bag 13 “Menghadapi jakarta”

“O.. Gara-san” setengah menjerit kaget pria tersebut memanggil namaku.
“hi.. hallo..” tergugup aku menjawab. Aku tidak pernah mengingat nama pria ini. Tapi aku selalu ingat bola matanya yang coklat.

“saya muridnya ibu Nadya. nama saya Satoshi” sambil menganggukan kepalanya, pria ini memperkenalkan dirinya lagi.

“Hallo Satoshi san. Apa kabar” sapaku terlihat kaku.

“Baik. kabar saya baik”

Dan pembicaraan terhenti. Kami saling menutup dengan senyuman. Aku mencari sesuatu didalam tas, entah apa yang aku cari. Satoshi memasang headphone dan mendengarkan musik. Pesawat siap tinggal landas.

Akhirnya aku menemukan apa yang sebaiknya aku cari, headphone. Kupasang juga headphone kemudian ku nyalakan musik. Pesawat pun tinggal landas, terbang membelah langit Tokyo, membawaku melintasi awan. Hatiku makin mengecil, rasa takut semakin menyelimuti, memeluk erat tubuhku. Rasa takut itupun mulai menggerogoti lambung, Perutku terasa mual, seperti terkocok, sisa sisa makanan perlahan mulai merambat naik ke tenggorokan.

Pesawat berada di ketinggian sempurna, tanda bisa melepaskan sabuk pengaman menyala. Kulepas headphone, dan juga sabuk pengaman. Keringat dingin bergulir membasahi dahiku.


“permisi, saya mau ke toilet.” tegur ku kepada satoshi yang sedang asik menonton film.
“Gara san baik-baik saja?” satoshi bertanya, terlihat mata coklatnya memancarkan rasa khawatir
“iya, aku baik-baik saja” jawabku berbohong.
segera aku melangkah menuju toilet. Aku merasakan langkahku cukup gontai menuju toilet, dengan sisa tenaga kupaksakan berjalan menuju toilet. beruntung aku tidak perlu antri.

Segera saja kubuka penutup wc kemudian diikuti dengan isi perut yang sudah tidak tahan, mereka berebut keluar dari mulutku. Tanpa perlu bantuan dorongan, semua isi perut berlompatan. Mereka seperti tidak sudi berada di dalam lambungku, mereka sepertinya makanan yang ketakut berada di dalam lambungku, sisa-sisa makanan itupun melarikan diri, mereka tidak ingin menemani tubuhku untuk menghadapi Jakarta.

Setelah semua sudah keluar dari lambung, kucoba berdiri. Kubersihkan wajahku, kubasuh wajahku yang sangat pucat. Ku kumpulkan tenaga untuk bisa mencapai tempat duduk yang berada cukup jauh jaraknya dari Toilet.

Ketika membuka pintu toilet, kulihat Satoshi sedang memandang kearah ku. Badannya yang tinggi terlihat menjulang meskipun dalam kondisi duduk. Tidak butuh waktu lama, dia sudah berada di hadapanku, ketika aku masih berjalan perlahan dan baru melewati tiga baris kursi. Dia menjemputku.

Satoshi menawarkan tangannya untuk memapahku, matanya terus memandangku. Aku tidak bisa berkata apapun, aku butuh istirahat.

Satoshi menuntun dan membantuku duduk dikursi. Dia menidurkan senderan kursi, berusaha membuat tubuhku nyaman.

“Satoshi, aku dingin” ucapku lirih.

Tanpa menjawab, satoshi membuka selimut yang masih terbungkus plastik dan menyelimuti tubuhku.

“Gara san ingin minum ocha?”
Aku hanya menganggup lemah.

Tidak lama berselang, seorang pramugari membawakan segelas teh hangat. Satoshi membantuku untuk minum. Dia tidak banyak bertanya. Kurasakan sorot mata coklatnya terus memperhatikanku.

Tanda wajib mengenakan sabuk pengaman menyala, Satoshi menatapku.

Dengan lemah, ku coba tarik sabuk pengaman dan satoshi membantuku mengenakan sabuk pengaman.

Setelah itu, akupun terlelap, tertidur sangat pulas.


Ku buka mata, kepalaku mulai terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Sepertinya Satoshi sedang tenggelam dalam film yang di tonton, dia tidak menyadari aku yang mulai bergerak merubah posisi duduk. Tanpa sengaja lututku menyenggol lengannya yang diletakan di pegangan kursi pembatas.

“Gara san sudah membaik?” dengan cepat satoshi membalikan tubuhnya, melepaskan headset dan menatapku.

“Alhamdulillah, aku sudah lebih baik. terima kasih ya. Kamu sudah dua kali membantuku” jawabku sembari merapihkan rambut panjangku yang berantakan.

Satoshi hanya tersenyum sambil meyodorkan nampan berisi makan siang yang entah sudah berapa lama sudah dia pangku.

“ini makan siangku”
“iya”
“kenapa tidak kamu letakkan di meja lipat saja” tanyaku penasaran
“tidak apa-apa. saya khawatir Gara san terbangun, karena Gara tertidur sangat pulas”
“Terima kasih ya, satoshi san”
“Panggil saya Satoshi saja”
“kenapa?”
“karena kamu orang Indonesia” jawabnya
“ok. kalau begitu kamu panggil saya Gara saja, no need San”
“jangan pakai bahasa Inggris ya, saya tidak bisa.”
“oo ok ok.”

Satoshi kembali menggunakan headset dan melanjutkan menonton.

Ku amati diam-diam pria ini, kulitnya putih dadanya bidang dan kekar. Hidungnya mancung sempurna.

“ganteng juga ni cowok” bisikku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: