Pertanyaan pertama ketika kamu hamil di Jepang adalah “mau digugurkan?”

“kamu positif hamil. mau di lanjutkan atau mau di gugurkan?” pertanyaan dokter kandunganku ketika pertama kali aku memeriksakan kehamilan pertama.

Saat itu puncaknya musim dingin, tepatnya awal tahun 2014. Setelah kami menikah, kami harus LDM (Long Distance Marriage) karena suami harus melanjutkan S2 nya di Universitas Pelita Harapan Jakarta dan karena aku merasa sudah stabil posisi kerja di Tokyo, maka kami sepakat untuk tinggal di Jepang.

Akhir tahun 2013, suamiku datang ke Tokyo untuk berlibur akhir tahun sekaligus menemaniku bekerja, karena kantorku mengadakan konser slank yang di berbarengan dengan moment tahun baru 2014.

Pertengahan Januari 2014, dia harus kembali ke Jakarta karena harus menjalani sidang tesis masternya. Beberapa hari kemudian, aku mulai menyadari bahwa ada yang berubah dari tubuhku, dan benar saja, aku hamil. Setelah melihat hasil dua garis tertera di test pack di satu pagi, aku menghubungi suamiku dan menangis. Senang bercampur sedih, takut dan tidak percaya menjadi satu. Karena sebelumnya aku banyak pekerjaan dan memang sangat lelah, jadi kemungkinan untuk hamil tuh kecil sekali. Tapi keajaiban selalu ada. Kehamilan pertama di negri orang, tanpa suami dan keluarga. Aku harus menjalani semuanya sendiri. Alhamdulillah aku memiliki sahabat yang sangat luar biasa membantu.

Aku segera mencari klinik yang dekat dengan apartemenku saat itu. Dan harus menunggu satu minggu untuk bisa memeriksakan kandunganku. Di hari yang sudah dijadwal, dengan mantap aku mendatangi klinik tersebut. Setibanya di klinik, aku diminta untuk menampung urine di sebuah gelas plastik, menuliskan nama dan tanggal lahirku di gelas tersebut, kemudian meletakkan di loket kecil yang ada didalam toilet. loket tersebut hanya berukuran 30cmX50cm, hanya muat untuk mengambil gelas-gelas berisi urine pasien. Dan aku juga harus check tekanan darah, ukur berat badan serta mengambil sampel darah.

Sekitar 20 menit setelahnya, namaku dipanggil masuk ke ruangan dokter. Dokter perempuan yang terlihat masih muda, mungkin masih diawal 40 tahunan. Dokter membolak balik dokumenku, kemudian dia berkata,
“kamu positif hamil. Mau dilanjutkan atau digugurkan?”
betapa tercengangnya aku mendengar pertanyaan dokter ini!
“kok bisa-bisa nya sih dia nanya begitu” gumamku dalam hati.

Dengan mantap aku menjawab TIDAK, aku ingin membesarkan janin ini. Maka sang dokter mulai melanjutkan pembicaraan yang sampai saat ini pun tidak bisa aku ingat. Di tengah pembicaraan, aku menangis, dan dokter pun berhenti berbicara.

“Partner kamu sudah tahu kalau kamu hamil?” dokter bertanya dengan lembut
“iya sudah. kami sudah menikah”
“kamu ingin menggugurkan janin ini?” tanyanya lagi
“tidak dok, aku ingin mempertahankan janin ini” jawabku dengan suara parau ditengah tangisanku
“lalu kenapa menangis, apa yang kamu khawatirkan”
“aku tidak mengerti istilah-istilah kedokteran yang barusan dokter ucapkan. ”
“oo begitu.. baiklah. saya salah sangka ya. saya pikir dengan kemampuan bahasa Jepang kamu ini, kamu mengerti semua istilah yang saya ucapkan” jawab si dokter sambil tersenyum.
*semua percakapan diatas menggunakan bahasa Jepang.

Saat itu aku memang tidak bisa menangkap apapun yang di ucapkan sang dokter. Istilah-istilahnya sulit dan asing bagiku. Ditambah rasa khawatir untuk melewati masa kehamilan yang sendiri ini membuat aku semakin terpuruk.

Ada penjelasan umum dokter yang bisa kupahami dengan baik, bahwa menggugurkan kandungan di Jepang legal dan tidak melanggar hukum. Yang melanggar hukum adalah mentelantarkan anak-anak. Untuk mencegah penelantaran tersebut, maka banyak dokter menanyakan kesiapan calon ibu.

Hamil dan melahirkan bukan perkara mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari mental pasangan sampai finansialnya.

Sering kita lihat berita-berita di Indonesia bahwa ada bayi baru lahir dibuang ditempat sampah, di bunuh atau pada akhirnya dibesarkan namun jadi korban kekerasan orangtuanya. Naudzubillah..
aku pribadi bukan orang yang mendukung aborsi, tapi aku sangat setuju bahwa menjadi orangtua itu adalah proses hidup jangka panjang. Perubahan gaya hidup yang jauh dari kenyamanan, karena kita harus mengesampingkan ego kita, kebiasaan kitapun berubah, dan yang paling penting adalah prioritas hidup yang berubah. Jadi, ketika memutuskan untuk hamil dan siap menjadi orangtua, maka sudah harus paham akan point- point tersebut.

Untuk mendukung para calon orangtua baru, di Jepang semua pasangan diwajibkan mengikuti kelas mama-papa. Di trisemester pertama, di ajarkan bagaimana mengatasi morning sickness yang di alami para calon ibu baru, serta apa yang harus dilakukan oleh suaminya. Yang membuat aku tersentuh adalah ketika si bidan menyarankan kepada sang suami untuk selalu memuji sekecil apapun pencapaian istrinya. Memuji penampilan istri yang pucat dan lusuh karena rasa mual yang selalu menyapa.
“kamu tetap cantik..”

Ketika trisemester kedua dan ketiga, semua pasangan muda ini diajarkan bagaimana mempersiapkan diri menyambut anggota keluarga baru. Mulai dari peralatan apa saja yang dibutuhkan, nomor telpon yang harus dihubungi ketika sang istri mulai merasakan kontraksi. Dan juga para suami diajarkan bagaimana cara menemani sang istri ketika waktunya persalinan tiba. Cara memijat punggung sang istri ketika rasa mulas ingin melahirkan hadir.

Ketika sudah melahirkan pun, kami masih ada kelas mama-papa yang isinya tentang bagaimana memandikan bayi dan menggantikan popok. Bagaimana cara memijat payudara untuk mengeluarkan ASI yang tersumbat, dan banyak pelajaran untuk menangani ketika si bayi demam dimalam hari.

Semua kegiatan itu dilakukan bersama dengan suami. Karena anak bukan tanggung jawab satu orang saja, tapi tanggung jawab kedua orangtuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s