Anak kecil juga punya masalah

Malam tadi, kenes terlebih dahulu terlelap, Aku akhirnya bisa memiliki waktu bersama Aina di tempat tidur untuk berbicang-bincang tentang sekolahnya. Kemudian mengalirlah cerita indah dari putri ku.

Sudah satu bulan ini, aina tidak bermain dengan kawan sekolahnya yang bernama yua-chan. Mereka satu sekolah namun beda kelas. Padahal sebelumnya hampir setiap hari, selain hari mengaji dan hari Aina les Piano, Yua chan datang menjemput Aina unutk bermain bersama, karena memang Alhamdulillah taman tempat bermain dan berkumpulnya anak-anak tepat di depan apartemen kami. Kasus terakhir yang mungkin membuat Yua chan menghindari Aina adalah ketika dihari libur mereka berdua bermain, tiba-tiba Aina masuk kerumah dan meminta uang 10 yen kepadaku dan ayahnya. Uang tersebut untuk jajan permen di kombini (convenience store). Aku cukup kaget, karena Aina sebelumnya tidak pernah meminta uang, kalaupun ingin jajan, dia meminta jenis makanannya dan pergi bersama ku atau ayah, bukan meminta uangnya.

“kakak mau beli sendiri?” tanyaku
“sama Yua-chan”
“mama engga mau kasih uang, karena anak kecil tidak boleh jajan sendiri”
“tapi Aina pernah menemani Yua chan beli permen, ma” dan tangis sedih pun pecah.

Aina kalau menangis tidak dengan menjerit atau mengeluarkan suara keras, dia lebih seperti merana, bersedih, tersedu-sedu.

Ku peluk Aina dan kubiarkan dia menangis sebentar.

“kalau sudah bisa bicara, ayo bicara ya, selesaikan dulu tangisnya” bujukku
“mama, Yua chan minta Aina untuk minta uang ke Mama 10yen.” sambil terisak
“Yua chan nya dimana?”
“ada di depan lift, nunggu Aina.”
“panggil ya, mama mau bicara”

kemudian Aina bergegas memanggil Yua chan dan anak itupun datang. aku bertanya apakah Yua chan memiliki uang 10 yen, dan ingin Aina juga punya 10 yen agar bisa jajan berbarengan ke kombini?.

Ternyata tidak. Yua Chan tidak memiliki uang, dan dia ingin jajan dengan cara meminta uang kepada Aina.

“Yua chan, Aina chan dengarkan mama ya. Anak SD kelas satu belum boleh pegang uang dan pergi ke kombini sendiri. Kalau ingin jajan nanti pergi sama mama atau ayah..”
“iya mama, Aina mengerti” jawab Aina sembari menyeka air matanya
“tapi kakak ku, sudah punya uang dan jajan sendiri” Yua chan menimpali
“Yua chan, kakaknya kan sudah kelas empat SD, dan mama Yua juga sudah memberikan izin. Yua chan silahkan tanya kepada mama Yua chan, kenapa Yua chan belum diberikan uang.”
“kata mama, Yua chan masih kelas satu SD” jawabnya sembari menundukan wajah dan jemarinya memainkan ujung tali tas.

Setelah kejadian itu, Yua chan tidak pernah bermain lagi dengan Aina. Mungkin Yua chan marah atau kecewa dengan Aina. Tapi aku bersyukur kalau anak itu menjauh dengan sendirinya dari Aina. Tapi tetap ada rasa sedih sedikit ketika memikirikan Aina yang kembali sendiri lagi, tidak memiliki teman dekat. Dan malam itu, Aina bercerita tentang apa yang di rasakan.

“Yua chan sudah tidak pernah main sama Aina ya..”
“iya. sekarang Yua mainnnya sama Reka chan. Aina menyapa Yua chan kalau bertemu, tapi Yua chan engga mau jawab”
“Aina sedih engga?” tanyaku khawatir
“biasa aja sih..”

jawaban Aina memang terlihat tanpa beban, ringan tidak tersirat rasa sedih atau kesepian.

“berarti Yua chan memang belum bisa jadi teman terbaik Aina ya, mah..” Aina berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“iya.. biar aja” jawabku sembari ku kecup keningnya

“kalau disekolah Aina main sama siapa” lanjutku
“Aina lebih banyak main sendiri.”
“kenapa. Bukannya Aina senang main dengan Issam kun”
“Issam kun sukanya memutuskan permainan sendiri, dia engga mau dengar kata-kata Aina. Jadi lebih baik Aina main sendiri, lebih menyenangkan” jawabnya lagi.

dadaku rasanya sedikit agak sesak, aku merasakan betapa sulitnya memiliki sahabat yang bisa berbagi suka duka. Dan Aina sedang memulai proses ini, proses belajar mengenal manusia selain keluarganya, mengenal arti pertemanan. Terbersit tanya, apakah putriku bisa melewati fase awal ini.

“Aina jadi lebih banyak bermain sendiri ya..”
“iya.. meskipun terkadang Issam kun datang ke Aina dan berkata kalau Aina tidak mau bermain dengan caranya, dia tidak mau pulang sekolah bareng Aina lagi”
“trus Aina jawab apa”
“ya engga apa-apa. Aina bisa pulang sendiri”

MasyaAlloh.. rasanya ingin sekali setiap hari aku menjemput Aina sekolah, menemani setiap detik hidupnya, tidak ingin rasanya aku mengenalkan rasa sepi kepada anak-anakku.

Ku tarik nafas, beristighfar dan coba menenangkan diri ini.

“Aina tau tidak istilah [ippiki no okami]”
“Apa itu, ma?”
“Okami adalah srigala, dan srigala selalu pergi sendiri, kemana-mana tanpa rasa takut.”
“Lion juga, Ma..” Aina menambahkan
“iya sayang, lion juga. Bisa menjelajahi hutan sendirian. Dia berani dan semua segan kepadanya. Jangan jadi bebek ya kak, kalau sendiriian sering tersesat jalannya.”
“ok mama.. Mama dulu sering bermain sendiri?” Aina balik bertanya
“iya, mama sering menghabiskan waktu sendiri. Mama pergi ke cafe, makan cake yang enak, lalu mama baca buku. mama menikmati waktu sendirian. Atau Mama pergi ketaman sendiri, mama bisa baca buku atau menulis cerita”
“waaah seru banget. Nanti kalau Aina sudah besar banget, Aina juga mau begitu.” dengan ceria putriku menjawab.

Sejauh ini aku melihat Aina tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, penuh percaya diri dan memiliki kuasa penuh atas dirinya. Aku dan suami selalu berusaha mengarahkan Aina untuk mengambil keputusan apapun tentang hidupnya, meskipun terkadang aku merasas habis sabar menghadapinya. Memilih mainan mana yang boleh di beli, baju mana yang pantas dia pakai, dan banyak pilihan kecil yang terjadi di hidupnya.

Dan Aina sudah memahami bahwa keluarga lah hal yang tidak bisa dipilih. Karena Alloh telah memutuskan untuk Aina.

Kami selalu berkata bahwa “Tubuh aina, hidup Aina adalah anugrah dari Alloh dan hanya Aina yang bisa menentukan kebahagiaan Aina. Mama-ayah-kenes hanya jadi pendamping Aina, dan akan selalu mendukung apapun yang Aina putuskan.”

“tapi mama punya teman?” tanyanya lagi.
“mama punya teman, banyak. Tapi sahabat mama sedikit. Karena bagi mama, sahabat itu adalah orang-orang yang sangat istimewa. Dan butuh waktu panjang untuk bisa menemukan sahabat” jelasku

“Yua chan tidak bisa jadi sahabat aina ya, ma..”
“belum tentu. Tenang saja, nanti pasti Alloh akan berikan sahabat-sahabat yang baik untuk Aina. Tapiii Aina harus jadi orang yang baik, supaya bisa dipertemukan dengan teman dan sahabat yang baik juga.” jelasku

“Aina sayang mama. Aina suka kalau bisa ngobrol sama mama, aina suka main sama ayah dan kenes, meskipun kenes kadang nyebelin” Putriku berkata sembari memeluk tubuhku.

Ya Alloh Ya Rab, tidak ada alasanku untuk mengeluh. Nikmat mana lagi yang boleh ku dustai. Betapa Engkau memberikan aku dan suamiku cobaan dari hal lain, namun memberikan kenikmataan dan kedamaian dalam apartemen kecil ini. Memberikan aku dan suamiku mesin pemompa energi dan amunisi keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup.

“terima kasih sayang, sudah jadi anak mama-ayah.” sambil kubalas pelukan hangat putri kecilku.

Segala kemungkinan selalu bisa terjadi, hanya Alloh lah yang bisa membolak-balikan hati ini. Semoga aku dan suami tidak jadi lengah dan lalai. Amin amin Amin.


Aina usia 7 bulan
aina dan ayah
Aina dan mama
Aina dan kenes

7 Replies to “Anak kecil juga punya masalah”

  1. Wulan says:

    Senang sekali membaca ini mba, semoga kelak saya punya anak yang pengertian seperti Aina, semoga Aina segera diberi Sahabat terbaik dari Allah 🙂

    Like

  2. YURIKO says:

    uuu sayangku Aina, semangat ya! kamu pasti jadi orang hebat saat dewasa nanti.

    Like

  3. Tika says:

    Terharu sekali mba bacanya😭😭❤️Semoga aju bisa mencontoh untuk putriku kelak saat dia beranjak besar❤️❤️Terimakasih atas sharingnya ya mba

    Like

Leave a Reply to Wulan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: