Kebaikan Beliau (2)

Beliau memerintahkan aku ini-itu. Mengarahkan aku begini dan begitu, alhamdulillah saat ini aku memiliki pengalaman hasil ini-itu dari beliau dan juga kenangan begini dan begitu. Hampir setiap melakukan kegiatan marketing, tugasku selain jadi co-pilot, aku juga harus memandu para calon customer mengisi formulir. Setelah itu aku juga yang harus memasukan data tersebut ke sistem dan langsung mencetak kartu ATM para customer di tempat. Seandainya data customer di bawa ke kantor dan belum di masukan kedalam sistem, maka ketika tiba di kantor aku harus segera memindahkan data tersebut kedalam kartu ATM ,dan selama kereta di Tokyo masih beroperasi, maka di WAJIBkan bagi ku untuk menyelesaikan data tersebut malam itu juga plus mengantarkan kartu ATM itu ke ekspedisi pengiriman yang berada sekitar 20 menit berjalan kaki dari kantor kami.

Pernah aku berlari dari kantor karena jam sudah menunjukan pukul 8.35 malam dan ekspedisi tutup pukul 9.00 malam. 25 menit waktu yang tersisa, aku khawatir terpotong lampu merah di ujung jalan, maka kuputuskan berlari menuju kantor ekspedisi. Padahal aku baru tiba di kantor jam 7 malam, tanpa istirahat aku lanjut untuk entry data dan mencetak kartu ATM. Awalnya aku meminta izin untuk mengirimkan kartu tersebut besok hari, tapi beliau tidak memberikan izin. Beliau mendampingiku melakukan pekerjaanku, duduk disampingku sambil menjawab pertanyaan customer yang datang di FB, beliau tidak meninggalkanku. Setia kan…
Tapi saat aku harus mengirimkan kartu ATM, beliau menungguku dikantor
“capek sept gw, elo aja ya yg kirim kartunya, gw tungguin dikantor”

Dengan bergegas aku keluar kantor, sambil berlari aku menangis dan mengumpat.
“lo pikir gw engga capek. lo pikir lo doang yang capek. lo pikir gw sepanjang jalan cuman molor, gw juga kerja di mobil bales balesin pertanyaan dari customer. gila banget gw punya boss kya lo”

Seandainya anda baca tulisan ini, mungkin masih ada sedikit rasa malu anda sudah memperlakukanku dengan keji.. ya kaleee masih punya hati gitu..

Namun dengan perlakuannya, aku merasa jadi lebih kuat, karena pengalaman tersebut membuat aku sadar bahwa aku punya kemampuan bekerja bersama Diktator..

Tidak jauh berbeda dengan nasibku, ada junior ku dikantor itu yang sering sekali aku lihat matanya sembab ketika baru masuk kantor dipagi hari. aku pikir dia habis bertengkar dengan pacarnya, ternyata dia sering menangis dimalam hari sebelum tidur karena siksaan beliau. Ketika semua berhenti dari perusahaan remittance merah, hanya junior kami yang tersisa, panggil saja sari (nama lengkapnya SARInem) dan Om J yang tersisa disitu. Hubungan kami masih baik malah sangat baik. Kami jadi sering berkumpul untuk makan bersama, dan saat itulah waktunya kami mentertawakan kebodohan kami yang berada dibawah kendalinya Voldemort.. beliau maksudnya.

“ooo jadi lo sering nangis sar klo malam, gw pikir berantem sm cowok lo”
“iya ada unsur berantem juga sama cowok ku sih kak. dia marah gara-gara aku bawa formulir pendaftaran yang buanyak bgt buat dilipetin dirumah, padahal kan aku pulang kerjanya juga udah malem banget. masa sampe rumah mesti ngelipetin formulir juga, mana engga dibayar lembur kan..” curhat si Sari ketika kami berkumpul pasca berhenti.

“lagian bukan ngomong. nangis doang bisanya lu” timpal koko
“mana aku berani ngomong..kan kakak juga sering nge buly aku”
“Read tiga” kokok menjawab, spontan kami semua tertawa terpingkal-pingkal.

Kami memiliki grup Line untuk koordinasi semua pekerjaan. Beliau orang yang paling aktif di grup tersebut memberikan tugas-pekerjaan-tugas-tugas-pekerjaan-arahan. Kami semua memiliki akses untuk masuk ke sistem yang isinya data seluruh customer. Apabila ada pertanyaan apapun mengenai transaksi maka WAJIB membuka sistem karena disitulah jawabannya. Tetapi beliau paling jarang membuka sistem lebih tepatnya paling malas, jadi pertanyaan apapun pasti dilemparkan ke grup dan HARUS SEGERA dan SECEPAT KILAT dijawab. Apabila ada pertanyaan dari beliau dan dalam hitungan 2 menit tidak ada yang menjawab, maka akan masuk lagi pesan berikutnya tentang jumlah berapa orang yang sudah membaca pesan tersebut. “Read dua”
Karena SARInem paling junior di tim kami, maka bagian dialah yang harus menjawab semua pertanyaan beliau.

Karena cerita itulah, joke tentang “Read dua.. Read tiga” jadi sangat populer diantara kami.

Di team kami, yang paling berani menentang beliau adalah aku. Kalau masih dalam lingkup pekerjaan, aku tidak akan melawan, tapi kalau sudah diluar pekerjaan, aku berani menyatakan sikapku. Di awal kami bekerjasama, aku selalu sibuk dengan laptop atau PC, dan beliau hampir selalu duduk disampingku dengan Smartphonenya, menjawab pertanyaan yang datang ke sosial media Perusahaan Merah.

“Sept, lo mau kopi engga..”
“mau lah klo ada..”
“enak nih sep klo di bikinin”
Kontan aku alihkan pandanganku dari layar komputer dan kutatap wajah beliau dengan tatapan tidak suka.
“memangnya bikin kopi masuk desk-job ku juga ya..!” jawabku ketus
“eh engga sih.. ya kali klo lo mau gitu bikinin”
“klo gitu kerjain kerjaan aku nih, sekarang..!”
“iya ya..gw aja yg bikin kopi ya..”
Semenjak saat itu, beliau tidak berani memintaku atau menyuruhku untuk membuatkan kopi.

Sebagai gantinya, beliau meminta Koko untuk membuatkan kopi untuknya.

“sar, kopi gw mana.. adukin dong..”pinta koko satu hari
“iniii kak.. ini uang aku buat kopi ya” sari meyodorkan uang 500 yen
“engga usah, ntar gw tagihnya di akherat aja”
“ih kak koko mah gitu.. najong”
“adukin aja kopi gw” tanpa melihat wajah sari, koko menyuruh sari
“Sejak kapan sari jadi tukang bikin kopi buat lo ko..!” timpalku dengan nada ketus khas ku
“ya engga kak, si sari yang mau..
“emamg lo mau sari ngadukin kopi koko terus”
sari terdiam, terlihat sari takut menjawab
“kak, kan beliau juga nyuruh gw klo mau bikin kopi, masa gw engga boleh sih minta tolong sari, kan sari junior gw”
bertepatan saat itu, beliau datang
“kopi gw mana ko..?” dengan nada ceria beliau bertanya
“Sejak kapan budaya minum kopi harus dibikinin sama junior. memang ada aturannya begitu..! Kopi itu bikin sendiri, jangan nyuruh-nyuruh orang. mulai sekarang Bapak tidak boleh suruh koko bikin kopi untuk bapak, koko, lo juga jangan siksa sari urusan beginian. awas lu pada.. sarap lu semua..!” bentak ku kepada mereka bertiga.
Mereka kembali ketempatnya masing-masing, tidak lama kemudian sari mengirimi ku pesan lewat LINE “arigatou kak septi”

Sedekat itu hubungan kami, karena kami sadar bahwa diperantauan ini kami saling bersaudara, saling memiliki dan saling membutuhkan, sampai tiba saatnya Uang merusak hubungan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s