Kebaikan Beliau (1)

Rasanya tidak adil kalau aku hanya menceritakan keburukan beliau. Padahal karena beliau lah aku bisa punya kepercayaan diri untuk bisa berbicara di depan orang banyak. Karena beliau jugalah aku jadi lebih sigap dan cekatan. Bagaimana tidak, beliau selalu memberikan perintah tanpa memberikan cara menuju target yang di perintahkan, dan selalu memberikan tenggat waktu yang hanya beliau dan Tuhan tahu alasannya kenapa selalu memberikan target macem orang mau melahirkan, “HARUS SEKARANG..!!”

Beliau pernah bekerja di industri penerbangan, dan itulah kebanggaan beliau. Dari beliau aku belajar bagaimana membuat daftar pekerjaan, karena waktu bekerja di bidang penerbangan, beliau harus terikat dengan semua daftar pekerjaan, dan membentuk beliau menjadi pribadi yang disiplin. Ku akui, dari beliau pulalah aku belajar disiplin.

Pertama kali kami akan pergi keluar kota, kami membuat daftar apa saja yang harus kami bawa selama perjalanan tersebut. Dan semakin sering kami pergi keluar kota maka makin banyak juga barang yang masuk daftar untuk kami bawa, sampai sampai kami membawa futon. Pernah kami seminggu berkeliling daerah Kansai, meliputi osaka-hyogo-mie. Dan kami berpindah-pindah tempat. Calon customer kami hampir semua pekerja, jadi mereka ada di apartemen atau di asrama itu setelah mereka selesai bekerja dan biasanya setelah jam 7 malam. Siang kami bekerja di mobil atau di kamar hotel, malamnya kami keluyuran. Kami bertiga, tapi ditengah perjalanan salah satu team kami harus kembali ke Tokyo, sisanya hanya kami berdua.

Aku sangat jarang melihat beliau ketiduran, atau tertidur karena lelah, staminanya sangat bagus. Tapi aku, sering sekali ketiduran di mobil atau ditempat dimana aku bisa tidur. Dan beliau selalu menjagaku. Makin lama, aku semakin merasa aman berada disampin beliau. Kapanpun aku merasa lelah, aku nyaman untuk tidur dimobil, hilang sudah rasa sungkan ku, entah karena terlalu lelah atau aku sudah mempercayai beliau.

Kedekatan kami bukan cuma sekedar atasan-bawahan atau senior-junior. Tapi keluargaku pun sudah kenal dengan beliau. Ketika almarhum papa kunjungan kerja ke Jepang selama 3 hari, beliau lah yang menemani. Begitu pula ketika ummi dan ibu mertuaku ke Jepang, beliau pula lah yang menemani jalan-jalan sementara aku bekerja di kantor. Tidak pernah terpikir silaturahmi kami akan berakhir seperti ini.

Banyak kejadian lucu yang aku lewati bersama beliau. Salah satunya ketika kami tidak bisa masuk kekamar hotel karena aku salah memasukan tanggal check-in, dan kami berakhir di parkiran umum. Aku tak kuat menahan kantuk, dan aku tertidur didalam mobil, beliau meringkuk dibalik kemudi yang membuat pinggang dan kakinya sakit keesokan hari nya. Belum lagi aku beberapa kali salah memasukan alamat di GPS, dan kami menghabiskan waktu berjam-jam berputar-putar disatu kota tanpa sadar kalau kami sebenarnya salah jalan. Kami tidak selalu berdua, terkadang ada team dari negara lain yang ikut marketing, tapi tetap saja load pekerjaanku tidak berubah, karena beliau hanya bisa berbahasa Indonesia.

Ada satu kejadian lucu yang selalu membuatku tersenyum apabila mengingatnya. Saat itu bulan Juli, ketika musim panas di Jepang baru dimulai. Kami mendapatkan kabar bahwa ada sekitar 100 orang lebih perawat Indonesia datang ke Jepang untuk mengikuti program G to G antara Jepang dan Indonesia. Mereka masuk ke asrama yang ada di Osaka, dan kami pun langsung memutuskan untuk mendatangi mereka.

Seperti biasa perjalaan kami lakukan menggunakan mobil. Dari Tokyo berangkat siang hari dan tiba di tempat tujuan sekitar jam 8 malam. Salah satu perawat yang jadi penghubung kami dengan teman-teman perawat didalam asrama tersebut mengundang kami masuk keruang duduk di asrama. Asramanya cukup besar, dan ada receptionist di pintu masuk. Karena kami dijemput diparkiran mobil, maka kami tidak mampir lagi ke receptionist melainkan melenggang masuk kedalam, ternyata itu menyalahi aturan. Tidak butuh waktu lama, para penghuni asrama langsung mengerubuti kami dan ingin mendaftarkan dirinya menjadi member remittance merah. Keributan pun terjadi, kami langsung di panggil oleh kepala asrama dan beberapa staff asrama yang semuanya orang Jepang. Mereka mengatakan keberatannya akan kehadiran kami, mereka meminta kami menunjukan surat tugas. Karena kami belum pernah mendapatkan keluhan atas kedatangan kami, maka kami belum pernah juga membawa ataupun dibuatkan surat tugas oleh pihak kantor. Kami berangkat kapanpun ada undangan, tanpa pernah kami pikirkan masalah surat tugas. Tapi malam itu berbeda, kami menghadapi masalah besar, kami tidak bisa menunjukan surat tugas.

Pihak asrama sangat marah, dan mengancam untuk memanggil polisi karena kami lancang masuk ke area asrama tanpa meminta izin pihak mereka. Aku belajar etika berbisnis cara Jepang, jadi kurang lebih aku paham cara bicara mereka yang berbelit-belit menggunakan bahasa dengan tingkat kesopanan yang sangat tinggi namun berisi ancaman bahwa kami akan dilaporkan kepihak yang berwajib. Aku menyadari kesalahanku, aku terus-terus mengucapkan
“Hontoni mousiwake arimasen”
Dan pihak asrama tidak berhenti memberikan nasihat kepadaku.
Sembari terus meminta maaf, aku terus membungkukan badanku 45 derajat dan kadang sampai dengan 30 derajat. Aku konsentrasi mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut pimpinan asrama, namun tiba-tiba aku mendengar suara beliau menjawab
“sou desune.. sokka.. sokka..”
spontan aku menengok kearah beliau yang berdiri tepat disampingku. Dengan tangan dilipat di dada, beliau menimpali perkataan kepala asrama yang sedang setengah emosi menasihati kami bahwa kami melanggar aturan dan bisa saja mereka mengadukan kami ke pihak berwajib dan perusahaan kami akan mendapatkan masalah besar apabila kejadian ini sampai mereka adukan ke para wartawan.
“Bapak, nunduuk buruan..!”
“hah..buat apaan, emang kita ngapain pake nunduk segala”
“kita salah, kita engga punya surat tugas, dan engga minta izin masuk ke area orang. mereka mau lapor polisi”
“hah..!”
“nunduk buruan, bilang sumimasen gitu..!”
“hah..!”
akhirnya aku dorong punggung beliau dengan sekuat tenaga agar badannya membungkuk.
“ikutin aku aja udah, jangan hah.. hah. mulu.. diem mulut lo jangan ngomong apa-apa”

Akhirnya pihak asrama melepaskan kami dan mengurungkan niatnya untuk memanggil Polisi. Aku berhasil menjelaskan bahwa ini murni karena kesalahan kami. Sebagai sesama orang Indonesia, kami merasa bahwa menerima undangan lisan saja sudah cukup, tapi ternyata ada pihak-pihak yang harus kami mintakan izin. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi kami berdua. Malam itu kami bermalam di hotel dekat asrama, keesokan hari nya setelah sarapan pagi kami kembali ke Tokyo dan melaporkan kejadian ini.

Pihak kantor tidak marah, mereka menyadari bahwa mereka juga salah karena tidak memperhatikan point tentang surat tugas ini. Beberapa hari kemudian kami kembali lagi ke osaka, namun kali ini kami mengadakan acara Barbeque di taman dekat asrama para perawat, dan mengundang para perawat serta orang Indonesia yang ada di Osaka. Kami menyiapkan acara tersebut hanya berdua, mencari taman yang bisa digunakan untuk BBQ, membeli daging halal serta persiapan lainnya. Sungguh melelahkan. Ada sekitar 200 orang yang ikut serta dalam acara itu. Alhamdulillah kami sukses saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s