Bag 2 “Bunuh Diri”

“hi.. bapak temannya Arman kan ya?” tanyaku sembari ku menarik kursi dan duduk tanpa di persilahkan
“iya bener. Kamu Gara kan teman kuliahnya Arman. Nama kamu sebenarnya siapa sih, kok dipanggil Gara?”
“hehehe.. nama aku Kanigara, Kanigara Banu, jadi dipanggilnya Gara. Jawabku
“oo begitu. namanya unik sekali. Artinya apa?

“Kanigara itu dari bahasa sansekerta artinya mahkota, kalau digabungkan artinya pemimpin yang berwibawa. almarhum Papa sangat ingin anak-anak perempuannya tumbuh menjadi perempuan kuat, tangguh dan mandiri.”

“wow.. bagus sekali arti nama kamu. Papa sudah meninggal?”
“iya, sudah 6 tahun yang lalu.”
“Arman tuh sering bercerita tentang kamu.” Pak Robi mengubah topik perbincangan.
“cerita apa dia? sudah lama juga sih kami tidak ngobrol. Bagaimana kabarnya”
“Sudah kerja sekarang di KBRI, tapi masih tinggal bareng gw sih.”
“loh bapak memang tidak tinggal bersama keluarga?”
“engga, istri gw sudah selesai tugasnya di Tokyo, tapi karena semua usaha gw di Indonesia gw tutup dan gw mendapat pekerjaan di sini, ya sudah gw lanjut disini, istri dan anak pulang”
“oo gitu, makanya Arman tinggal bareng bapak gitu ya”
“ho oh. Panggil bang saja ya, biar sama seperti Arman, lagian gw juga belum tua-tua amat”

“WA nya bunyi terus tuh, kok engga di jawab?” tanya bang Robi
“gpp, biar saja.”
“biasa kalau mau nikah, memang sering ada masalah. Memang harus banyak sabar”
“memang dulu pak Robi, eh bang Robi gitu ya”” tanya ku datar, hanya basa-basi.
“engga sih. soalnya gw nikahnya tafakur”
“tafakur..?? ta`aruf kali..”
“eeehhh.. sudah ganti istilahnya..”
“hehe.. hehe.. hahahhahaha” aku pun tertawa terbahak-bahak, entah kenapa lelucon garing seperti itu bisa menghiburku.

Pembicaraan kami malam itu penuh dengan tawa, karena ternyata Bang Robi ini punya banyak lelucon-lelucon yang sangat menghibur.

“jam 9.30 nih, aku pulang ya. ada janji telpon mama”
“yuk, barengan saja. kita tinggal di satu jalur kereta kok. kamu di kichijouji kan.”
“kok tahu sih, pasti dari Arman ya”
“iyalah..”

Bang Robi memaksa untuk membayar semua makanan kami, dengan alasan dia merasa senang karena di temani oleh ku. Sebaliknya, aku lah yang merasa tertolong karena di beri tempat duduk, dan juga terhibur oleh lelucon-leluconnya.

kantor tempat Bang Robi bekerja ternyata buka cabang di dekat kantorku, dan dia di pindah tugaskan di kantor cabang itu. Hari ini adalah hari pertamanya ngantor di kantor baru.

Dan aku berjanji akan membalas traktiran malam ini.

“sini tas laptopnya gw bawain.”
“engga usah bang, gpp kok” aku menolak tawarannya.
“engga apa-apa, pakai saja dulu sarung tangannya, dingin kan diluar”

akhirnya aku mengalah, aku berikan kepada bang Robi tas laptop berwarna merah maroon. Dan dengan hati-hati diterima olehnya.

Suhu di Tokyo pada bulan Januari sekitar nol sampai dengan minus lima derajat dan itu cukup membuat perih jari jemari ini. Saat seperti ini, sarung tangan sangat dibutuhkan.

Apartemen ku berada di pinggiran kota Tokyo, perjalanan dari kantor ke apartemenku memakan waktu 45 menit dengan kereta cepat, tapi harus berganti kereta terlebih dahulu di Shinjyuku stasiun. Malam itu, setibanya di Shinjyuku stasiun kereta cukup padat, aku dan bang Robi memutuskan untuk menggunakan kereta biasa yang berhenti di hampir setiap stasiun. Kami masuk di gerbong terdepan, tepat di belakang ruang masinis. Tempat duduk terisi penuh, aku memilih berdiri sambil bersandar di pintu kereta dan menghadap jalanan. Bang Robi berdiri di hadapanku, kami saling sibuk dengan smartphone masing-masing. Kereta melaju hanya beberapa menit, kemudian berjalan melambat, terdengar suara masinis memberitahukan bahwa kereta memasuki stasiun ookubu. Hanya 1 menit kereta berhenti, kemudian melanjutkan kembali perjalanan. Kereta melaju dengan cepat hanya kira-kira 50 detik kemudian kembali melambat. Suara masinis kembali terdengar mengumumkan bahwa kereta akan segera memasuki stasiun higashi nakano, stasiun ketiga dari Shinjyuku. Tiba-tiba saja dari sudut mataku, aku bisa melihat bayangan hitam melayang dan di ikuti suara jeritan histeris seorang wanita yang sedang berdiri di dalam kereta dengan posisi menghadap kearah peron. Beberapa detik selanjutnya suara derit himpitan besi yang ditekan kencang memekakan telinga, dan aku merasakan kereta seperti menggilas gundukan, semacam polisi tidur.
“Krek”

Kereta berhenti. Wanita yang menjerit langsung jongkok memeluk kedua kakinya, tidak ada yang berusaha menenangkannya, karena aku yakin hampir semua merasakan hal yang sama, Shock..!!
Aku masih tidak mempercayai apa yang terjadi, apakah benar kali ini aku berada didalam kereta yang jadi pelampiasan orang-orang untuk mengakhiri hidupnya? Karena selama ini aku selalu berada diposisi calon penumpang yang harus berdesakan antri untuk naik kereta yang telat karena ada kecelakaan 自身事故[jisin jiko]-personal injury.

Aku merasakan ada yang menonjok-nonjok kulit perutku dari dalam, diikuti rasa asam dari lambung yang naik ketenggorokan mendesak ingin keluar dari mulutku. Kepalaku pusing, lututku lemas dan akupun ikut jongkok berusaha melindungi seluruh bagian tubuhku dengan kedua tanganku. Bang Robi dengan cepat merangkul ku, aku bersimpuh di pelukannya.

“Gara, kamu tidak apa-apa?” bang Robi meraih sebotol teh hijau yang menyembul keluar dari tasku, membuka tutupnya dan menyodorkan ke mulutku.
“minum ini, baca doa ya, biar agak tenang” sarannya

Kuteguk teh tersebut, kurasakan perlahan rasa asam turun kembali kelambungku, namun tonjokan kecil masih bisa kurasakan. Kulihat sekeliling, ada yang tenang dan tetap fokus dengan smartphonenya, ada juga beberapa orang yang wajahnya pucat. Suara-suara petugas terdengar jelas, dan juga suara jeritan sirine. Ada beberapa petugas masuk kedalam gerbongku melalui gerbong sebelahnya, mengajak orang-orang yang wajahnya pucat keluar dari gerbong tersebut. Pintu keluar digerbong tempat ku berada tidak bisa terbuka, karena ada bagian tubuh yang mengganjal sehingga pintu tidak bisa dibuka, dan mengharuskan keluar dengan cara menyusuri gerbong lainnya.

Sekitar 30 menit kami menunggu giliran kami untuk bisa keluar dari dalam gerbong. Setibanya di luar gerbong, aku mencium bau amis darah, langsung perutku terasa mual dan aku pun berlari menuju toilet umum, aku muntahkan semua isi perut, aku berharap semua rasa sesak di dadaku pun ikut keluar, agar aku bisa kembali bernafas dengan lega.

Setelah tidak ada lagi yang bisa kumuntahkan, rasa mual itu pun berhenti, aku merasakan tidak memiliki tulang-tulang yang kuat untuk menopang tubuhku. Aku berjalan perlahan keluar dari toilet sembari berpegangan pada dinding toilet, ternyata bang Robi masih menungguku, wajahnya terlihat khawatir.

Dia langsung menyambut tubuhku yang lemah, memapahku berjalan menuju kursi yang berada tidak jauh dari toilet dan membantu ku untuk duduk.

“nih minum” bang Robi menyodorkan sebotol teh hijau yang masih hangat.
“terima kasih. Bang, pindah yuk, bau banget nih aku engga tahan”
“gw bau ya..?”
“iiih.. bukan. itu bau amis”
“oo kirain”
“kita tunggu di restoran itu saja yuk, nanti Arman datang kok, dia akan jemput kita. tadi gw telpon, pas banget dia memang lagi dijalan balik dan bawa mobil pulang”
“hah? aku engga apa-apa kok. bisa naik bus juga dari sini”
“udah engga apa-apa. kelamaan naik bus. dingin. lagian kamu juga sepertinya kurang sehat juga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: