Bag 14 “sapu tangan”

setelah memuntahkan isi perut, aku merasa sangat lapar sehingga makanan yang sudah dingin pun habis ku lahap tuntas.

“Sudah selesai?” Satoshi bersiap menekan tombol panggilan pramugari.
“sudah, aku saja yang panggil pramugari” jawabku sembari menekan tombol panggilan. Pramugari datang mengambil nampan kosong dan kupesan segelas ice kopi.

“saya juga mau ice kopi” satoshi ikut memesan

“kenapa kita bisa berbarengan ya pergi ke Indonesia” tanyaku sembari menyesap ice kopi

Satoshi menurunkan headsetnya, kemudian memandangku sambil tersenyum.

“saya tidak tahu”
“kamu dalam rangka apa pergi ke Indonesia?” tanyaku
“saya ada tugas belajar”
“belajar apa ke Indonesia?”
“saya akan belajar bahasa Indonesia di Universitas Gajah Mada selama 2 bulan”
“wow.. kamu akan ke Jogjakarta, berarti?”
“iya betul. saya akan ke Jogjakarta besok pagi. Malam ini saya akan menginap satu malam di hotel di Jakarta”

Kami pun berbicara banyak, aku bercerita bahwa aku pulang untuk acara launching produk dari tempat ku bekerja. Ternyata satoshi cukup bagus bahasa Indonesianya, dan dia belajar bahasa Indonesia itu karena di wajibkan oleh atasannya.

“kamu rajin berolahraga ya” tanyaku
“iya. saya bermain kendo dan karate. waktu kuliah saya ikut club Rugby. Lihat telinga saya” Satoshi memalingkan wajahnya kearah kiri berusaha memperlihatkan daun telinga kanan nya, seperti bekas terpotong namun sudah kembali tersambung.

“wow, kenapa ini”
“robek tersangkut helmet ketika sedang pertandingan”

Aku merasa tidak mau kalah.

“lihat lenganku” sembari kujulurkan kedua lengan ke depan tubuhku.
“kamu lihat lengan kananku ini, sikunya terlihat sedikit bengkok kan.. aku juga pernah jatuh dan tanganku patah. tapi karena dulu aku sedang liburan dirumah kakek, di pelosok kalimantan, sulit menjangkau dokter atau rumah sakit, jadi tidak di bawa kedokter. hanya di tarik.. hmmm.. di urut.. hmmm.. pokoknya pengobatan tradisional deh. karena itu lenganku ini tidak normal bentuknya”

“oo begitu..”

Kami pun tertawa bersamaan.

Suasana mencair, kami bicara banyak hal. 7 jam perjalanan membuat kami seolah kawan lama yang baru saja bertemu. Menceritakan hal remeh temen yang menurutku tidak menarik tapi bagi satoshi adalah hal yang lucu. Satoshi lahir dan besar di Gifu, salah satu tempat yang banyak sekali turun salju ketika musim dingin. dia memiliki dua ekor anjing yang lebih disayang oleh ibunya dibandingkan dia dan abangnya.

Satoshi menyukai makanan pedas, jadi dia merasa cocok dengan Indonesia. Tapi dia mudah sekali berkeringat, karena itu terkadang dia merasa tersiksa ketika makan makanan pedas.

“oiya nanti kalau kamu butuh informasi atau bantuan di Indonesia, kamu bisa menghubungi aku.”
“OK siap. saya sudah punya nomor telpon Gara”
“oo iya ya.. waktu kita makan siang, aku memberikan nomor telponku kepada kamu dan teman-teman yang lain. ” jawabku
“dan saya juga sudah pernah menelpon Gara.”
“masa sih, kapan..?” aku coba mengingat
“ketika kita bertemu di restoran”
“hah..? masa sih”
“iya, Gara sedang makan bersama malam bersama teman laki-laki, kita berbicara di depan toilet”
“ooo aku ingat.. jadi kamu menelpon aku untuk memastikan itu aku atau bukan”
“betul”

Tanda wajib menggunakan sabuk pengaman sudah menyala, dan pramugari sudah mengumunkan untuk menegakkan sandaran kursi, membuka penutup jendela dan menutup sandaran kaki.

Seketika aku merasakan perasaan tidak nyaman itu kembali hadir.

Aku merasakan benturan dari roda pesawat yang menghantam aspal, pesawat sudah mendarat dan sekarang sedang berlari menuju pintu bandara.

“satoshi, Kamu ada yang menjemput?”
“ada. Ada beberapa senior ku yang juga sedang belajar di Universitas Indonesia”
“kamu bekerja apa sih?”
“aku bekerja untuk negara” jawabnya singkat.
“Gara, di jemput siapa.?”
“adikku” jawabku singkat

kami bersiap keluar dari pesawat. Satoshi meminta ijin kepadaku supaya kami keluar terakhir saja, dengan alasan badannya yang besar akan mengganggu penumpang yang lain. Aku mengiyakan, karena memang aku tidak ingin segera keluar dari lambung pesawat ini.

Sebelum aku membatalkan rencana pernikahan, mas Radit lah yang akan menjemput aku dari bandara. Namun sekarang, Saras yang akan menjemputku.

Semua sudah keluar, tibalah aku dan satoshi yang akan berjalan keluar. Satoshi membantu menurunkan koper kecilku dari kompartemen, kami menyusuri lorong menuju pintu keluar pesawat.

“Indonesia panas ya” satoshi berkata ketika kaki kami sudah melangkah turun dari pesawat. kami berjalan menuju bus yang akan membawa kami masuk ke gedung bandara.

“kamu langsung berkeringat ya” timpalku sambil tertawa kecil. Ku ambil sapu tangan kecil dari dalam tas dan kuberikan kepadanya
“terima kasih, tapi nanti ini akan bau oleh keringat ku” satoshi berusaha menolak
“kamu harus cuci nanti ya, dan kembalikan kalau kita bertemu lagi”
“ok”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: