Proses Operasi Sesar atau Caesarean section di Jepang (1)

Bulan September memiliki arti tersendiri untuk kami sekeluarga besar. Putri kedua kami insyaAllah bulan ini akan berumur 2 tahun dan putri pertama kami insyaAllah akan genap 6 tahun. Dan papa kami 4 tahun yang lalu juga pergi meninggalkan kami di bulan september, disusul oleh nenek kami di tahun berikutnya.

Ada kehilangan dan ada kedatangan di bulan ini. Kali ini aku akan membahas proses kehadiran Kenes yang penuh suka duka.

Bagi kawan-kawan yang sudah membaca tulisanku di blog ini, pasti tahu kejadian di awal kehamilan kedua ku. Aku memutuskan untuk keluar dari lingkungan kerja yang penuh dengan toxic. Keserakahan sang pemilik dan terjunya sang pemilik ke dunia lembaga keagamaan yang tidak di imbangi dengan ilmu bisnis manajemen, membuat hari-hari ku berat. Belum lagi semua tagihan “sekeluarga” sang pemilik perusahaan yang harus di cover perusahaan yang masih berumur hitungan bulan ini, menguras energi.

Hamil ditengah keterpurukan dan berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, benar-benar menggerogoti badanku, meruntuhkan mentalku. Bayi yang membesar tidak di barengi dengan naiknya berat badanku. Singkat kata, badanku tetap kurus sedangkan perutnya membesar karena ukuran bayi yang juga besar. Kondisi ini membuat aku kesulitan bergerak, banyak yang menduga aku hamil anak kembar, banyak juga yang berpikir kalau aku sudah hamil di bulan terakhir. Keadaan ini diperburuk dengan air ketuban yang banyak.

Di minggu ke 16, dokter di klinik bersalin tempat aku memeriksakan kandungan menyatakan bahwa aku harus di tangani di rumah sakit besar, dengan alasan bayi ku besar, air ketuban yang banyak dan aku posistif mengidap diabetes. Rumit sekali keadaan kami saat itu.

Pada usia kehamilan 25 minggu, aku harus berhenti bekerja karena sudah tidak sanggup berjalan jauh. awalnya aku ingin melahirkan di Indonesia, tapi dilarang oleh dokter mengingat kehamilan ku yang cukup beresiko, tekanan pesawat ada kemungkinan membuat kelahiran prematur.

Semakin hari, semakin berat. sekali berjalan, hanya maksimal 10 langkah saja, setelah itu aku merasa kehabisan nafas, punggung sakit, lututku tidak sanggup menopang berat badanku, dan membuatku nyaris terjatuh. Setiap hari sebelum dan sesudah makan aku harus memeriksa asupan gula dalam darah dan menuliskannya dalam buku laporan. awalnya mereka memberikan alat berbentuk kotak kecil berukuran sebesar kota korek api yang didalamnya berisi jarum, aku harus menembakkan jarum tersebut ke ujung salah satu jari hingga jari ku mengeluarkan darah. Setetes darah itu harus aku letakan di kertas putih yang terhubung dengan alat sebesar genggaman tangan yang akan membaca kandungan gula di dalam setetes darah tersebut.

Hari-hari ku penuh tangisan saat itu. Rasa takut menyelimutiku. Sampai satu hari suami ku menemukan sebuah alat yang lebih canggih. satu set alat tersebut di beli suamiku dari amazon. satu alatnya berbentuk bulat tipis seukuran koin uang 500 JPY yang harus ditempel di lengan salah satu tanganku dan tidak boleh dilepaskan selama beberapa hari. Dan satu alat sebesar genggaman tangan yang akan mendeteksi jumlah kadar gula dalam darah. Ketika sudah waktunya memeriksa gula darah, aku hanya butuh menempelkan si alat pendeteksi ke lempengan koin yang menempel di lenganku, dalam hitungan detik, maka angka gula darahku akan tertera dilayar alat sebesar telapak tanganku itu.

Aku pun sulit makan, karena asam lambung yang selalu naik hingga membuat telingaku terasa perih.

Apakah kalian pernah merasakan tersedak makanan pedas hingga telinga terasa perih? itulah yang aku rasakan. Bukan satu kali, tapi berkali-kali. bukan satu hari tapi berhari-hari hingga sering membuatku terjaga selama 2 hari 2 malam.

Melihat kondisiku yang terus menurun, setiap kali kami memeriksakan kandungan ke Rumah Sakit, dokter kandungan yang menanganiku selalu menawarkan untuk menginap di rumah sakit saja, agar bisa meringankan beban fisikku. Tapi aku selalu menolak, aku tidak ingin meninggalkan aina, putri pertama kami.

Akhirnya suamiku memtuskan untuk mengundang Umi dan adik perempuanku lebih awal dari rencana sebelumnya. Di usia kehamilan 30 minggu, bala bantuan datang. Betapa bahagianya kami sekeluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s