Bag 6 “Para Lelaki Berbadan Tegap”

Jam 8 pagi, Mama sudah menelpon ku, sekedar bertanya kabar dan mengingtkan ku agar tidak meninggalkan shalat, pasrah dan selalu bersyukur.

jam 9 pagi. Telpon kembali berbunyi.

“hallo , Nad. apa kabar?” sapa ku kepada sang penelpon
“Alhamdulillah baik. Gara chan, apa kabarnya? siang ini ada acara engga? tolongin aku dong, Gara..” Nadia menjawab dengan nada tergesa-gesa.
“tolongin apa, Nad..” tanya ku
“Gara, siang ini aku ada acara makan siang bersama dengan murid-murid bahasa Indonesia ku di restoran Bali Raya, yang dekat apartemen kamu itu loh. Tapi anakku demam nih, aku tidak bisa menemani murid-muridku. Lo bisa tidak menemani mereka? Tidak lama, hanya makan siang saja..Bisa ya, Gara..?”

“aku sih engga ada acara, Nad. Cuma males banget keluar apartemen, diluar salju numpuk begitu”
“oo gitu ya.. Kamu engga mau ya..” terdengar suara Nadia kecewa dengan jawabanku.
“hmmm… aku mau deh, lagian ngapain juga di rumah” jawabku cepat.
“Beneran nih, mau.. alhamdulillah.. Mereka ada lima orang, nanti kamu cuma jelasin aja makanan yang sudah aku pesan, cara buatnya, cara makannya, kandungannya..”
“tunggu tunggu.. aku kan tidak bisa masak, Nadia. Mana aku tau cara buatnya.”
“cuma gado-gado, tempe goreng, ayam goreng, sambal. yang begitu-begitu doang sih..”
“oo aku pikir sulit”

Aku sepakat untuk menggantikan Nadia menemani murid-muridnya makan siang di restoran Indonesia. Kebetulan restoran tersebut berada dekat dengan area apartemen ku. Kalau tidak bersalju, biasanya aku bersepeda datang ke restoran tersebut. Tapi hari itu, Karena salju yang masih tebal di jalan menuju restoran Bali Raya, aku memutuskan untuk berjalan kaki.

Jam 12 lewat 2 menit aku tiba di restoran, rupanya sudah ramai di dalam restoran. Ku buka pintu restoran, dan bli Ketut langsung menyambutku. Aku kenal baik dengan bli Ketut-pemilik restoran ini, dari awal restoran ini beroperasi, aku termasuk pelanggan pertama yang datang ke restoran ini.

“Gara chan.. Akhirnya datang juga. Nadia tadi pagi telpon saya, katanya si Bima-kun demam, jadi dia tidak bisa datang, dan Gaya yang akan datang.” jelas bli Ketut.

“iya bli, aku juga tidak ada kegiatan. Jadi ya sudah aku kesini saja.”
“iya awalnya saya dan Nadia berpikir kalau kamu sibuk, karena sedang menyiapkan pernikahan. Bagaimana persiapannya..?”
“cancel, Bli. aku engga jadi menikah.” jawabku santai
“Hah?! Serius kamu.” muka bli ketut terlihat sangat kaget
“justru karena aku serius soal pernikahan, jadi aku batalkan saja”
“bagus bagus.. nikah itu bukan perkara yang mudah. kalau sudah ada sinyal akan tidak bahagia, lebih baik tinggalkan. jangan pernah mempertaruhkan kebahagian diri sendiri. Kalau kamu bahagia, maka kamu bisa memancarkan kebahagiaan untuk orang-orang di sekitar kamu.”
aku jawab dengan senyuman, tanda aku setuju dengan kata-kata Bli ketut.

kami melangkah masuk kedalam restoran, Bli ketut mengajakku mendatangi meja yang sudah di duduki oleh lima orang laki-laki yang semuanya berperawakan tinggi besar.

“Selamat siang, selamat datang Gara san.. ” serempak para laki-laki itu berdiri dan mengucapkan salam.
“wiih.. kok macem tentara begini, kompak amat, bli.” jawabku sambil menatap wajah Bli Ketut.

“hahahahaha.. ya begitu deh..” bli Ketut menjawab sembari tertawa renyah.
“ini yang namanya Gara chan, masih single, baru putus dari pacarnya. sudah mapan, wanita mandiri.” bli ketut memperkenalkan ku kepada para lelaki berbadan tegap.


“nama kamu unik, ya.”salah satu lelaki bersweater hijau menyapaku
“nama lengkapku Kanigara Banu. Tapi hampir semua orang memanggil ku Gara. Aku boleh duduk tidak, lumayan perjuangan tiba disini, melewati salju” jawabku

Dan mereka dengan serempak memberikan aku jalan untuk duduk di tengah-tengah mereka.
“silahkan duduk disini, Gara san. Kami sudah mempersiapkan tempat duduknya” lagi-lagi pria bersweater hijau mempersilahkan.

“Terima kasih” jawabku

“kami muridnya Ibu Nadia, nama saya Kuri” Tegur lelaki bersweater abu-abu

“selamat siang” jawabku kaku.

“dan saya Akira” timpal laki-laki sweater hijau

“hi mas Akira, salam kenal”

“saya kenji” laki-laki ber sweater hitam menimpali

“oya itu yang berbaju putih namanya Satoshi dan di sebelahnya itu Hiroshi” timpal Akira-si sweater hijau.

“Halo semua, salam kenal.” jawabku sambil tersenyum.

“Ibu Gara mau makan apa?” tanya Akira
“jangan panggil saya ibu, panggil saja nama saya. Gara” pintaku
“baik Gara san.” mereka serempak menjawab.

suasana sungguh kaku dan tegang, aku tidak mengerti ada apa dengan mereka ini, darimana mereka dan apa pekerjaan mereka.

Para lelaki tersebut mengeluarkan buku catatan, dan mencatat segala jenis bahan makanan yang disajikan. Mereka juga mencatat proses pembuatan masakan tersebut. Proses memasaknya di jelaskan secara detil oleh Bli Ketut dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sesekali aku menterjamhkan ke dalam bahasa Jepang.

Para laki-laki ini bisa berbahasa Indonesia hanya dalam level perkenalan, jadi masih banyak kosakata yang belum mereka kuasai. Disitulah aku berperan sebagai penterjemah.

Setelah makan siang kami melanjutkan menikmati secangkir kopi beserta pisang goreng yang disajikan bersama ice cream. Suasana mulai mencair. Aku yang selalu bercanda dengan bli Ketut menularkan energi ceria hingga membuat para lelaki tegap ini ikut tertawa. Ruangan ini terasa hangat. Terkadang lelucon yang aku dan bli ketut lontarkan berubah jadi cerita yang sama sekali tidak lucu ketika di terjemahkan kedalam bahasa Jepang, namun saat itu malah membuat aku dan bli Ketut makint tertawa terbahak-bahak.

“Gara-chan ini, lucu. Dia senang melawak, dia senang tertawa, dan tawanya itu bisa menular” bli ketut berkata.

Para lelaki tegap itu hanya berkata “oo.. begitu” berbarengan dengan kepala yang mereka angguk-anggukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.
%d bloggers like this: