Proses Operasi Sesar atau Caesarean section di Jepang (2)

Kedatangan umi dan adikku membuat semuanya menjadi lebih mudah. Ada yang membantu kami memasak, mengurus rumah, menjaga aina, dan ada doa yang selalu terdengar apabila aku mengeluh dan menangis.

Saat aku terjaga 2 hari dua malam, umi pun ikut tidak bisa terlelap. Umi memijatku sambil terus merapalkan doa, memberi petuah. Ada satu saat dimana aku menangis tersedu-sedu, sambil berkata,
“aku udah engga kuat, mi.. engga kuat.. ampuni aku mi”

Dengan berurai air mata umi membelai rambutku, berkata dengan lembut,
“rahma lahir karena umi jatoh duduk di jembatan, pulang dari kali, padahal masih tujuh bulan usia kandungan umi saat itu. setelah itu, air ketuban pecah dan mules engga tertahankan. Jaman dulu, belum ada metode sesar, jadi mau engga mau harus menjalani mules terus-terusan. Air ketuban kering dan sakit bangeet. Rahma lahir kecil, sebesar botol kecap, tapi sakitnya luar biasa. diantara enam anak umi, rahma-lah yang paling sakit. tapi umi engga pernah mau menyerah saat itu, karena umi yakin pasti kita berdua selamat. Seorang ibu, untuk anak-anaknya tidak ada kata MENYERAH dalam kamusnya. Rahma pasti bisa, anak umi, anak yang hebat, harus kuat”
Tambah deras airmataku.

Senin, 10 september 2018.

Hari itu jadwal check up memasuki usia 37 minggu kehamilan. Aku pergi check kandungan ditemani suami. Setiba di Rumah Sakit, mengambil nomor antrian. Tibalah giliran ku bertemu dokter kandungan.
“hai, dasimasyou..” dokter kandunganku berkata dengan mantap bahwa sudah waktunya bayiku dikeluarkan.
“Te-o sekai desuka” aku menanyakan bahwa tindakan yang akan diambil apakah operasi sesar
“ya tidak, kan bayinya sehat, posisi bayi juga sudah bagus, dan kesehatan mamanya masih bisa lah untuk melahirkan normal. jadi besok kita mulai keluarkan dengan induksi” jelas dokter

Proses penentuan operasi sesar itu harus berada disituasi darurat, tidak bisa memilih melahirkan normal atau SC. Jadi, saat itu dengan kondisi saya masih bertenaga, dan posisi bayi yang bagus maka tetap harus di usahakan normal.

Selasa, 11 september 2018.

Barang sudah masuk kedalam tas, dan Taksi sudah dipesan, waktunya aku pamit kepada umi. Dengan susah payah aku usahakan duduk bersimpuh dikaki ibuku, wanita yang melahirkan, yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk ku. Dan kini keadaan berpindah, aku sedang bersiap menuju medan perang, berjuang mempertaruhkan nyawa demi bayi di dalam rahimku. Kembali berurai airmata, kumohon doa, meminta maaf dan menitipkan aina.

Kedua tangannya meraih wajahku dan dengan lembut menciumiku, tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya,
“bismillah ya nak, anak umi pasti kuat, insyaAllah”

Di dalam taksi, tidak pernah kulepaskan jemari suamiku, dia paham sekali rasa takutku. Bukan takut menghadapi rasa sakit, tapi takut tidak bisa berjuang demi bayi kami. Ya, aku takut tidak bisa berjuang, dan menyerah di tengah jalan.

“kamu perempuan hebat, kamu pasti kuat.” itu yang selalu suamiku ucapkan.

Tiba di rumah sakit, setelah mengurus administrasi, kami langsung menuju ruang bersalin. Disana aku mengganti pakaian dan bersiap untuk menghadapi induksi.

Aku sudah bertanya ke kakak iparku dan beberapa temanku soal induksi, dan hampir semua sepakat bahwa induksi itu SAKIT!

Proses induksi di Jepang cukup berbeda dengan yang kakak ipar dan temanku ceritakan. Di hari pertama, aku di berikan pil yang harus di minum 2 jam sekali. Pil tersebut untuk melembekkan rahim. Efeknya ada rasa mules, dari skala satu sampai sepuluh, rasa mules itu masuk dalam angka tiga. Ketika jam 6 sore hari, obat di hentikan dan aku di pindahkan ke kamar rawat inap untuk istirahat. Suami ku pun pamit pulang. Kebijakan di Rumah Sakit ini tidak mengizinkan penunggu untuk menginap, jadi semua passien sendirian. Aku bisa melewati hari pertama ini dengan sukses. Alhamdulillah.

Hari kedua Induksi, aku masih diberikan pil pelembek rahim. Di minum dua jam sekali. Induksi dimulai jam 9 pagi dan berakhir jam 6 sore. Di siang hari suamiku berkunjung, menemaniku beberapa jam dan selalu mencoba menghiburku dengan lelucon yang tidak lucu, tapi menyejukkan hati. Dari skala satu sampai sepuluh, rasa mulas masuk dalam angka enam. Dan ditutup di pembukaan 4cm.

Hari ketiga induksi, dokter menjelaskan bahwa kali ini tidak berupa pil lagi, namun infus, ini akan sangat sakit, dari skala satu sampai sepuluh, rasa mules itu masuk dalam angka tujuh. Aku sudah pernah melahirkan aina dengan proses normal, jadi dalam nalarku berpikir bahwa ini tidak jauh berbeda dengan proses sebelumnya.

Dokter selalu berkata, dari pengalaman beliau, biasanya lama waktu proses kelahiran anak kedua adalah setengah dari waktu kelahiran anak pertama. Jadi apabila aina prosesnya 9 jam dari mulai pembukaan satu hinggal lahir, maka anak kedua di prediksi setengahnya yaitu 4,5 jam.

Tapi ternyata salah!

Hari ketiga merupakan hari terberat dalam proses kelahiran ini. Sakitnya luar biasa, apabila di skala satu sampai sepuluh, aku memberikan nilai LIMA BELAS, karena sakitnya tidak bisa terbayangkan sebelumnya. Ketika kontraksi tiba, dokter meminta izin untuk check posisi kepala bayi ku dengan melakukan check “dalam”. Suamiku menemaniku sepanjang hari itu, dan dia baru pertama dalam hidupnya mendengar suara tangisku yang meledak seperti anak kecil. Aku menjerit, memohon pertolongan. Sakitnya luar biasa.. Itu berlangsung hingga pukul 6 sore. Aku meraung-raung memohon kepada suamiku agar melakukan sesuatu, aku tak sanggup menahan rasa sakit ini. Bagian punggung, bokong, tulang rusuk, punggung dan lututku seperti di pelintir, SAKIT sekali. Ketika melahirkan aina, ada jeda antara rasa mula satu dengan yang berikutnya, ketika sudah tidak ada jeda, maka saat itu waktunya aina keluar, hanya butuh 20 menit rasa mulas tak berjeda hingga akhirnya Aina keluar dari rahimku.

Tapi kali ini, dari awal aku dipasangkan infus, sampai sore hari, tidak ada jeda. Rasa mulas yang luar biasa ditambah rasa sakit seperti di pelintir jadi satu. Belum lagi berbarengan dengan rasa mulas dan rasa sakit, harus ada pemeriksaan “dalam”. Sungguh tak pernah terbayangkan rasa sakit itu.

jam 6 sore hari, Infus dicabut, aku di giring kembali kekamar tidurku. Suamiku masih menemani.

“aku engga kuat lagi a, sakit..maafin aku.. maafin aku” rintihku
“sabar ya ama, kamu pasti bisa..”
“kalau aku meninggal, anak-anak berikan ke umi saja, aku engga mau mereka punya ibu tiri.” pesanku sembari tergugu, menangis.
“kamu pasti bisa, jangan mikir macam-macam” jawabnya sembari mengecup keningku.

Jam 8 malam suamiku harus meninggalkan aku. Aku sendirian, benar-benar sendirian. Tak henti kurapalkan ayat kursi, ayat-ayat andalan ketika aku merasa ketakutan, kesepian, khawatir.

“adek sayang.. mama engga kuat lagi nak. mama engga tahu lagi besok bagaimana harus bertahan. bantuin mama nak, mama benar-benar sudah tidak punya tenaga” sembari ku elus perutku, dan airmata tidak berhenti menetes.

Tubuhku remuk, benar-benar hancur. Aku sudah tidak punya tenaga untuk esok hari. Keberanianku menghadapi hari esok juga padam, aku merasa kalah menjadi seorang ibu. Aku pengecut. Tangisku tak pernah berhenti malam itu, seiring dengan bayiku yang terus bergerak didalam perutku.

Jumat, 14 september 2018.

Kelelahan akhirnya membuat aku tertidur. Jam 7 pagi suster jaga datang memeriksa tekanan darah, dan juga gula darah. Pengechekan gula darah ini masih terus berlanjut dari awal aku masuk rumah sakit sampai setelah aku melahirkan. Setelah sarapan, jam 9 pagi, aku kembali di giring naik ke tempat tidur pesakitan. Aku sudah pasrah. Dokter jaga datang untuk memeriksa berapa besar pembukaan pagi itu, dan akan menjelaskan apa lagi yang akan aku terima untuk proses kelahiran bayiku.

Dokter perempuan itu mulai memeriksa “dalam”. Tiba-tiba mimik wajah dokter cantik itu berubah.
“ya ampun!!” pekik sang dokter
“ini bukan kepala bayi, ini punggung nya” sahutnya kembali dengan posisi tangannya masih memeriksa bagian “dalam”ku
segera sang dokter meminta suster untuk mengambil mesin USG. Di borehi perutku dengan cairan seperti lem, kemudian kamera mulai berjalan-jalan diatas perutku yang besar.
“SUNGSANG!” dokter cantik itu setengah menjerit, melihat kondisi bayiku. aku pun tersenyum simpul, karena ini artinya aku dalam bahaya, dan tindakan selanjutnya adalah operasi sesar. Itu yang aku tunggu. karena menurutku semua akan selesai dengan sesar, bayiku keluar dan pasca operasi itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah bayiku keluar dari perutku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s