UU OMNIBUS LAW dan cara kerja di Jepang

aku tidak ingin berkomentar soal urusan demo tentang UU Omnibus Law yang sedang berlangsung di Indonesia, karena memang aku tidak berada di sana, saat ini.
Tapi kalau kalian bertanya dan ingin tahu soal cara kerja di Jepang, dengan senang hati aku akan berbagi kisah pengalamanku di Jepang.

Sebelum jadi karyawan kantoran, aku pernah merasakan jadi karyawan kontrak, sebelumya lagi jadi pekerja paruh waktu. Pekerja paruh waktu aku kerjakan ketika masih berstatus mahasiswa. Sepulang dari kuliah, aku pergi bekerja di restauran Indonesia. Ketika libur bekerja di restoran Indonesia, aku bekerja paruh waktu menjadi guru private bahasa Indonesia untuk orang Jepang, dan ada juga job menjadi model foto di sebuah perusahaan kecantikan. Ketika liburan musim panas, aku bekerja sebagai tour guide. Semua pekerjaan itu selalu di hitung per jam. Artinya berapa jam aku bekerja, ya disitulah upahku akan di hitung. Kalau jam kerjanya lebih dari 4 jam, maka akan dapat kebijakan untuk mendapatkan jatah jam istirahat satu jam.

Hitungan upah per jam tiap daerah di Jepang itu berbeda. Karena aku tinggal di Tokyo, jadi hanya Tokyo yang bisa aku jelaskan. Pada saat aku mulai bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, gaji ku perjam adalah 800 JPY. saat itu, Peraturan pembatasan jam kerja bagi pelajar belum seketat sekarang, dulu bisa bekerja sekuat dan sesanggupnya, tapi 5 tahun terakhir peraturan makin ketat. Pemegang Visa pelajar dan selain visa kerja, hanya bisa bekerja maksimal 28 jam satu minggu.

Seiring berjalannya waktu, aku mendapatkan kenaikan gaji perjam, jadi 850 JPY. Disela-sela bekerja di Restoran, aku pernah mencicipi bekeja menjadi model, disitulah bayaran yang lumayan mahal untukku. Aku hanya bekerja tiga jam, tapi bisa mendapatkan uang sebesar 10,000 JPY. Setiap jamnya di hitung 2500 JPY plus transport. Untuk bekerja sebagai guru private B. Indonesia, setiap jamnya aku dibayar sebesar 2000 JPY.

Semua pekerjaan paruh waktu itu sangat berarti untukku. Jadi sebisa mungkin tidak akan pernah aku bolos bekerja. Aku jaga kesehatan dengan baik, karena satu jam saja berkurang, maka hidupku di ujung tanduk, maklum bukan penerima beasiswa sejati. Bayar apartemen, air, gas dan listrik. Bayar telpon, biaya makan dan semua biaya hidup harus kutanggung sendiri. Di tahun terakhir kuliah, aku bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan jasa kirim uang, tugasku saat itu adalah melipat formulir pendaftaran dan berbagai macam pekerjaan kecil. Tapi, karena aku bisa membaca dan menulis serta bicara bahasa Jepang, sementara salah satu staff orang Indonesia di situ sama sekali tidak bisa bahasa Jepang, maka beliau meminta bantuanku.

Dari situ, aku mulai bekerja menjadi karyawan kontrak. Perhitungan gaji ku bulat perbulan, aku mulai merasa lega, akhirnya aku bisa memiliki pemasukan yang tetap. Tapi tetap saja, ketika aku bolos karena masuk angin, gajiku di potong. Pemotongan gaji sesuai dengan hari aku bolos. Dan di Jepang tidak ada sistem surat sakit. Kalau terlambat, gaji juga di potong. Dari situ, aku memasang target untuk jadi karyawan tetap. Aku menjaga kesehatan agar tidak pernah bolos, aku bekerja keras dan cerdas untuk bisa mencapai targetku.

Setelah lulus kuliah, aku pun diangkat menjadi karyawan tetap. Betapa bahagianya. Tapi peraturan tentang jam kerja tidak berubah. Telat ke kantor ya di potong gajiku, malah potongannya jadi lebih besar karena di hitung dari jumlah gaji pokok. Kalau sakit pun tetap di potong gaji, kecuali aku ambil cuti.

Tidak ada yang berubah dari aku pekerja paruh waktu, karyawan kontrak sampai dengan karyawan tetap, perhitungan penggajian tetap sama. Berapa jam kamu bekerja, itulah bayaran kamu. Untuk menjadi karyawan tetap pun, tidak di atur oleh undang-undang. Selama kamu bekerja keras dan bekerja cerdas, maka kamu memiliki peluang untuk menjadi karyawan tetap. Tapi kalau kamu bekerja seenaknya, maka lupakanlah impian menjadi karyawan tetap.

Setiap masuk kesebuah perusahaan, aku selalu meminta waktu untuk sholat. Aku meminta jatah 10 menit untuk sholat ashar. Dan itu aku ambil di jam coffe break. Untul sholat dzuhur, aku ambil di jam makan siang, jadi tidak mengganggu waktu kerja. Ketika makan siang, aku selalu selesai makan jam 12:50 menit, karena sisa 10 menit aku gunakan untuk sholat. Jam 13:00 aku sudah duduk berhadapan dengan komputerku, siap untuk kembali bekerja. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dan menggunakan alasan “sholat” supaya di maklumi. Aku berusaha menunjukan bahwa ibadah atau sholat tidak akan mengganggu jam kerja, tidak akan mengurangi kwalitasku sebagai karyawan.

Dengan sikapku demikian, Alhamdulillah tidak pernah ada satu masalahpun timbul karena urusan shalat-ku. Suamiku juga sama, dia selalu bilang bahwa hari Jumat adalah hari dimana dia wajib shalat Jumat. Jadi dia selalu makan siang dengan cepat, dan langsung berangkat ke masjid terdekat untuk shalat Jumat.

Aku berdoa, semoga para pengusaha bisa bersikap adil dan mensejahterakan karyawannya. Tidak menyalahgunakan UU ini untuk kepentingan pribadi. Dan bagi teman-teman pekerja, semoga selalu diberikan kesehatan dan kemampuan untuk bisa bekerja dengan baik, menjaga kwalitas diri dan pekerjaannya, tepat waktu dan tidak menyalahgunakan kewajiban beribadah untuk alasan tidak disiplin dalam pekerjaan

Terima kasih.
Semangat

7 Comments

    1. iya bener mba, kaku banget disini untuk urusan peraturan, baku sekali. Dan untuk jam kerja yang panjang itu sebenarnya sesuai aturan kerja pada umumnya, yaitu dalam seminggu 40 jam kerja. Cuma saja orang Jepang itu hobi banget lembur, takut pekerjaannya tidak sesuai dengan dead line nya, jadi mereka memilih lembur.. πŸ˜›

      Like

      1. Berarti mungkin kadang loadnya ya yang kebanyakan, jadi harus lembur lembur. Aku pernah liat di youtube ada lawyer Inggris yang magang di Jepang, tiap hari pulang jam 11 malam, pagi2 udah berangkat lagi, hadehhh πŸ™‚

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s