bag 5 “Grup Anak Pak Alwi”

“ya mungkin elo butuh teman, karena itu gw menawarkan diri”
“makasih loh ya, sebelumnya. tapikan gw ke Indonesia, pulang kerumah. Ada keluarga, banyak. ada teman-teman gw juga. nanti lo malah gw cuekin, ato gw malah terbebani ada elo. jadi engga perlu lah..” jawabku santai

Setelah kenyang menyantap nasi uduk, bang Robi dan Arman pergi ke super market dekat apartemenku. Mereka berbelanja bahan makanan. Kemudian kembali dan membuat bakso.

Aku terheran-heran dengan para lelaki ini, darimana mereka bisa membuat masakan yang level kesulitan dan keribetannya diluar kemampuan ku sebagai seorang perempuan.

Setelah sarapan pagi yang terhitung kesiangan dengan nasi uduk, makan siang yang kesorean pun dilanjutkan dengan mie bakso. Ditengah salju yang turun dengan deras, kami bertiga makan bakso kuah hangat dan menyegarkan.

“sebentar ya, ada panggilan video nih dari keluarga ku”
Grup Anak Pak Alwi
“ok” jawab bang Robi dan Arman serentak.

“woi..” sapaku
“kanigara ibu manajer yang terhormat, elo udah siap kehilangan duit DP, kaga bakal melarat kan lo kehilangan duit puluhan Juta ini. Baju pengantin lo udah jadi, mau gw jual aja apa gimana nih?” Saras terus berbicara tiada henti.
“tapi ya, ini untung loh nama pak Alwi salah di undangan. Menurut bang diman supir keluarga Kurniawan yang terhormat itu, undangan tidak kena biaya, karena salah cetak.” timpal Saras lagi.
“bu Alwi sedang apa? tanya kak Gaya.
“lagi latihan Qasidahan dirumah bu RT”
“yaaaah engga jadi manggung dong itu geng Qasidahan, kasian juga sih. etapi no Problem, the most important thing is KANIGARA terlepas dari cengkraman calon ibu mertua yang toxic”
“apaan sih, ribut banget sih lo pada.. “jawab ku
“lagi ngapain lo, siapa tuh. kok ada laki-laki di apartemen lo?”
“kepo banget sih lo anak kecil” jawabku
“heii.. anda.. aku anak kecil sudah jago bikin anak kecil, camkan itu”
“hahahahaha.. ngehe..” jawabku lagi
“si Arman, teman kuliah gw. lagi main kesini sama temannya, namanya bang Robi.”
“oo ok ok. sorry ya.. ya udah nanti malam lagi kita ngobrol.”
“kak Gaya, Joe Malone ya, jgn lupa.” pinta Saras.
“iyaaa.. santai”
“elo engga di telponin sm keluarga Radit?” tanya kak Gaya
“udah gw block semua. tadi pagi Marina WA, katanya Radit masuk IGD. setelah itu ya sudah gw block semua.”
“elo sedih engga sih, kak?”
“sedih banget lah, Saras.. tapi gw menuruti kata-kata kak Gaya, gw bisa memilih kebahagian gw. ya udah gw pilih sendiri aja. Toh 4 tahun ini gw juga sudah sendirian rasanya. ” jawabku
“Good” komentar kak Laya.
“pokoknya elo sehat-sehat ya, kak. urusan cancel meng cancel di Jakarta biar gw dan Naufal yang urus. Mama juga sudah bicara dengan Ncang Rodi dan keluarga Papa yang lain, mereka mau bantu kalau-kalau di butuhkan. Apalagi adik-adik mama, udah standby tuh mau bantuin kakaknya.”
“ok. makasih ya..”

Pembicaraan kami selesai, dan aku melanjutkan berbincang-bincang dengan Arman dan bang Roby. sepanjang sisa hari, Kami terus makan dan bercerita berbagai hal yang menyenangkan. Hingga pukul 9 malam, mereka pamit pulang, dan aku pun kembali sendiri.

Salju masih terus turun dengan derasnya, Tokyo di selimuti salju. Putih, dingin namun cantik.

Ku sibak tirai jendela apartemenku, taman didepan apartemen terlihat putih, tertutup salju. jungkat jungkit, ayunan dan beberapa alat permainan anak-anak terlihat kedinginan. Pohon-pohon yang tak memiliki daun, hanya dahan yang tetap menjuntai dan diselimuti salju. Semua membeku, sama seperti hatiku, membeku. Dadaku seolah terganjal sebongkah balok es yang membuat nafas terasa berat, sulit bernafas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.
%d bloggers like this: