab berdua, bukan cuma suamiku. dan Tanggung jawab mengurus rumah serta anak-anak bukan cuma tanggung jawab aku sebagai istri, tapi suamiku juga memiliki kewajiban yang sama.

Sebelum berangkat kerja aku siapkan makanan untuk anak-anak dan suami. Suamiku membereskan rumah dan cucian. Setiap pagi, aku ajak anak-anakku bicara, aku jelaskan keadaan ini bahwa mama sekarang yang harus mencari uang dan ayah yang dirumah. Tapi ayah juga ada pekerjaan dirumah selain mengurus rumah dan menemani aina-kenes main, ayah harus selalu memberikan laporan dan ada project kecil juga yang baru dikerjakan. Jadi kita sebagai keluarga harus selalu saling memahami.

Awal-awal sangat berat semua ini aku jalani. Ketika pulang kerja aku harus mampir belanja bahan makanan dan harus cepat-cepat pulang karena pasukan belum makan malam. Tiba dirumah aku langsung membersihkan badan dan memasak makan malam. Rumah yang berantakan dan pakaian anak-anak yang tidak sedap dipandang mata membuat tumpukan stress di otakku. Aku paham bahwa aku harus berdamai dengan keadaan ini. Aku tidak pernah mengungkapkan hal ini kepada suamiku. Karena aku tahu rasanya berada dirumah. Corona membuat sekolah aina diliburkan dan ada anjuran untuk tidak keluar rumah, padahal anak-anak harus dibawa ketaman utnuk menghabiskan energi mereka, maka bisa dipastikan seharian penuh anak-anak dirumah menimbulkan banyak keributan.

Semua complaint tentang suamiku kutumpahkan ke tiga orang sahabatku di grup WA, kepada mereka aku percaya bahwa karena Allah-lah mereka mau menjaga segala keluhanku tetap aman.

Wajah suamiku juga terlihat sangat lelah, dia pastinya menahan emosi seharian dan mengerjakan project animasi dimalam hari ketika aku dan anak-anak sudah terlelap.

Aku tidak sampai hati untuk berkomentar tentang segala kekacauan rumah. Setiap pagi sebelum berangkat kekantor, kucium tangan suamiku, kupeluk erat tubuhnya dan berharap segala rasa cinta didadaku bisa masuk kedadanya dan bisa membuat hati kami lebih kuat bersatu. Tak lupa selalu kusampaikan kata
“Terima kasih ya..”
aku selalu berterima kasih atas apa yang sudah suamiku lakukan demi aku dan anak-anak kami. aku selalu berterima kasih atas kesabarannya mendampingiku yang selalu cerewet dan marah-marah. Aku berterima kasih dan bersyukur kepada Allah yang selalu melembutkan hati kami berdua untuk bisa melalui situasi tersulit kami tanpa harus bertengkar saling memaki.

Suamiku mulai menyadari bahwa aku sangat lelah kalau harus memasak pagi dan malam hari. Maka dia pun mulai berusaha membuat masakan mudah untuk aina-kenes. Setiap hari dia mulai bertanya resep membuat tumis sayur bayam-tumis sayur toge, membuat ayam ungkeb dan banyak masakan lainnya. Makin hari tugasku makin ringan. Suamiku mulai bisa mengatur waktu mengurus anak-anak dan rumah serta memasak. Aku fokus dengan pekerjaan kantor, berbelanja dan juga memasak makan pagi dan siang.

“bikin buku resep buat aku dong” pinta suami suatu hari
“ya bikin aja sendiri, kan sudah aku kasih infonya tiap hari, kamu kumpulin aja”
“bikin buku resep ayah aja ya judulnya, seru kali ya..”
“iya coba aja, kan pasti ada lah para ayah yang sama seperti kamu, bekerja dari rumah dan mau engga mau sembari ngurus anak-anak” dukung ku

Apapun kesulitan yang ada, dan seberat apapun cobaan yang sedang kami hadapi, kami yakin bahwa itu cara Allah menyayangi keluarga kami. Membuat kami semakin kuat dan saling menguatkan, membuat kami makin erat berpegangan tangan, dan membuat kami yakin bahwa karena Allah percaya kami bisa melalui ini semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s