bag 7 “Mawinei Nara”

Mawinei Nara, seorang gadis Dayak yang lahir di sebuah kampung di pinggir sungai barito. Abahnya termasuk orang terpandang di suku Dayak bakumpai, memiliki bisnis kayu yang cukup sukses. Mawinei anak perempuan satu-satunya dari enam bersaudara. Layaknya anak orang kaya, Mawinei sangat cantik dengan kulit kuning langsat yang jarang terkena sinar matahari terik. TIdak seperti gadis lain dikampungnya, yang harus keladang ataupun kesawah membantu orangtua, atau ke hutan untuk mencari kayu bakar. Mawinei menghabiskan waktu didalam rumah megahnya membaca buku, atau membantu abah membuat pembukuan penjualan kayu

Di umur 20 tahun, Mawinei melarikan diri dari kampung menuju rumah tantenya di sebuah perumahan elit di selatan Jakarta. Tante Mirna, begitulah biasanya Mawinei memanggil wanita paruh baya itu.

Tante Mirna tidak memiliki anak, beliau adalah adik dari umi Mawinei.

Bagi Mawinei, pulang pergi Jakarta – Palangkaraya bukan hal baru. Dia sering melakukan perjalanan bersama umi dan abah, untuk memenani Abah berbisnis ke Jakarta, serta selalu menginap dirumah tante Mirna.

Kali ini, perdana Mawinei pergi dari rumah sendirian. Kepergiannya karena marah dan kecewa dengan Abah, yang berusaha menjodohkan dirinya dengan anak kerabat Abah, orang Aceh. Mawinei tidak ingin hidup dengan lelaki yang tidak dia cintai. Awalnya Mawinei meminta waktu untuk bisa mengenal laki-laki itu agar bisa menumbuhkan rasa cinta atau minimal mengenal seperti apa sosok laki-laki yang akan menjadi ayah dari anak-anaknya kelak. Kedua orangtua mereka setuju untuk mempertemukan mereka terlebih dahulu. Mereka berusaha saling mengenal, berbicara banyak hal. Tapi sayang, tidak ada rasa nyaman yang Mawinei cari di dalam diri lelaki itu, apalagi cinta. Dia bahkan merasa takut dengan laki-laki itu.

Berkali-kali dia mencoba menjelaskan kepada abah dan umi, selalu di tolak. Hingga mebulatkan tekadnya untuk melarikan diri dari rumah. Maka pagi itu Mawinei dibantu oleh lasih pembantu rumahnya, melarikan diri dan berangkat ke Jakarta.

Di rumah tante Mirna, Mawinei disambut baik. Tante Mirna sangat menghormati keputusan Mawinei. Tante Mirna seorang wanita paruh baya yang ditinggal suaminya. Sang suami pergi bersama sahabat tante Mirna, membawa kabur segala perhiasan. Tak butuh waktu lama bagi tante Mirna untuk bangkit dari keterpurukannya, dia menyibukan diri nya dengan bisnisnya, hingga menjadi perempuan yang kaya raya. Dengan pengalaman rumah tangganya, Tante Mirna belajar bahwa Dirimu punya kuasa penuh atas hidupmu sendiri. Kalau ingin hidupmu berhasil, bahagia dan bermanfaat, maka berdayakanlah dirimu.

Hari-hari Mawinei di isi dengan membantu usaha Tante Mirna. Kantor tante Mirna berada di depan komplek perumahan tempat Tante Mirna tinggal. Di dekat kantor tante Mirna, terdapat sebuah masjid yang cukup besar dan indah, setiap waktu shalat tiba, berkumandang adzan dari masjid tersebut. Suara sang Muadzin sangat merdu, namun tidak mendayu. Mawinei jatuh hati dengan suara tersebut.

Hari berganti hari, akhirnya Mawinei tahu bahwa Muadzin di masjid tersebut adalah satpam yang bertugas di Komplek perumahan tempat tante Marni tinggal. Mawinei selalu memperhatikan laki-laki itu dari balik jendela kantor. Perawakan badannya yang kekar, punggungnya yang bidang menandakan bahwa laki-laki itu sering melakukan pekerjaan yang berat, menggunakan otot.

Satu hari, Tante Marni harus keluar kota selama satu minggu dan supir yang biasa mengantar jemput Mawinei ke kantor harus mengantar Tante Marni. Gayung bersambut. Tante Marni menugaskan sang Muazim-satpam komplek untuk menemani Mawinei berjalan kaki dari rumah ke kantor ataupun sebaliknya. Di hari pertama, mereka hanya berjalan di dalam diam. Di hari berikutnya, Mawinei memberanikan diri untuk membuka pembicaraan. Dan dihari-hari selanjutnya, Mawinei yang terus berbicara, sang Muadzin hanya menjawab ketika ditanya, dan hanya tersenyum. Dia tidak pernah memandang Mawinei, tapi mawinei tahu bahwa sorot mata laki-laki ini menebarkan keteduhan, ada hati yang damai, ada rasa aman dan nyaman yang selalu menyelimuti Mawinei setiap kali berjalan beriringan.

Seminggu berlalu, Mawinei kembali kepada rutinitas antar-jemput supir Tante Mirna. Ada rasa rindu di relung hati Mawinei, dia kehilangan suasana nyaman yang tercipta dari ayunan langkah kaki nya bersama sang muadzin. Satu hari, Mawinei meminta kepada Tante mirna untuk membiarkannya berjalan kaki lagi, dan juga meminta Tante Mirna untuk menyampaikan kepada sang Muadzin untuk menemaninya.

Rupanya Tante Mirna menyadari bahwa keponakannya jatuh cinta kepada sang Muadzin, satpam komplek perumahan. Laki-laki bertubuh kekar dan berkulit hitam karena seringnya terbakar terik matahari. Cukup lama Tante Mirna mengenal satpam komplek itu, anak muda yang santun dan tidak banyak tingkah. Pemain bola handal dikampung itu. Tidak pernah menolak ketika dimintai pertolongan oleh siapapun, pemuda yang ringan tangan.

Disitulah kisah cinta Mawinei dengan sang satpam dimulai.

Sampai satu ketika, abah dan umi Mawinei datang ke Jakarta untuk menjemput. Mawinei mengajukan syarat kepada orangtuanya, bahwa Mawinei akan pulang dengan syarat membatakan perjodohan tersebut, dan mengizinkan Mawinei memilih laki-laki pujaan hatinya.

Abah dan Umi menyetujui permintaan tersebut.

Sang Muadzim berjanji, dia akan menjemput Mawinei ketika saatnya tiba.

Kisah Cinta Jarak Jauh pun dimulai.
Palangkaraya- Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: