CERITA MASUK SD DI JEPANG – 3

Tibalah hari yang di tunggu-tunggu. Upacara penerimaan murid baru di sekolah aina yang baru.
Upacara penerimaan murid baru di Jepang cukup formal. Anak-anak menggunakan baju formal dan ber blazer dilengkapi sepatu pantofel layaknya orang dewasa. Dan para orangtua pun menggunakan busana resmi. Ada juga yang menggunakan kimono yang sangat indah. Awalnya, aku ingin memakai baju kebaya, namun tidak menemukan kain yang pas, ditambah suhu bulan april masih cukup dingin untuk mengenakan pakaian yang setipis kebaya. Maka kuurungkan niatku, aku menggunakan pakaian resmi layaknya saat ada meeting resmi di kantor. Berkemaja serta mengenakan blazer.

Aina tidak memiliki baju formal, seminggu sebelum hari H, kami sibuk mencari baju. Ternyata, hampir semua toko yang menjual pakaian untuk upacara penerimaan murid baru, sudah habis stok baju formal untuk anak-anak. Aku dan aina harus berkeliling shinjyuku yang cukup luas, namun tidak juga menemukan toko yang masih memiliki baju untuk upacara penerimaan murid SD, dilanjutkan ke ikebukuro. Belum lagi sepatu pantofelnya yang harus tiga kali beli online dan bolak balik ke toko offlinenya karena tidak pas ukuran kaki aina, akhirnya yang ketiga kali nya baru sesuai dengan kaki aina.

Ternyata, rata-rata orang Jepang sudah mempersiapkan keperluan untuk upacara penerimaan murid baru ini dari awal tahun. di bulan februari, sudah mulai banyak toko yang kehabisan stok, apalagi seminggu sebelum hari H, hampir semua toko sudah kehabisan stok.

Akhirnya kami menemukannya di toko dekat apartemen kami. Namun memang, tidak satu stel, karena ukurannya sudah habis. Jadi kami membeli gaun nya saja, lalu mencari blazernya terpisah. Sungguh melelahkan.


6 April 2021

Aina bangun sangat pagi, padahal acara baru di mulai jam 10.

Jam 9.30 pagi kami keluar dari apartemen. Hanya mama dan Aina saja yang menghadiri acara ini, Kenes tidak bisa hadir di acara karena khawatir mengganggu jalannya acara yang resmi ini. Ayah menjaga kenes dirumah, alasannya karena ayah kurang fasih berbahasa Jepang, khawatir akan ada salah informasi, karena itu mama lah yang hadir menemani Aina.

Ketika tiba di pelataran apartemen, kami bertemu dengan Nenek penjaga apartemen, beliau menanyakan randoseru (ransel) Aina. Menurut beliau, anak-anak baru semua membawa Randoserunya. Maka kami pun segera kembali pulang untuk mengambil randoseru Aina. Dan benar saja, setiap berpapasan dengan anak-anak yang kelas satu SD, mereka menggunakan baju setelan resmi dan menggendong ransoderu.

Beruntung jarak dari apartemen ke sekolah tidak begitu jauh, hanya sekitar lima menit berjalan kaki, jadi kami tidak terlambat meskipun harus naik lagi ke lantai 23 mengambil randoseru.

Setibanya di gerbang sekolah, ada barisan panjang di depan gerbang sekolah. Aku pikir, ini adalah antrian masuk kesekolah, namun disampingku banyak orangtua yang langsung berjalan saja tanpa harus ikut barisan. Aina ternyata memperhatikan hal ini, dia inisiatif untuk memeriksa di depan gerbang, dan benar saja ternyata ini adalah barisan untuk berfoto di depan tanda ucapan selamat datang untuk anak-anak SD.

“kakak, mau foto disitu?” tanyaku
“engga mau, mah. langsung masuk saja” Jawab Aina

Kami pun keluar dari barisan dan berjalan memasuki gerbang sekolah SD. Anakku sudah SD.

Setelah kira-kira 200 meter dari gerbang sekolah, ada meja registrasi. Kami harus menyerahkan selembar kertas yang dulu pada bulan november tahun 2020 sudah dibagikan. Tapi, seperti biasa, mama septi menyimpan terlalu rapih sehingga tidak bisa menemukannya lagi. Akhirnya kami menelpon kelurahan untuk minta dikirimkan ulang.

Setelah registrasi, kami mendapatkan selembar kertas berisikan daftar nama-nama dan pembagian kelas. Aina mendapatkan kelas 1-1. Di kelas tersebut aina berbarengan dengan Jyuri chan kawannya ketika di daycare dan juga ada tomo kun kawannya ketika di TK.

Kami melanjutkan masuk ke gedung olahraga dengan terlebih dahulu melepas sepatu, memasukan kedalam tas plastik dan menggantinya dengan sendal atau sepatu ruangan. Anak dikumpulkan sesuai dengan kelasnya, kemudian dibawa menuju kedalam ruang kelas. Para orangtua duduk di gedung olahraga mendengarkan pidato perkenalan dari kepala sekolah dan para walikelas.

Kira-kira 45 menit kami mendengerkan pidato dari pihak sekolah, tibalah saatnya murid-murid kelas satu di panggil masuk kedalam ruangan gedung olahraga, dan para orangtua murid diminta untuk memberikan tepuk tangan yang meriah.

Kelas Aina masuk terlebih dahulu. Murid-murdi berbaris memasuki ruangan. Ada yang malu-malu, ada juga yang dengan senangnya berjalan dan menebarkan senyuman. Aina menjadi orang ketiga dibarisannya. Matanya berkeliling mencari tempat ku duduk. Alhamdulillah aku duduk di kursi di ujung barisan, memudahkan Aina untuk mencariku. Mata kami bertemu pandang, senyum Aina langsung mengembang.

“anakku sudah besar” bisikku dalam hati. Tanpa terasa, airmata ku bergulir, aku terharu. Sudah sejauh ini langkahku, sudah sebanyak ini Alloh memberikan aku nikmat sehat, rejeki dan kepercayaan menjadi seorang ibu.

MasyaAllah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.
%d bloggers like this: