Proses Operasi Sesar atau Caesarean section di Jepang (3)

Situasi darurat di sematkan kepadaku setelah mengetahui bayiku sungsang di pembukaan tujuh centi meter. Dokter kandunganku datang memeriksa kondisiku,
“kok bisa ya setelah pembukaan tujuh centi meter, bayinya berputar 45 derajat” dokter kandunganku terus bergumam sembari tangannya memutar-mutar kamera USG diatas perut buncitku. Rasanya saat itu, aku ingin menjawab,
“percayalah dengan kekuatan doa, maka keajaiban akan selalu ada”

Posisi kakiku di naikkan, kateterisasi urine pun dilakukan. Infus ditambah.
“terima kasih ya nak, mama yakin anak mama anak yang hebat dan kuat, sabar ya sayang” bisik ku sembari terus mengelus perutku. Bayiku tidak lagi aktif bergerak seperti malam tadi, sepertinya dia mulai tenang dan paham kalau ini keputusan yang tepat untuk membantu mamanya. Dan Alloh lah yang menggerakan, doa ku di ijabah. Alhamdulillah

Suamiku datang dari pagi, menemaniku menunggu waktu masuk keruang operasi. Tidak ada ketegangan menuju waktu operasi, sepertinya aku sudah siap sekali menghadapi operasi besar ini. Suamiku pun terus bercerita hal-hal yang tidak lucu namun jadi lucu karena dia yang bercerita. Jam operasi sudah di tentukan, pukul 14.30 JST. Aina akan datang menunggu mamanya dioperasi bersama dengan ibu dan adikku.

Jam 14.20 JST, tempat tidur ku mulai di dorong untuk masuk ke ruang operasi. Sebelum masuk ke ruang operasi, aku bertemu dengan Aina, umi dan adikku. Mereka menciumi ku dan memberikan doa.
“ganbatte ne, mama” kata-kata penyemangat dari putri kecilku.

Masuk kedalam ruang operasi, suasana berubah. Aku merasakan ketegangan yang berusaha di cairkan. Para suster dan dokter dengan pakaian lengkap sudah menunggu. Salah seorang suster terus mengajakku bicara, menyampaikan kepadaku bahwa di awal team merasa khawatir ketika mengetahui pasiennya bukan orang Jepang, khawatir sulit berkomunikasi. Namun dari pihak ruang bersalin mengatakan bahwa aku cukup lancar berbahasa Jepang, dan memang terbukti ketika si suster berbicara denganku, semua lancar dan aku bisa berkomunikasi dengan baik. Maka gugurlah rasa khawatir team yang akan mengoperasi ku.

Semua ini karena Aina, putri pertama kami. Pengalaman hamil Aina, mengajarkan ku banyak hal. Terima kasih Aina.. Bukan mama-ayah yang mengajarkan Aina, tapi Aina-lah yang mengajarkan banyak hal kepada mama dan ayah.

Tubuhku dipindahkan ke meja operasi. Suster membantu untuk menekuk tubuhku seperti udang, supaya dokter bisa menyuntikan epidural di tulang belakangku. Epidural ini adalah suntikan bius lokal. Setiap ibu yang akan melakukan operasi sesar, wajib disuntikan epidural ini. Ketika jarum suntik masuk kedalam tulang belakang, rasanya sakit luar biasa. Hanya sebentar memang, namun cukup meninggalkan kenangan yang mengerikan.

Setelah itu aku diminta tiduran telentang. Di atas tubuhku, aku bisa melihat dengan jelas lampu operasi yang bersinar terang, seperti dalam film-film. Dokter anestesi duduk disamping wajahku sebelah kanan, aku bisa melihat matanya, karena beliau menggunakan masker dan tutup kepala, dokter ini sudah cukup umur karena kerutan disamping matanya terlihat jelas.

Aku harus terus terjaga, karena bayiku bergantung oksigen dariku. Dokter tersebut mengingatkan. Mereka memasang tirai di dadaku, ini bertujuan suapaya aku tidak bisa melihat tindakan apa yang mereka lakukan di perutku. Tindakan pertama adalah mereka melakukan pengetesan obat bius sudah berhasil atau belum dengan cara menggosokan kapas yang berakohol ke area dada ku kebawah. Ketika aku sudah tidak bisa merasakan apapun, mereka memulai tindakannya.

aku merasakan perutku seperti sedang digoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba aku melihat cipratan bercak darah di lampu operasi. Sepertinya dokter anestesi menyadari bahwa aku melihat percikan darah tersebut, beliau segera mengajakku berbicara tentang banyak hal. Bertanya apa saja yang sudah aku lakukan di Jepang, alasan apa yang membuat aku berada di Jepang. Sampai satu saat aku mulai merasa mengecil, aku merasa menjauh dari tubuhku, dan nafas ku mulai sesak.

“sensei, tasukete… tasukete..” aku berkata lirih meminta pertolongan kepada sang dokter. aku merasakan ada yang aneh dalam tubuhku, aku tidak mau menyerah, aku ingin bayi ku selamat. Bayi ku menggantungkan oksigennya dariku, aku tidak ingin menyerah sampai bayi ku benar-benar keluar dari tubuhku. Tolong aku dokter, tolong aku…

Sayup-sayup kudengar dokter anestesi memberikan aba-aba berhenti, dan banyak aba-aba keluar dari mulutnya. aku melihat samar-samar sang dokter menunjuk sana-sini, kemudian salah seorang dokter muda memasangkan alat bantu pernapasan di hidungku. Mungkin kurang lebih dua hingga tiga menit aku merasa mengecil, kemudian berangsur-angsur normal.

“septi san.. daijyobu desuka?” suara dokter anestesi menanyakan keadaanku berulang-ulang. hingga akhirnya aku bisa menjawab dengan mantap “DAIJYOBU DESU”
Operasi dilanjutkan kembali. Tidak berapa lama, salah seorang dokter muda mengangkat bayiku yang berwarna hijau tua, berlendir dan penuh bercak darah. Tanpa sadar aku menjerit
“ALLAHU AKBAR!!”
“Sensei, lihat bayi ku keluar.. sensei perjuanganku selama empat hari ini berhasil.. anakku keluar, apakah dia sehat, sensei periksa bayiku, apakah bayi normal, apakah sehat!” aku meracau sambil nangis tersedu. tangisanku pecah menggema di ruang operasi. Aku melihat sang dokter tua meneteskan air mata, dia membelai rambutku dengan lembut dan berkata,
“selamat septi san, bayi kamu sehat. Kamu ibu yang hebat.. ”
Para dokter dan suster bergantian menghampiriku dan mengucapkan selamat, hampir semua meneteskan airmata.

Bayiku segera dibawa keruang perawatan, sementara aku masih menjalani operasi.

Ditempat berbeda, suamiku dipanggil oleh dokter yang menangani operasiku. Sang dokter menjelaskan bahwa operasi ku berhasil namun kemungkinan proses penyembuhanku lebih lama dari orang operasi sesar pada umumnya dikarenakan rahimku yang membesar seukuran dengan orang hamil kembar, dan tekanan dari induksi yang mengikis energiku.

Selesai operasi, aku di pindahkan dari meja operasi ke tempat tidur dorong. Kemudian aku di dorong keluar dari ruang operasi. sayup-sayup terdengar suara Aina, dan dengan sisa-sisa tenaga, aku refleks memanggil nama putriku, “AINA.. ini mama nak!”
Dua orang suster yang mendorongku, menatapku dengan tatapan penuh kasih dan berkata,
“kekuatan seorang Ibu tidak pernah terkalahkan”
Aina yang mendengar teriakan ku berlari sambil memanggil ku,
“mama.. mama i love you”
Pecah lagi lah tangisanku. aku melihat umi dan adikku ikut menghampiriku. Dengan segera umi mencium keningku, aina pun tidak mau kalah, dia melompat-lompat menggapai wajahku. Kemudian adikku dengan segera menggendong aina dan membantu supaya bisa mengecup pipiku.
“mama nya harus segera masuk ruang perawatan ya” tegur sang suster setelah aina puas menciumku.

Kemudian aku di dorong masuk ke ruang persalinan. Dari kejauhan aku masih melihat aina melambaikan tangan dan umi yang terus menyeka air mata. Malam itu aku merasa panjang sekali. Karena setiap jam suster datang memeriksa keadaanku sambil membangunkan ku, namun tidak ada satupun bagian tubuh yang bisa kugerakan. Banyak sekali selang-selang yang menempel di tubuhku, dan aku tidak tahu selang apakah itu.

Di pagi hari, mulai banyak selang yang dicabut dari tubuhku.
“selamat pagi septi san, nanti jam 9 septi san sudah harus belajar berdiri dan jalan ya. Nanti langsung kasih ASI ke bayi nya” seorang suster menjelaskan kepadaku sembari mencopot beberapa selang dan mengantarkan sarapan pagi ku. Mereka memberiku air rebusan beras, benar-benar hanya air saja. Tidak ada makanan padat satu pun dalam menu sarapan pagi ku.
Aku ingin melihat bayiku. Tapi aku masih merasa tubuh ku tidak bisa digerakan.
“kalau tidak dipaksa secepatnya belajar berdiri dan berjalan, nanti penyembuhannya akan tambah lama, kasihan bayinya” timpal sang suster seperti bisa membaca fikiranku.

Kemudian sang suster menaikan posisi tempat tidurku dibagian kepala hingga badanku terangkat sekitar 45 derajat.
“pelan-pelan naikkan posisi kepalanya jadi 80 derajat ya. setelah itu turunkan kakinya kelantai perlahan-lahan. Lakukan setelah selesai sarapan ya.” sang suster mengajarkan ku. setelah itu dia meninggalkanku sendiri.

Ku ikuti semua arahannya. Sampai akhirnya aku bisa membelokan tubuhku dan menurunkan kaki ku ke lantai. Tak henti-hentinya istighfar keluar dari bibirku. Betapa beratnya proses ini, dan berharap Alloh memberikan ku kekuatan lebih dan lebih lagi. Teringat bayi kecilku yang butuh ASI, dan betapa khawatirnya aku kalau sampai bayi ku diberikan susu formula yang mengandung zat-zat yang tidak halal. Sebelum melahirkan, aku sudah memastikan bahwa hanya satu merk susu formula yang bisa di konsumsi oleh muslim, dan aku ingin memberikan sufor itu sebagai bantuan apabila ASI ku belum keluar. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa merk sufor yang digunakan itu berganti-ganti, tidak satu merk saja. Jadi tidak bisa memberikan jawaban pasti merk apa yang akan diberikan kepada bayi ku nanti. Dan mereka juga tidak mengizinkan untuk aku membawa susu sendiri dengan alasan keamanan bayi. Aku pasrah. Tapi tetap saja rasa khawatir ku lebih kuat. aku ingin memberikan ASI, dan sebisa mungkin tidak perlu sufor.

Dan akhirnya dengan dua kali melahirkan di Jepang, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa, kedua tempat bersalin sangat mendukung ASI sebagai makanan utama bayi, namun tidak mengizinkan bayi menahan haus lebih dari 4 jam, maka sebelum sang ibu bisa memberikan ASI eksklusif, maka wajib dibantu dengan sufor.

“Bismillah” ku ucapkan dengan pasti. Kuangkat tubuhku dengan bantuan tiang infus. Penuh perjuangan aku tertatih-tatih menuju ruang bayi yang memang tidak begitu jauh dari kamar bersalinku. Suster pertama yang bertemu dengan ku kaget luar biasa, dan dia langsung memapahku menuju ruang bayi, membantu ku duduk di sofa kemudian membawa bayi mungilku kepangkuanku.

“MasyaAllah.. Allahu akbar..” gumamku ditelinga bayi mungilku, lagi-lagi airmata menetes deras. Betapa bayi ini mengajarkan ku bagaimana arti berjuang, arti tidak boleh menyerah.

Mama sayang kamu ARINA KENES THOLKHAH..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s