Apakah bisa meringankan luka lewat Tulisan..??(3)

Ketika aku menulis ini, aku merasa dadaku sudah terasa lebih lapang, tidak ada yang mengganjal ketika aku bernafas. Aku bisa menghirup udara lebih ringan rasanya. Alhamdulillah..
Beberapakali bertemu dengan teman-teman di Jepang, dan mereka membaca tulisanku, mereka memberikan doa dan menguatkanku. Dan itu yang aku butuhkan. aku bahagia.
Jangan pernah bertanya siapa “beliau” ini, karena waktu yang akan menjawab sendiri. Aku tidak akan pernah menjawabnya.

Pada saat aku kembali keperusahaan yang menjadi agen dari remittance biru. Beliau selalu berkoar-koar bahwa perusahaan ini adalah satu-satunya perusahaan kirim uang milik orang Indonesia. Aku tidak setuju, karena sebenarnya kami hanya agen resmi yang menjual produk dari remittance berwarna biru yang dimiliki oleh orang Jepang.

“elo jangan koar-koar gitu kali.. si Biru kan bukan punya lo, punyanya Jepang”
“ya gpp, kan klo agennya punya gw”
“ya lo pake kata-kata agen resmi perusahaan biru. satu saat bisa jadi boomerang secara legalitas”
cukup sekian saja aku memperingatinya, dan sudah gugur tugasku untuk mengingatkan.

Di awal kerja di agen Biru itu, aku baru saja keguguran anak ke dua kami. Janin kami gugur di minggu ke 15, setelah aku berlari mengejar aina dan setelah tertangkap aku gendong aina. 15 menit kemudian aku merasakan perutku mulas, cukup sakit tapi masih bisa aku tahan. Setelah itu keluar flex darah sebesar biji jagung. satu minggu kemudian, aku periksakan kandunganku, dan hasilnya janin tidak berkembang, mereka meminta aku menunggu satu minggu agar bisa gugur secara natural tanpa obat-obatan apalagi di operasi. Alhamdulillah 2 hari kemudian keluar lah janin tersebut. Dan kembali aku periksakan ke dokter kandungan, hasilnya rahimku sudah bersih.

Dibulan pertama, kami melengkapi isi kantor. kantor yang berukuran sekitar 2m X 3m dan hanya mampu diisi oleh 5 orang dengan 4 PC. Merapihkan keuangan yang cukup semrawut. Beliau sedang membantu merenovasi salah satu rumah ibadah di daerah Shinjyuku, dan kwitansinya bercampur dengan kwitansi urusan kantor. Saat itu diperusahaan hanya ada kami berdua, beliau sebagai owner dan aku staff. Tidak lama berselang aku menemukan staff baru, anak Indonesia yang sedang kuliah di Jepang. Anak ini aku kenal dari teman adikku.

Tidak lama kemudian bertambah lah staff, Orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia. Disusul lagi salah satu anak Indonesia yang fasih berbahasa Jepang. Aku membuat jadwal libur satu tahun. Hak-hak karyawan untuk libur. Lagi-lagi kami bertengkar, beliau tidak ingin staffnya banyak libur, dan aku ingin semua orang bekerja dengan hati bahagia. Tidak seperti aku yang direnggut waktunya demi ambisi beliau. Kegigihanku membuahkan hasil, para staff mendapatkan jatah libur yang layak.
“Terima kasih Septi, kamu menggagalkan perbudakan yang tidak kasat mata.. ” pujian dari ku untuk diriku sendiri.

Belum lama ini aku bertemu dengan istri salah satu staff perusahaan beliau dan mengabarkan bahwa beliau sudah tua dan sudah berubah, tidak seperti dulu. Beliau masih sering mengkhawatirkan keadaan ku dan aina. Aku hanya tersenyum. Lebih baik aku simpan kata-kata yang ingin aku ucapkan saat itu, karena itu akan menyakiti anak ini, si penyampai berita. Ini lah yang ingin aku katakan;

“ya iyalaah udah berubah, udah dapet semua.. coba lo pikir klo gw yang nipu beliau yang nusuk dari belakang, mana ada doi bisa dapetin keuntungan kotor 3-4juta yen perbulan. Gw tinggalin dengan semua sudah settle, kalaupun masih berantakan ya wajar namanya perusahaan baru. tapi tetep aja kaga ada yang gw COLONG dari perusahaan itu. tas hadiah ulangtahun yang beliau kasih ke gw aja kaga gw bawa, gw balikin karena ternyata itu pake duit perusahaan. klo dia masih kya dulu, mana mungkin laki lo sanggup ngikutin.. is ded yang ada.. bilang sono sm boss laki lu.. makan yang kenyang, ntar gw tagih di akherat..”

Beruntung aku tidak lontarkan, betapa jahatnya kata-kata ku itu. Allah masih menjaga lisanku saat itu. Dan sekarang aku keluarkan lewat tulisan, bukan untuk menyalahkan si-penyampai berita, hanya melampiaskan kekesalanku saja. Maaf ya

Aku dipercayakan untuk mengurus keuangan. Dan disinilah mulai terlihat keserakahan beliau.
“ganti nih duit gw..”sembari melemparkan gumpalan kertas kwitansi
“ini dari mana dan untuk keperluan apa..” tanyaku
“kemarin gw ke gotemba nganter jalan-jalan turis”
“turis siapa?”
“bini sm anak gw”
“lah terus kok mesti perusahaan yang ganti..? kan itu engga ada urusan sm kerjaan”
Wajah beliau terlihat sangat kaget mendengar jawabanku.

Itulah pertengkaran perdana kami soal keuangan perusahaan. Beliau merasa bahwa semua pengeluaran pribadi tetap harus ditanggung perusahaan. Sementara aku merasa bahwa beliau sudah mendapatkan gaji dari perusahaan ini, biarkan perusahaan ini menyisihkan dananya untuk persiapan pembayaran pajak dan atau penggunaan keperluan yang semestinya.

Aku tetap pada pendirianku, aku tidak akan membayar dana jalan-jalan beliau dengan keluarganya. Dengan penuh emosi, beliau menekankan bahwa INI ADALAH PERUSAHAAN SAYA..!. Beliau lupa bahwa ada hak suami ku dan koko disini.

Setelah itu, banyak pertengkaran yang terjadi karena beliau mengatasnamakan marketing atau branding untuk meminta dana perusahaan, padahal aku tahu beliau hanya ingin terlihat sudah SUKSES dan bisa diterima dengan baik di organisasi keagamaan dimana beliau baru saja bergabung dengan cara menanggung seluruh pengeluaran teman-temannya ketika sedang mengadakan perjalanan keluar kota untuk urusan organisasi tersebut.

Pertengkaran demi pertengkaran terjadi, aku terlalu pelit dan sulit bernegosiasi, beliau terlalu sembarangan dan semaunya.

Ketika kami berbelanja untuk keperluan kantor di sebuah departement store, beliau memasukan berbagai keperluan rumah tangganya seperti shampoo, sabun , softener dan beberapa barang lagi. Aku pun membeli sebuah sabun mandi untuk Aina. Ketika di kasir, aku pisahkan sabunku.

“gabungin aja sept bayarnya, kan gw yang bayar”
“engga usah, gw udah digaji, masa sabun mandi buat anak gw aja nebeng perusahaan, maruk amat” dengan nada ketus aku menjawab.

Ketika masuk kemobil, beliau memberikan aku nasihat.
“Sept, ini perusahaan gw, gw ikhlas kok duit gw dipake sm elo untuk keperluan aina”
Tidak kutimpali, aku terlalu lelah berdebat.

Hingga puncaknya ketika aku dinyatakan positif hamil, suamiku mengkhawatirkan kesehatanku karena terlalu sering bertengkar dengan beliau.

Aku ingat sekali, tanggal 3 februari 2018, hari jumat.
Perusahaan menyewa mobil beliau untuk digunakan sebagai kendaraan operasional. Beliau masih mencicil mobil tersebut di perusahaan leasing mobil. Setiap bulannya di tanggal 5, perusahaan leasing mobil akan mengambil pembayaran cicilan secara otomatis ke rekening bank beliau, berarti setiap tanggal 4 perusahaan harus membayar sewa mobil tersebut, mentransfer kerekening bank beliau. Bulan februari 2018 tanggal 5 jatuh di hari senin, maka hari Jumat aku mentransfer uang sewa mobil kerekening beliau. Sore itu beliau datang kekantor,

“Sept, transferin duit mobil lagi dong”
“lah kan udah tadi siang
“kepake”
“buat apaan..?”
“ya itu pasukan mau balik ke Indonesia
“lu gilaaaa, sampe beli oleh-oleh keluarga lo mesti perusahaan yang nanggung, engga masuk akal..!” bentakku penuh emosi.

Pertengkaran pun pecah, kondisiku sedang hamil muda. Beliau merasa harga dirinya diinjak-injak oleh anak buahnya.
Tanpa pikir panjang, aku ketik surat resign, print out dan aku ajukan. Aku lelah berada disitu.

Dia gila.. aku meyakinkan diriku! pilihannya adalah dia-atau aku yang akan menjadi gila..

Beberapa hari sebelum pertengakaran tersebut, aku pernah bertanya perihal kepemilikan saham perusahaan ini.
“woi.. visa lo kan udah keluar, kapan ganti Akte perusahaan” tanyaku suatu sore
“ya engga lah.. kan elo pada udah dapet gaji gede, engga usah saham lah, itu udah punya gw..”
Aku terdiam, shock mendengar jawabannya..
ada kemungkinan beliau browsing internet, dan melihat tulisan ini. Aku ingatkan, pengadilan Allah itu ada.
Terima kasih untuk yang sudah mengingatkanku untuk mengikhlaskannya, tapi juga ingatkan beliau untuk berani mengakui keserakahannya.

Dari semua pertengkaran tersebut, aku merasa jadi orang paling TOLOL didunia, mau saja berada di tempat yang tidak layak untuk ku. Diriku sangat berharga, keluargaku sangat berharga, anak-anakku butuh ibu yang bahagia agar bisa menebarkan kebahagian kepada mereka. Aku mengambil keputusan untuk meninggalkannya, aku ingin bahagia.

Aku tetap menjalankan prosedur sesuai kesepakatan, yaitu one month notice. Jadi aku tetap masuk kantor sampai akhir bulan februari. Beliau berusaha bernegosiasi dengan ku, tapi keputusanku telah bulat, aku harus keluar dari lingkaran ini.

“kantor mana yang mau nerima elo lagi hamil begini. suami lo juga mau resign, trus kalian mau gimana”
“lo pikir lo Tuhan..! diantara kita siapa yang bisa bahasa Jepang..? siapa yang bisa bahasa Inggris, siapa yang bisa mengoperasikan komputer dengan cepat..? semua itu Gw.. jadi elo engga perlu khawatir. Elo tau siapa gw, mana pernah gw mau menyerah..! Apalagi ini demi keluarga, demi anak-anak gw.. ga akan pernah..” emosiku meledak..
“sombong banget lo ya sept..!”
“ya gw memang sombong..”

setelah pertengkaran itu, aku sudah tidak pernah berbicara lagi. Ada satu moment dimana aku dan beliau harus berbicara.
“J san, tolong bilang sama boss kamu, ini klo ngajuain dana yang jelas, nanti klo di audit pajak bisa repot” aku berbicara keras kepada J san seorang staff Jepang, yang padahal ini ditujukan kepada beliau, dan beliau ada diruangan tersebut.
“J san, bilang sama mba septi nanti yang audit itu Tou sensei, jadi engga masalah” jawab beliau

Mata ku melotot kearah laki-laki setengah baya itu, sungguh aku ingin berkata
“Kalau engga tau, cari tau.. kalau engga ngerti belajar sama yang ngerti..!”
Ito sensei itu adalah akuntan yang kami sewa untuk mengurus keuangan kami, tapi untuk audit tidak dilakukan oleh akunting itu, pasti ada team audit yang akan mengaudit pajak.
“J san, kasih tau boss kamu, kalau engga tau suruh belajar, suruh baca yang banyak, jadi boss otaknya jangan kosong..” Kutinggalkan ruangan itu. Sudah paling benar keputusanku, keluar dari kebodohan yang hakiki..

Setelah aku keluar dari perusahaan itu, beliau memblock FaceBook ku, dan mungkin semua kontakku, aku tidak tau. Yang Jelas FB sudah beliau blokir.. Terlihat betapa kerdilnya beliau ini.

Banyak yang aku tidak tahu, dan masih banyak juga yang harus aku pelajari. Tapi bagiku, untuk menjadi pemimpin bukan siapa yang lebih tua atau siapa yang lebih berpengalaman, tapi siapa yang berani mempertanggung jawabkan atas apa keputusan yang diambil. Mengedepankan kejujuran, mau mendengar, tidak selalu merasa paling hebat, dan yang paling penting, mempunyai kejujur dan integritas.

Terima kasih atas segala didikan dan pengalaman ini, tanpa anda, mungkin aku hanya seorang perempuan lembek yang bergelendot dipundak suamiku. Dan karena anda, aku bisa berkata

“See you on top, Sir..!”

Tokyo
22 July 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s