Day 5; Parent. Orangtua ku Panutanku

Tema kali ini membahas tentang Orang tua. Sama dengan membahas tentang anak-anakku, membahas orang tua pun bagi ku menguras banyak emosi. Betapa rasa kehilangan Papa 4 tahun yang lalu belum bisa dan mungkin saja tidak akan pernah bisa terobati.

Namun di tulisanku ini, aku akan membahas tentang cara mereka berdua saling mencintai. Indah.. Betapa papa sampai setua itu masih sangat cemburu-an. Rasa cintanya kepada umi, tidak pernah terukur oleh apapun.

Tahun 2013, Papa mendapatkan tugas untuk menghadiri seminar perbankan di Tokyo. Aku menjemput papa di bandara narita, papa menolak untuk tidur di hotel, dan lebih memilih tidur di apartemenku. Seminar berlangsung 2 hari full, selesai seminar, aku jemput papa dan pulang ke apartemenku. Saat itulah aku baru sadar betapa dalam setiap aktivitasnya, istrinyalah sosok yang selalu di ingat.

Setiap Papa makan makanan enak dan lezat, dia langsung berbisik kepadaku “umi pasti doyan nih, kalau dekat pasti jatah papa bungkus aja deh buat umi dirumah”.
Ketika Papa makan buah khaki, dia berkata “ini sih buah kesemek, umi pasti suka nih. besok beli dong sekilo, buat oleh-oleh umi”. Dan benar saja, di dalam koper, buah kesemek pun masuk jadi oleh-oleh untuk umi. Sebegitu cintanya papa terhadap Umi. Setiap ada hal yang menyenangkan, hal lucu, menarik atau apapun itu, pasti papa berkata kepada ku ” kalau ada umi, pasti umi ketawa nih.. pasti umi mau nih.. pasti umi ini dan itu..”

Papa memang bukan laki-laki romantis, dia sangat pendiam dan jarang berbicara. Dia hanya bicara seperlunya saja. Tapi sikapnya sungguh hangat, terlebih lagi kepada umi. Sering sekali ketika dia mendapatkan jatah makanan enak di kantor, dia bawa pulang meskipun hanya satu biji risol. Dia bungkus dengan tissu, dan di berikan kepada umi. Dia selalu memastikan bahwa istri dan anak-anaknya tidak pernah kekurangan makanan.

Betapa bersyukurnya aku terlahir menjadi anak mereka, karena dari merekalah aku melihat arti cinta sejati. Segala kesulitan hidup mereka hadapi berdua, hingga ajal memisahkan mereka. Seingatku, aku tidak pernah mendengar mereka bertengkar masalah uang atau ekonomi, tapi sering sekali kami anak-anaknya mendengar pertengkaran receh yang membuat kami anak-anaknya malah tertawa. Pertengkaran sepele, seperti si umi yang kelamaan berbelanja di warung sayur yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Papa marah, karena merasa terlalu lama ditinggalkan…

Umi bercerita kepadaku sebuah kenangan terakhir sebelum papa sakit dan meninggal. Satu malam, tiba-tiba hujan deras, dan papa sedang menjadi Imam shalat isha di mushola dekat rumah kami. Setelah sholat selesai, dan hujan masih deras turun, umi menjemput papa, membawakan payung untuk papa, tapi papa menolak, papa memilih satu payung berdua dengan umi. Papa berjalan sembari merangkul umi dan terlihat sangat senang. Dan itu kenangan terakhir mereka. Setelah itu kesehatan papa berangsur-angsur menurun, sel kanker mulai menggerogoti tubuhnya.

Setelah di vonis kanker paru, hari-hari keluargaku berubah drastis. Kami menjadi sangat tegang, dan diliputi rasa takut yang berlebihan. Namun tidak bagi kedua sejoli ini, mereka terlihat tenang dan santai setelah mendengar vonis tersebut. Umi tidak pernah meninggalkan papa, umi mengurus papa dengan seluruh tenaga dan cintanya, baktinya terhadap suami menjadi panutan untuk kami anak-anaknya. Kesabarannya menemani papa di akhir hayat menjadi kenangan yang tidak akan kami lupakan.

Hanya butuh waktu satu setengah bulan saja untuk bertahan, dan pada tanggal 14 september 2016, papa meninggalkan kami semua. Meninggalkan istri tercinta. Umi sudah ikhlas, dan aku melihat keikhlasan itu, namun tetap saja berat baginya. Di hari tua, di mana semua anaknya sudah berkeluarga, cita-cita mereka berdua untuk menghabiskan hari tua bersama-sama, kandas. Dan umi sendiri.

Tapi ada satu cerita umi yang membuatku tersentuh, dia sangat bersyukur karena diberikan kesempatan oleh Alloh untuk menemani suaminya menjalani syakaratul maut, menjadi orang terakhir yang di lihat oleh suaminya di ujung hidupnya, menjadi penuntun suaminya bersyahadat di akhir hayat, Jadi orang terakhir yang ada di pelupuk mata cinta sejatinya.

Dari kisah orang tua ku ini, aku pun berdoa, aku memohon kepada Alloh agar satu hari nanti ketika nyawaku akan lepas dari raga ini, aku ingin suamiku lah orang terakhir yang aku lihat, menjadi orang yang menuntunku untuk bersyahadat di ujung usiaku, begitupun sebaliknya. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: