Bag 3 “Kalau saja Papa masih ada..”

“Gara, lo baik-baik aja?” tanya Arman ketika baru saja aku hempaskan tubuhku di jok mobil bagian belakang
“alhamdulillah baik. makasih ya sudah jemput. lo masih inget apartemen gw, man?”
“inget dong, masa lupa sih.” jawab Arman santai.
“ya udah, gw tidur ya, lemas banget nih”
“masukin alamatnya saja, biar engga nyasar.” pinta bang Robi.
“nih masukin ke google gw aja” tambah bang Robi sembari meyodorkan smartphone nya.
aku pun menuruti permintaannya, aku masukan alamat apartemenku. kemudian mencoba tidur.

Namun smartphone ku terus bergetar tidak henti-hentinya, akupun merasa terganggu. Ku putuskan untuk menjawab telpon dari mas Radit

“assalamualaikum.. Gara, kamu baik-baik saja? aku telpon dari kemarin malam tapi kamu engga jawab juga. Mama kamu aku WA juga belum dibalas. kamu baik-baik saja kan?”
“mas, aku mau batalin pernikahan kita. kita putus. kamu tanya ibu kamu saja. biar dia yang Jelaskan. sudah ya.”
langsung ku matikan telpon dari mas Radit dan segera ku hubungi mama.

“Gara, kemana aja sih, sudah dirumah?” mama membuka pembicaraan
“mama, Gara barusan sudah telpon mas Radit, aku sudah batalkan pernikahan ini. maafin aku, ma…”
“kamu kenapa terburu-buru sekali sih, kenapa tidak kamu bicarakan baik-baik. jangan terbawa emosi”
“ini bukan emosi, ma.. Gara sudah tidak bisa melanjutkan ini semua.!”
“kalau soal uang, mama bisa bantu. Papa mu meninggalkan kita dengan persiapan matang, jangan khawatir”
“mama.. bukan uang masalahnya”
“kalau saja Papa masih hidup, tidak begini ceritanya..” lirih mama

“stop, ma. Gara tidak mau bertengkar dengan mama.”
“mama tidak mengajak kamu bertengkar.”
“Sudah kak, besok kita bicara lagi” tiba-tiba suara mama berganti dengan suara Saras. Telpon di ambil alih oleh adikku.

Di dalam mobil Arman, suhu nya hangat, namun hatiku terasa membeku. Ada beban yang mengganjal di dada dan sulit ku gambarkan. Sepanjang jalan, kami semua terdiam. Tidak ada lagu yang mengalun dari radio dalam mobil, hanya terdengar deru suara mobil, dan itu membuat ku merasa semakin pilu.

“Gara, sudah sampai ya. kamu baik-baik saja? mau kami temani?” tanya bang Robi.
“Engga apa-apa bang, aku mau istirahat saja malam ini. terima kasih ya untuk malam ini. Terima kasih ya, man” jawabku sembari ku turun dari mobil.

Suasana malam yang cukup redup, karena penerangan hanya dari lampu jalan saja. Tanpa menoleh, aku melangkah lurus memasuki gedung apartemen. Malam itu makin terasa dingin, hatiku dingin, getir, sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: