Kejadian bunuh diri di rel kereta

Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa angka bunuh diri di Jepang terbilang cukup tinggi. Tingkat stress membuat banyak orang mengakhiri hidupnya. Tapi banyak juga yang karena kecelakaan ketika menunggu kereta, seperti ketika mabuk berat sehingga hilang keseimbangan maka tidak sengaja terjatuh ke rel kereta dan tepat saat kereta datang.

Kejadian ini di musim dingin tahun 2014. Apartemen ku berada di pinggiran kota Tokyo, dan kantorku berada di Shinjyuku, perjalanan dari rumah kekantor memakan waktu 65 menit. Untuk mencapai stasiun terdekat dari apartemenku ada satu kereta cepat yang hanya sekitar 45 menit perjalanan karena hanya berhenti di stasiun besar saja, tapi selalu penuh sesak. Malam itu aku memilih menaiki kereta biasa, yang berhenti di hampir setiap stasiun. aku masuk di gerbong terdepan, tempat duduk terisi penuh dan aku memilih berdiri sambil bersandar di pintu kereta menghadap jalanan. Kereta berjalan melambat, terdengar suara masinis memberitahukan bahwa kereta memasuki stasiun higashi nakano, stasiun kedua dari shinjyuku. Tiba-tiba saja dari sudut mataku, aku bisa melihat bayangan hitam melayang dan diikuti suara jeritan histeris seorang wanita yang sedang berdiri didalam kereta dengan posisi menghadap kearah peron. Beberapa detik selanjutnya suara derit himpitan besi yang ditekan kencang memekakan telinga, dan aku merasakan kereta seperti menggilas gundukan, semacam polisi tidur. “Krek”

Kereta berhenti. Wanita yang menjerit langsung jongkok memeluk kedua kakinya, tidak ada yang berusaha menenangkannya, karena kami semua juga Shock..!!
Aku masih tidak mempercayai apa yang terjadi, apakah benar kali ini aku berada didalam kereta yang jadi pelampiasan orang-orang untuk mengakhiri hidupnya. Karena selama ini aku selalu berada diposisi calon penumpang yang harus berdesakan antri untuk naik kereta yang telat karena ada kecelakaan 自身事故[jisin jiko]-personal injury. Biasanya, efek kecelakaan ini akan menghambat jadwal kereta, dan membuat antrian panjang calon penumpang. Kereta akan kembali bisa beroperasi normal kalau mayat sudah diangkat dari rel kereta dan semua sudah dibersihkan. Tapi tetap saja kecelakaan ini akan mengacaukan jadwal kereta, bukan hanya satu rute saja, tapi banyak rute yang terhubung dengan kereta tersebut otomatis jadwalnya akan kacau.

Aku merasakan ada yang menonjok-nonjok kulit perutku dari dalam, diikuti rasa asam naik ketenggorokan mendesak ingin keluar dari mulutku. Kepalaku pusing, lututku lemas dan akupun ikut jongkok berusaha melindungi seluruh bagian tubuhku dengan kedua tanganku. Doa andalan langsung ku rapalkan, ayat kursi adalah doa andalanku. Aku selalu membacanya setiap kali aku merasa takut, gugup, sedih. Namun hampir kulupakan apabila aku sedang bergembira. 3 kali ku ulang ayat kursi. Dan aku mulai merasakan ketenangan, aku mulai bisa menguasai diriku. Ku raih minuman ocha dari dalam tas ku, kubuka tutup botolnya dan kuteguk isinya. kurasakan perlahan rasa asam turun kembali kelambungku, namun tonjokan kecil masih bisa kurasakan. Kulihat sekeliling, ada yang tenang dan tetap fokus dengan smartphonenya, ada juga beberapa orang yang wajahnya pucat. Suara-suara petugas terdengar jelas, dan juga suara jeritan sirine. Ada beberapa petugas masuk kedalam gerbongku, mengajak orang-orang yang wajahnya pucat keluar dari gerbong tersebut. Pintu digerbong tempat ku berada tidak bisa terbuka, karena ada bagian tubuh yang mengganjal sehingga pintu tidak bisa dibuka. Ternyata evakuasi penumpang didahulukan bagi orang-orang yang lemah. Petugas memeriksa setiap penumpang yang terlihat pucat dan lemah, maka mereka menggiring penumpang tersebut melewati beberapa gerbong dibelakang untuk menuju pintu gerbong yang bisa terbuka. seingatku, aku berada didalam gerbong cukup lama, sekitar 30 menit dari waktu hantaman terjadi.

Setelah merasa cukup kuat, aku kembali berdiri dan memberanikan diri melongok kearah ruang masinis, aku melihat kaca kereta retak. Betapa kencangnya hantaman tubuh orang tadi. Aku bergidik, membayangkan apa yang ada dibawah kakiku saat itu. Beruntung aku segera mendapat giliran untuk keluar dari gerbong itu. Setelah keluar dari gerbong, aku berlari mencari restoran untuk menghangatkan tubuh, karena semua kereta tidak beroperasi akibat kecelakaan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s