Bag- 4 “Sepiring Nasi Uduk”

Segera kusiapkan air hangat di bath up. Air hangat membantu mengendurkan oto-otot tubuhku yang seharian ini terasa tegang. Sembari berendam, aku terus memainkan smartphone ku.

Tiba-tiba ada video call dari grup “anak pak Alwi”. kak Gaya dan adik ku Saras.
“woi..” sapaku
“nih kak, gadis pembuat onar sudah masuk” Saras membuka pembicaraan
“paan si, ras..” jawabku
“hei.. andaaa gadis Jepang. Kenapa anda buat keributan sebelum mendapat persetujuan saya, ketua suku kalian” Sapa kakakku, Gayatri.
“paan si lu, kak.”
“elu mah aneh sih. udah tau bu Alwi orangnya melow drama, segala bilang ke dia duluan. Kasih tahu ke kita dulu kenapa sih..” cerocos kak Gaya, tanpa henti.
“gw tuh bingung, kak. orang yang gw inget pertama kali itu ya mama. siapa lagi”
“bu alwi sedang dikamarnya, sedang tadarusan. berdoa semoga anak gadisnya yang di Jepang segera waras..!” Saras menimpali.
“anak lo dimana, laki lo dimana, Ras?” tanyaku
“mereka aman, sudah molor*” jawab Saras.

ku hela nafas panjang.

“Gara, coba ceritakan yang jelas, gw penarasan nih”
“jadi kak, dua hari lalu ibu nya Radit telpon gw nih. Dia bilang dana untuk acara ngunduh mantu kurang, minta bantuan, SERATUS JUTA..”
“wooow.. “sahut kak Gaya dan Saras serempak.
“trus yang bikin kesel tuh ya, gw engga boleh bilang sm mama dan keluarga yang lain, dan juga ke si Radit”

“dih, norak amat..!”
“diem dulu, Saras…!” kak Gaya berkomentar

“alasanya karena keluarga mereka tidak mau dipermalukan didepan keluarga kita, masa dibantuin sama keluarga si Kanigara, uang darimana keluarganya, kan papa nya sudah lama meninggal”
“hah..!! dia ngomong begitu…??!” Saras terlihat sangat emosi

“Saras..jangan motong dulu!” bentak kak Gaya
“iya, ibu nya mas Radit berkata seperti itu. sedih ya… mentang-mentang kita anak yatim..” jawabku

“wah itu sih keterlaluan..”kak Gaya menimpali

“adalagi sih yang bikin gw kesel banget”
“apa apa.. buruan” tanya Saras penasaran.

“Gara, kamu kan sudah mendekati umur TIGA PULUH TAHUN, kamu juga sudah di “langkahi” oleh adikmu, jadi lebih baik kalian segera menikah, jadi perawan tua itu kurang bagus.” aku menirukan ucapan ibu nya mas Radit.
“HAH..! Gila itu sih, parah banget mulutnya. udeh bener deh keputusan lo, PUTUSIN, cancel pernikahan lo. duit bisa dicari, elo bisa milih kebahagian lo sendiri, jangan lo masuk ke lingkungan yang jelas-jelas bakalan jadi toxic dalam hidup lo.” Kak Gaya pun terbakar emosinya.

“Besok aku bilang ke mama deh, untuk mendukung keputusan kakak.”
“tapi elo kaga perlu cerita detailnya ya, Ras. Cukup mereka minta uang aja dan tidak ingin orang tahu. sudah sampai situ saja.” pintaku
“siap kak..”
“tapi lo tetap pulang kan ke Jagakarsa? gw udah beli tiket nih, jangan cancel ya. Glasgow – Jakarta kan jauh dan mahal, sist..”
“iya kak, gw juga udah beli tiket PP Tokyo -Jakarta. elo balik cuma berdua Rachel? laki lo tetap ikut?”
“ikut lah, kita kan mau ke Bali. udah kita senang-senang saja nanti di Indonesia..”

dan pembicaraan kami pun selesai. Aku merasa jauh lebih lega. Kakak dan Adikku adalah sahabat terbaikku, kami saling terpaut hanya 3 tahun, karena itu kami sangat dekat.

Setelah berendam, aku merasakan badan cukup ringan dan tenang. Jam menunjukan pukul 2 pagi. Aku non aktifkan smartphone, berencana untuk bangun siang hari karena memang hari sabtu, kantor libur dan aku juga tidak memiliki acara apapun, hanya berdiam diri di apatemen.

——

Benar saja, aku bisa tidur dengan nyenyak. Jam 9 pagi aku baru terbangun. Sinar matahari pagi mulai mengintip diantara tirai kamar. Ku aktifkan kembali smartphone ku, banyak notifikasi masuk, salah satunya dari Marina adiknya mas Radit.
“mba, kamu kenapa sih jahat banget. Mas Radit masuk IGD!” pesan tersebut masuk jam 4 pagi waktu Jepang, berarti jam 2 pagi waktu Jakarta.

“LO PIKIR NYOKAP LO ENGGA JAHAT..!” umpatku

Ku beranjak dari tempat tidur, suhu di apartemenku cukup dingin, karena sepanjang tidur aku tidak menyalakan penghangat ruangan, hanya menggunakan selimut elektrik yang membungkus tubuhku sepanjang malam. Ku nyalakan penghangat ruangan, berharap bisa sedikit membuat diriku nyaman.

Ku buat segelas teh hangat dan memanggang selembar roti. Kembali ku ambil smartphoneku, kutemukan sebuah notifikasi permintaan pertemanan di Facebook dari Robi Awaludin. Ternyata itu adalah FB nya bang Robi, dan langsung aku setujui.

Selang beberapa menit, masuk pesan dari FB tersebut,
“Gara, lagi apa? sarapan bareng yuk. makan nasi uduk pakai bakwan dan sambel kacang, mau engga?”
“mana ada nasi uduk disini.” balasku
“ada kok. Mau engga?”
“kalau ada ya mau lah”

tidak berapa lama, bang Robi mengirimkan foto sepiring nasi uduk lengkap dengan bakwan, sambel kacang, orek tempe dan kerupuk.

“wah enak banget itu.. mau dong”
“beneran mau? sini ke apartemenku. Arman dan aku masak nasi uduk nih.”
“males ah, dingin banget jalannya.”
“ya udah, nanti aku sama Arman yang bawakan ke apartemen kamu, mau?”
“engga apa-apa tuh kalian repot-repot kesini?”
” ya engga apa-apa. tunggu ya setengah jam lagi kami kesitu”
“OK”

Segera aku berganti pakain dan merapihkan apartemenku sebisanya.

Kembali notifikasi WA berbunyi, dan kali ini telpon dari mama.

“hallo, ma. kenapa ma?”
“assalamualaikum, gimana tidurnya, nyenyak?”
“nyenyak dong. kenapa, ma?”
“tadi malam Radit kesini, dia bertanya kenapa mama tidak jawab telponnya. dan bertanya apakah benar kamu memutuskan untuk membatalkan pernikahan.”
“lalu..?”
terdengar suara mama menghela nafas panjang.
“mama jawab, benar kamu ingin membatalkan pernikahan ini .”

“pantas dia masuk UGD” timpalku

“kamu sudah bulat tekadnya? tidak akan menyesal?” tanya mama memastikan
“insyaAllah tidak, ma. Gara yakin ini yang terbaik.” jawabku mantap. Dan pembicaraan berakhir.


Bang Robi dan Arman tiba di apartemenku membawa nasi uduk beserta pelengkapnya. Kami bertiga bersenda gurau.

“menurut prakiraan cuaca, hari ini sampai besok akan turun salju loh” arman berkata
“oo gitu.. ya engga apa-apalah, gw cuma dirumah saja kok, senin baru ngantor” jawabku
“Gara, kamu beneran tidak jadi menikah? berarti tidak jadi dong pulang ke Jakarta?” Arman mengubah topik pembicaraan.
“ya iyalah engga jadi menikah. Tapi gw tetap ke Indonesia pertengahan bulan depan. kan ada kerjaan juga.”
“mau gw temani mudik?” tanya Arman
“hah? ngapain? kan gw mau pulang ke Indonesia, ngapain elo temenin” tanya ku terheran heran

*molor = tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: