Bag 11 “Tulang muda babi”

Sejak bang Robi kantornya berdekatan, sering sekali kami pergi makan siang bersama. Bang Robi lebih tua dariku sekitar 10 tahun, namun selera humornya tidak jauh denganku. Lelucon yang keluar dari mulut nya selalu membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa membaca tulisan Jepang dan juga tidak bisa berbahasa Jepang, itupun membuatnya semakin lucu ketika tergagap-gagap menjawab pertanyaan dari para waitress ataupun orang Jepang yang kami temui. Karena alasan itu juga dia tidak pernah berani eksplore berbagai macam restoran, karena khawatir tidak bisa bertanya soal kandungan makanan yang akan dipesan.

Bang Robi sering mengajakku untuk mencoba berbagai restoran atau cafe yang selama ini ingin di kunjungi. Sebaliknya, selama ini aku selalu bekerja-bekerja dan bekerja. Jarang sekali aku menghabiskan waktu liburku untuk jalan-jalan, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton film, atau ber video call dengan mas Radit di apartemen seharian. Ketika bertemu bang Robi, aku merasa bersemangat untuk menghabiskan waktu di luar apartemen. Menikmati berbagai macam makanan di berbagai cafe dan restoran seputaran Tokyo.

“bang, aku dua hari lagi berangkat ke Jakarta.” ucapku sembari menikmati sate ayam khas Jepang.
“berapa lama? jangan lama-lama,ra.. nanti gw engga ada yang bantuin mesen makanan”
“lama lah.. gw kan cuti nikah juga udah ngajuin”
“kamu nikah?” setengah tersedak bang Robi bertanya, sorot matanya menatapku tajam
“ih , ngeri amat gw liat mata lo..” ku jawab sembari ku palingkan tatapan mata ku
“Gara, kamu beneran mau nikah?”
“engga bang, kan engga jadi. cuma gw kan sudah terlanjur ngajuin cuti nikah, gw engga cancel cuti nikahnya, biar aja. sekitar sebulan gw di Indonesia.”
“buseet lama amat.”
“ya gw jalan-jalan lah di Indonesia. Satu minggu pertama sih kerja, kan ada launching project baru. Setelah itu bablas cuti, dan golden week usai, baru kembali ke Tokyo.”

tiba-tiba smartphoneku bergetar, ada nomor telpon asing yang muncul di display. Ku angkat perlahan dan kudekatkan ke arah wajahku, namun ragu untuk ku jawab panggilan dari nomor yang tidak kukenal. Setelah beberapa detik bergetar dan tidak ku jawab, kemudian getaran itu berhenti.

“siapa?”
“tidak tahu, nomor nya tidak aku kenal dan tidak aku simpan.” ku jawab sembari ku letakan kembali ponsel ku ke atas meja.

“ke toilet dulu ya” aku beranjak dari kursi dan menuju ke lorong toilet yang berada di belakang bang Robi.

“Gara san..selamat malam” seorang lelaki berbadan tinggi tegap menggunakan setelan jas menyapaku. Aku terdiam beberapa detik, mencoba mencari data memori tentang siapa lelaki tampan yang menyapaku saat ini.

“saya Satoshi, muridnya ibu Nadya” pria ini melanjutkan

“ooo yaaa.. ya ampun.. aku ingat sekarang, kamu si mata coklat itu.” jawabku
“siapa..?” pria itu bertanya
“iya kamu.. maaf ya saya agak lupa”
“saya ingin meminta maaf karena sikap saya sore itu..”
“oo iya ya.. tidak apa-apa.. saya yang harus berterima kasih kamu sudah membantu memeluk saya..maksud saya..” aku merasa gugup sekali saat itu, karena tiba-tiba kenangan ketika si mata coklat ini memeluk ku melintas dalam ingatan, dan sangat jelas.

“tidak apa-apa.. apakah saya boleh mengirimkan pesan atau telpon Gara san, suatu hari nanti” tanya Satoshi, si mata coklat. Dan sepertinya, dia menyadari kalau aku salah tingkah
“iya, silahkan. saya ke toilet ya” jawabku sembari masuk ke ruang toilet.

Ketika keluar dari toilet, aku segera menuju tempat duduk semula. Bang robi sedang menikmati nankotsu karage yang masih hangat.

“eh, kok ini nankotsunya beda ya rasanya”
“masa sih..”
“iya.. mungkin ini tulang mudanya babi kali ya..” cerocos bang Robi sembari mengamati sepotong karage.
“ya kaleee babi ada tulang mudanya. kayanya gw belum pernah tau ada karage dari tulang muda babi. yang ada mah tulang muda ayam.” jawabku
“gw penasaran asli. coba lo check menunya. elo engga tanya dulu waktu pesan?”
“iih bawel banget.. aku tanya langsung saja”

kami pun memanggil pelayan restoran dan menanyakan soal nankotsu karage ini. Dan benar saja, nankottsu karage yang kami pesan dan sudah dimakan bang Roby beberapa potong itu, berasal dari tulang muda babi. Dan kontan bang Robi sewot kepadaku.

“elu ya, sekolah tinggi-tinggi bahasa Jepang, engga bisa bedain tulang rawan babi dengan tulang rawan ayam.”

Kontan aku tertawa terbahak-bahak. Bang robi wajahnya panik dan cara dia mengumpat terlihat lucu.
“iya maaf deh, bang. maaf banget. tapikan kita jadi tahu kalau babi itu ada tulang mudanya juga.” sembari tertawa tanpa sengaja mataku bertemu dengan sorot mata lelaki yang duduk tepat searah jam 2 didepan ku. Si mata coklta itu duduk disitu, dia bersama dua orang temannya, dan semua berpakaian jas resmi.

Ditengah tawaku, seperti menginjak rem, aku langsung berhenti tertawa seketika berubah menjadi tersenyum tipis.
Bang Robi seperti menyadari perubahanku, dia pun langsung membalikkan badan mencari arah mataku, dan tanpa diduga, si mata coklat tersenyum dan membungkuk sedikit badannya kedepan, tanda mengucapkan salam kepada bang Robi.

Bang Robi pun membungkukkan badan, membalas salam Satoshi. Kemudian memalingkan wajahnya dan menatapku, memberikan kode yang bisa kuartikan,

“siapa itu cowok, lo kenal?”

“itu muridnya Nadya, temanku. Beberapa minggu lalu kami bertemu di restoran bli wayan. Nadya memintaku untuk menggantikan tugasnya hari itu, karena anaknya demam” Jelasku.


“kok kamu tidak cerita sih?” nada bicara Bang Robi terdengar keberatan
“hah? sejak kapan mesti cerita detail kegiatan gw!”
“Ya engga gitu juga, ra..” bang Robi melunak

malam itu kami pun pulang dalam diam. Aku merasa ada yang aneh dengan kedekatan ini. Ada yang salah di antara kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: