Bag- 1 “Lelaki di Restoran”

Aku tidak ingin mengingatnya, tapi ucapan ibu mas Radit selalu terlintas sepanjang sore ini, membuat dada ku sesak. Mas Radit tidak salah, dia tidak berhak aku salahkan.

Aku harus mengambil keputusan.

“hallo, ma.. assalamualaikum”
“waalaikum salam. Gara sudah pulang kantor? sudah makan? sudah sholat” mama menghujani ku dengan pertanyaan.
“sudah. Gara mau bicara ma, mama lagi apa?”
“Gara, ini undangan kamu gimana sih, masa nama Papa salah, salah banget ini namanya. gimana sih?”
“iya, engga usah diganti ma. di cancel aja”
“cancel gimana? kamu mau ganti percetakan? nanti repot lagi, ini sudah sebulan lagi!”
“nikahnya cancel aja, ma!”
“astagfirullah.. Kanigara kamu bicara apa sih. kamu bertengkar dengan mas Radit? jangan sembarangan kalau bicara!”

meledak lah tangisku. tak kuasa aku menahan kesedihan ini, rasa marah, rasa benci yang membuncah.
“Gara, kenapa nak? istighfar sayang. ” bujuk mama, suara mama mulai terdengar panik.
“mama.. Gara mau cancel nikahnya, Gara engga mau nikah ma..” ratapku
“minum dulu sayang, tarik nafas, selesaikan tangisnya ya..” mama terdengar sedang berusaha agar dia pun tenang menghadapi tangisku.

“mama, sore tadi ibunya mas Radit telpon. beliau bilang kalau dana untuk acara pernikahan aku dan mas Radit kurang. Beliau minta bantuan ke aku sekitar 100 juta, tapi aku engga boleh bilang mama dan keluarga yang lain, juga tidak boleh ngatakan hal ini ke mas Radit. alasannya karena harga diri keluarga mereka akan tercoreng”
“apa-apan ini, mereka sedang bangkrut tapi tidak mau terlihat bangkrut..!” suara mama terdengar meninggi.

“mereka tetap ingin melangsungkan acara akad, resepsi dan ngunduh mantu. Tapi dana mereka kurang, ma”
“kalau kurang tidak perlu lah sampai seperti itu, yang semampunya saja. kenapa harus maksa dan yang ditekan kok kamu?”
“entah lah, ma.” jawabku lirih.

“ya sudah, kamu istirahat dulu. nanti kita bicara lagi ya..”
“iya, ma. assalamualaikum”

ku akhiri perbincangan itu. Dada ku sesak rasanya, kenapa mereka seperti itu.

kalimat yang keluar dari mulut ibu mas Radit tak sampai hati ku sampaikan kepada mama, karena aku tahu pasti mama tidak akan pernah bisa berkata seperti itu. Mama selalu berkata bahwa anak dan menantu itu sama, sama-sama anak mama-papa. Itu bukan di mulut mama saja, sering sekali Saras yang lebih di marahi mama ketika sedang bertengkar dengan suaminya.

Jadi bagiku ini aneh dan sangat mengerikan, aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini. Tapi, aku mencintai mas Radit. Tujuh tahun sudah hubungan kami, dan aku merasa mas Radit lah yang bisa membuatku bahagia.

jam 11 malam waktu Tokyo, telponku berdering tiada henti. Tapi aku tidak ada gairah untuk menjawab telpon itu. Bersyukur sekali aku di anugerahi kemampuan tidur yang tidak akan berpengaruh dengan masalah seberat apapun. Malam itu aku tetap tertidur dengan nyenyak, hingga alarm pagi berbunyi.


“semalam kamu sudah tidur ya? nanti kalau ada waktu, kabari ya, aku telpon kamu” pesan singkat dari mas Radit masuk ke aplikasi WA. Aku hanya membaca, tanpa aku balas.

Seharian aku disibukan dengan meeting yang tiada henti. Persiapan project baru yang akan di luncurkan di Indonesia bulan depan sangat menyita waktu dan pikiranku. Aku sengaja memilih tanggal pernikahan yang berdekatan dengan tanggal launching produk baru kami di Jakarta, karena setelah launching, aku bisa lanjutkan dengan cuti menikah di Jakarta.

Aku sama sekali tidak memperdulikan pesan WA dari mas Radit yang terus masuk. Dada ku sesak setiap kali memandang semua pesan dari nya. Maafkan aku mas..

jam 8 malam waktu Tokyo, dan aku baru selesai meeting terakhir dengan EO di Indonesia yang akan menangani peluncuran produk perusahaan kami nanti.

Rasa lapar mulai menggigit perutku, karena memang siang tadi aku hanya makan burger setangkup, tanpa makanan yang lain lagi.

Segera kurapihkan barang-barangku, dan ku putuskan untuk singgah ke izakaya yang tidak jauh dari kantor. Disana ada sate ayam yang lezat.

Ketika aku masuk kedalam restoran, hampir semua meja terisi penuh, nyaris aku tidak dapat tempat duduk. Namun beruntung sekali aku bertemu pandang dengan seorang laki-laki di meja yang berada di ujung ruangan. Dia melambaikan tangannya ke arahku, dan entah kenapa aku langsung merasa terselamatkan dengan lambaiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.
%d bloggers like this: