Merdeka bagi kita semua

Tahun ini, tahun ke 11 aku hidup di Jepang dan merupakan kali ke 10 setiap tahun di bulan agustus aku menyaksikan tayangan di hampir semua televisi di Jepang membahas soal bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima tanggal 6 agustus 1945 dan di Nagasaki pada tanggal 9 agustus 1945. Kejadian ini membuat Jepang menyerah kepada sekutu dan di ikuti kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945.

“nyai, aku pamit ya. bulan depan aku mau berangkat ke Jepang. doain ya nyai”
“hah..?? elu mau kekampungnya kumpeni? emang baba lu kaga ngapa-ngapa itu elu kesono, elu kaga tau itu kampungnya kumpeni. jangan pegi kata gua!”

Itu penggalan pembicaraan dengan nyai ku, sebutan nenek bagi orang betawi Pasar minggu, yang terjadi sekitar 11 tahun yang lalu ketika aku akan berpamitan untuk berangkat ke Jepang. Nyai ku merasakan benar masa pendudukan Jepang, dan bisa merinding bulu kuduknya kalau mengingat saat-saat itu. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya di usia senja, Nyai berusaha mengingatkan Papah untuk melarang aku pergi ke negri matahari terbit yang menyisakan pilu dimasa lalu.

Berbeda dengan abahku, Ayah dari ibuku. ketika aku berpamitan, beliau langsung berbicara bahasa Jepang, membentuk sebaris kalimat, yang artinya “semoga sukses dan jaga diri baik-baik”.
Belakangan baru kuketahui bahwa abah memang pernah bekerja di bawah kepemimpinan tentara Jepang. Abah dan nenek juga bergantian bercerita bahwa saat Jepang berada di Indonesia, banyak kenangan yang ingin mereka hapus dari dalam otaknya. Karena kehidupan sangat sulit dan banyak kekejian yang mereka lihat, padahal usia mereka masih sangat kecil. Tapi saat ini, semua sudah berubah menjadi jauh lebih baik, mereka tidak merasa keberatan cucu perempuannya pergi ke negri sakura.

Dan sekarang aku di negri ini, tinggal di kota yang sudah kuanggap seperti rumah keduaku. Setiap tahun, ditanggal 6 agustus, akan ada upacara penghormatan untuk korban pengeboman di Hiroshima dan tanggal 9 agustus untuk korban di Nagasaki. Luka masih tergores sangat dalam, meskipun tahun ini sudah 75 tahun kejadian itu berlalu, namun masih banyak saksi yang berbicara akan ganasnya dua bom atom itu. Betapa bulan-bulan setelah kejadian itu, korban terus berjatuhan karena efek radiasi bom atom dan luka bakar. Belum lagi kelaparan juga membuat makin banyaknya korban.

Tanggal 9 agustus 2020. Ketika sebuah saluran TV lokal Jepang menayangkan sebuah film animasi tentang tragedi bom atom tersebut. Aku dan aina, anakku yang berumur 5 tahun secara tak sengaja melihat film tersebut dan membuat kami tertegun terhipnotis untuk mengikuti sisa film animasi tersebut. Aku lupa judulnya, tapi di film itu terlihat seorang anak kecil dengan pakaian compang camping memungut onigiri-nasi kepal yang tidak sengaja terjatuh pada saat seorang wanita cantik berkimono dengan seorang lelaki berpakaian tentara sedang duduk disebuah bangku taman yang sudah reot membuka kotak bekalnya. Anak kecil itu hendak memasukan onigiri tersebut kedalam mulutnya, namun diurungkan niatnya dan segera berdiri menghampiri pasangan tersebut kemudian mengembalikannya. Namun siwanita berkimono memberikan onigiri tersebut kepada si anak kecil. Si anak kecil langsung melahapnya dengan cepat, kemudian melihat satu butir nasi yang menempel dipipi si wanita berkimono, si anak dengan susah payah menggapai pipi sang wanita untuk mengambil sebutir nasi tersebut kemudian memakannya.

Setelah itu, adegan film memperlihatkan kota yang hancur lebur, anak-anak yang sedang mengais-ngais reruntuhan, dan beberapa sosok orang dewasa menggunakan perban dan banyak orang yang berpakain compang-camping. Siapapun yang menonton, aku rasa bisa ikut merasakan penderitaan saat itu.

“mama, ini kenapa sih ceritanya. anak itu mama sama papanya kemana” tanya aina
“ini kota Hiroshima kak, setelah di jatuhi Bom, jadi kotanya hancur. Mungkin anak itu mama-papanya kena bom dan meninggal”
“siapa yang jatuhin bom ke situ ma? anak itu mama-papanya lagi kerja makanya ada di kota? anak itu rumahnya di desa, waktu bom jatuh jadi engga tahu? trus sekarang dia lagi cari mama-papanya ya. Trus dia lapar ya?” aina memberondongku dengan pertanyaan yang aku belum siap jawabannya.
“Pemimpin Jepang dulu itu bertengkar sama pemimpin Indonesia, mau ambil wilayah Indonesia, trus di bilangin sama teman-teman yang lain supaya berhenti bertengkar. tapi Pemimpin Jepang engga mau dengar, jadi di jatuhin Bom sama teman-teman negara lain, supaya jangan nakal. Tapi karena bom nya besar, jadi banyak yang kena deh.”
“aina engga mau lihat film ini, aina sedih. kan yang nakal orang lain, kenapa anak itu mama-papa nya yang kena bom!” sambil berlari masuk kedalam kamarnya, aina terlihat sangat kecewa.

Perang selalu menyisakan duka dan luka
Tidak perduli menang atau kalah, perang mengangkat senjata akan menghasilkan derita

Dirgahayu Republik Indonesia ke 75.
Merdeka bagi kita semua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s