事故物件ーApato atau rumah “murah”

Musim panas di Jepang itu identik dengan film hantu atau cerita-cerita hantu. Aku sendiri pun kurang paham kenapa, mungkin karena di pertengahan musim panas, tepatnya bulan agustus ada acara obon. Obon merupakan salah satu tradisi dalam agama Budha, mereka percaya bahwa para arwah leluhur pada periode ini datang kembali ke altar di setiap rumah-rumah orang Jepang. Ini adalah pemahaman aku dari pembicaraan dengan beberapa teman Jepangku dan juga dari beberapa referensi yang aku baca.

Di penghujung musim panas, aku ingin membahas tentang Apartemen atau rumah yang harga sewanya atau harga jualnya sangat murah, jauh dibawa harga normal, dan ini di kenal dengan nama Jiko Bukken 事項 yang artinya stigmatized property. Di awal periode aku baru lulus kuliah dan bekerja, keuanganku masih berantakan dan sangat minim alias bokek. Saat itu kontrak di apartemen yang sudah 2 tahun kutinggali bersama sahabatku sudah harus berakhir dan wajib diperpanjang dengan menambah uang, untuk nominalnya aku lupa. Akhirnya kami berinsitiaf mencari apartemen baru yang sekiranya lebih murah dan lebih luas, karena ada kemungkinan keluarga kami akan berkunjung ke Jepang. Setelah tanya sana-sini, ada teman kantor yang menyarankan mencari Jiko Bukken, harga sewa perbulannya 50% dari harga normal dan itu berlaku selama satu tahun. Kami sangat tertarik, karena bisa irit sekali.

Ternyata itu adalah apartemen Jiko bukken. Penghuni sebelumnya meninggal di apartemen tersebut, dan menurut agennya meninggal karena sakit. Secara umum, apabila penghuni sebelumnya meninggal, maka tidak akan laku lagi dipasaran, karena banyak orang Jepang menolak untuk tinggal disitu. Entah dengan alasan akan membawa sial atau takut akan ada hantu yang muncul. Apabila sudah ditinggali oleh orang lain selama satu tahun, maka harga sewa apartemen akan kembali normal.

Ketika mendengar penjelasan tentang Jiko Bukken ini, tidak ada sama sekali terbersit rasa takut atau khawatir soal mahluk dimensi lain akan hadir diantara aku dan sahabatku. Mungkin karena ketika di Indonesia, aku sudah berkali-kali melihat orang terdekatku “kemasukan” mahluk halus. :p
Ada juga pikiran bahwa berbeda warga negara dan juga bahasa, jadi kemungkinan “mereka” malas berkomunikasi dengan kami.

Kami melihat-lihat apartemen tersebut, bagus, bersih, luas dan terlihat baru. Agen menjelaskan bahwa isi apartemen ini sudah diganti semuanya, karena itu terlihat baru.

Kami berdua suka dengan apartemen tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk pindah. Kami tidak merasakan hal-hal yang aneh pada saat kunjungan pertama tersebut, jadi kami percaya InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Dan Alhamdulillah selama satu tahun kami tinggal di apartemen tersebut, tidak pernah satu kali pun kami diganggu. Padahal aku sering sekali pulang kerja jam 2 pagi, jam 1 pagi. Yang sudah baca blog aku dari awal pasti tahu ya kenapa aku sering pulang kerja di jam-jam yang tidak wajar, semacam dedikasi tak masuk akal. Setelah periode satu tahun akan berakhir, kami mulai mencari-cari lagi apartemen dengan kondisi yang sama.
“apartemen mana lagi nih yang penghuninya meninggal” joke kami ini tidak baik sih sebenarnya.. 😛 tapi memang itu yang sering kami berdua bicarakan.

aku meninggali apartemen Jiko bukken sekitar 3 tahun dengan artian 3 kali pindah..
Dan alhamdulillah tidak ada satu pun gangguan yang datang kepada kami berdua.

Belum lama ini, ada satu FaceBook komunitas orang Indonesia di Jepang yang membahas soal Jiko bukken ini, dan banyak sekali yang menuliskan ceritanya tentang gangguan tidak kasat mata. Salah satunya ada cerita dari kawan ku ketika dia baru pertama kali pindah ke Jepang, tinggal di apartemen yang bagus, luas namun dengan harga sewa yang relatif murah. Ada satu kamar yang tidak terisi sampai satu ketika adik dari temanku ini dari Indonesia datang dan menginap di apartemen mereka. Sang adik bercerita bahwa setiap malam terdengar suara berisik dan terkadang selimutnya ditarik-tarik. Dan suatu malam ketika temanku, suaminya serta adiknya sedang makan malam, terlihat sesosok putih melintas dari kamar mandi dan masuk ke kamar yang ditempati oleh adiknya.

Setelah adiknya kembali ke Indonesia, mulai lah temanku yang diganggu. Kamar kosog itu mulai membuat tanda-tanda bahwa ada kehidupan lain yang ada di dalam kamar tersebut. Puncaknya mainan bayi berupa baby gym tiba-tiba berbunyi dan terlempar di hadapan mata temanku ini. langsung dia meminta suaminya untuk segera keluar dari apartemen tersebut. Hari itu juga mereka menginap di rumah orangtua sang suami (kebetulan temanku ini menikah dengan orang Jepang), seminggu kemudian mereka pindah dari apartemen tersebut.

Banyak juga cerita lainnya, tapi berhubung aku harus meminta ijin kepada sang pemilik cerita untuk menuliskan pengalaman mereka, maka aku hanya bisa menuliskan ulang satu cerita yang sudah di ijinkan oleh pemiliknya untuk ku tuliskan. Mungkin satu saat nanti ketika aku sudah mendapatkan ijin dari semua pemilik cerita, akan aku buatkan kisah khususnya.

Semoga cerita ini bermanfaat untuk teman-teman yang sedang mencari apartemen di Jepang. Dan jangan pernah meremehkan kekuatan doa, karena selama ini aku selalu merasa terjaga dan dijaga dalam setiap langkah itu karena doa orangtua dan doaku sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s