TachiguiSoba (makan soba sambil berdiri) dan suara seruput Mie soba

“Dimana bumi di pijak, disitulah langit di Junjung” begitulah bunyi pribahasa yang sebisa mungkin para perantau terapkan dalam kehidupan sehari-hari di negri orang. Dan bagiku, selama itu tidak melanggar akidah Islam, aku pun berusaha untuk menerapkannya.

Salah satunya adalah budaya makan mie ramen atau soba. Diawal kedatanganku di Jepang, aku sangat ingin makan ramen, warnanya yang merah terlihat sangat pedas dan menggugah selera. Karena sangat sulit menemukan makanan yang pedas diseputaran kampus dan juga asramaku. Hanya ada satu warung ramen yang terletak tidak jauh dari kampus. Satu hari seteleh selesai kuliah aku memutuskan untuk pergi ke warung tersebut bersama seorang teman sekelasku orang Nepal bernama Sujita. Sujita tidak makan daging sapi dan babi, aku tidak makan daging babi. Ketika kami masuk dan langsung menanyakan daging apa yang digunakan diramen, mereka menjawab bahwa daging Babi dan juga kuahnya berasal dari rebusan tulang Babi. Kami pun mengurungkan niat untuk mencoba ramen. Salah satu staff di warung itu memberitahukan kami bahwa kalau ingin makan mie yang bebas dari daging babi dan sapi, kami bisa mencoba soba, karena soba tidak menggunakan kedua daging tersebut. Dan staff itu pun merekomendasikan warung soba yang menurutnya cukup enak.

Siang itu kami berdua memutuskan untuk mencari warung soba sesuai petunjuk staff warung ramen. Kampus kami terletak 3 stasiun dari Shinjyuku. Penjaga warung ramen memberitahu kami bahwa ada warung soba yang cukup terkenal di daerah Higashi Shinjyuku (timur shinjyuku). Setelah naik kereta sekitar 7 menit, kami turun di shinjyuku stasiun dan mencari pintu timur. Lalu kami susuri jalan mencari warung soba. Sekitar 10 menit kami berputar-putar dan akhirnya kami menemukan warung soba yang dimaksud.

Ketika masuk kedalam warung tersebut, betapa terkejutnya kami, karena banyaknya meja-meja tapi tidak adanya kursi sama sekali. Para pelanggan makan soba sembari berdiri, dan sepertinya tidak ada yang salah dengan makan sambil berdiri, mereka tetap terlihat sangat menikmati hidangannya. Dari berbagai penjuru aku mendengar suara sruput yang sangat membuatku risih, belum lagi ada pemandangan orang yang sedang meminum kuah soba langsung dari cawannya.

“Ada apa ini???” tanyaku dalam hati

Sujita juga tidak kalah kaget melihat dan mendengar apa yang sedang berlangsung. Sepersekian detik kami saling pandang, sebelum akhirnya ada suara yang menyambut kami.

“irrasyaimasee.. sukina tokoro he douzo..” suara pelayan warung udon mengucapkan selamat datang dan mempersilahkan kami untuk memilih tempat makan sesuka kami.

“do you mind?” aku tanyakan kepada sujita
“yes.. i`m fine. how about you"
"i
`m totally OK” jawabku mantap. Rasa ingin tahu mengalahkan segalanya

Kami pun memesan masing-masing seporsi soba dengan topping tempura ebi. kami berbincang-bincang perihal apa yang terjadi saat itu, perasaan kaget kami berdua sama, bahwa ini pengalaman pertama kami makan di warung sambil berdiri.

Rasa mie soba ini sangat enak, mie nya kenyal dan mengenyangkan, kuahnya gurih.
“seandainya aku membawa saos sambal atau sambel bakso yang encer, pasti rasa mie soba ini akan sangat nikmat..” khayalku

Setelah selesai makan, kami melihat semua pelanggan setelah makan membawa cawan dan semua alat makannya ke area yang sudah diberikan tanda;

“setelah makan tolong kembalikan alat makan disini”

Tidak lupa meja bekas makan langsung di lap oleh pelanggan sendiri dengan lap yang sudah di siapkan di setiap meja. Untuk minum pun, semua pelanggan mengambil gelas sendiri di tempat yang sudah disediakan dan mengisi gelasnya sendiri pula. Warung ini mengusung konsep self service, jadi semua melakukan sendiri, kecuali membuat Sobanya.

Keesokan harinya, di kampus aku menanyakan kepada dosen ku perihal suara seruput dan meminum kuah langsung dari cawan yang dilakukan para pelanggan di warung soba. Point ini cukup menyita perhatianku, karena bagi kita orang Indonesia makan dengan mengeluarkan suara itu sangat tidak sopan apalagi sampai meminum kuah langsung dari cawan, bisa di cap tidak punya etika. Dan apabila umi melihat aku melakukan hal itu, sudah pasti di ketok kepalaku dengan centong nasi.

Penjelasan dari dosenku menjawab rasa penasaranku, apabila memakan mie atau soba sampai terdengar suara sruput, itu menandakan bahwa hidangan tersebut sangat lezat dan juga sebagai salah satu bentuk ungkapan terima kasih kepada yang menghidangkan, karena saking lezatnya sampai-sampai kita meminum kuahnya langsung dari cawannya.

Untuk warung Soba yang di design tanpa kursi disebutnya Tachiguisoba  ”立ち食いそば” itu tidak ada hubungannya dengan etika sopan santun. Warung ini di design tanpa kursi diperuntukan bagi orang-orang yang butuh makan cepat dan juga tidak memiliki waktu banyak dengan kata lain diperuntukan bagi mereka yang sibuk atau sedang terburu-buru.

Warung bergaya seperti ini pertama kali ditemukan di zaman Edo dan sampai saat ini pun masih banyak warung berkonsep TachiguiSoba tersebar di seluruh Jepang.

Sejak saat itu, setiap makan mie yang aku rasa enak, aku sudah tidak canggung lagi mengeluarkan suara sruput ketika menyantap mie tersebut, dan juga ikut meminum kuahnya langsung dari cawan. Umi ku juga sudah aku berikan penjelasan tentang alasan makan mie di seruput.

Image from google searching.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s