bag 8 “Djaidi Alwi”

Anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir dari ibu berdarah betawi asli, dan Bapak asal yogyakarta. Sang Bapak datang ke Jakarat untuk menimba ilmu kedokteran di Unviersitas terbaik Indonesia. Ditengah perjalanan pernikahan, bapak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah keluar negri, di tahun di mana Indonesia baru saja merdeka dan masih sangat sedikit orang yang bisa bersekolah tinggi seperti bapaknya Alwi. Namun Emak tidak mau meninggalkan tanah betawi, maka sang bapak pergi menuntut ilmu sendirian, meninggalkan anak dan istrinya.

Bertahun-tahun ditunggu, bapak tidak kunjung kembali. Alwi dan keluarganya hidup hanya mengandalkan penghasilan emak sebagai tukang bersih-bersih di departemen pertanian, karena emak masih buta huruf, hanya itulah pekerjaan yang bisa emak lakukan. Hingga ketika Alwi menginjak kelas 5 Sekolah Rakyat, bapak datang dan membuat pengakuan bahwa sudah menikah lagi dengan perempuan Jawa. Emak sangat terpukul, dan marah. Tidak ingin di madu, emak memutuskan untuk bercerai. Bapak di usir, namun sebelum pergi, bapak meninggalkan alamat rumahnya. Bapak tinggal di karet tengsin, dan bertugas di Rumah sakit fatmawati. Dari situlah kepedihan hidup Alwi seolah tidak kunjung reda.

Melihat emak bekerja keras di kebun sepulang kerja dari bersih-bersih di kantor departemen pertanian, membuat Alwi jarang sekali mengeluh, meminta dan juga bercerita. Alwi tumbuh jadi anak yang pendiam.

Satu ketika, Alwi, abang dan adiknya terancam putus sekolah karena belum membayar iuran sekolah. Emak tidak ada uang, Alwi meminta ijin untuk pergi kerumah bapak sekedar meminta bantuan. Emak dengan berat hati mengizinkan. Berangkatlah Alwi kerumah Bapak dengan berjalan kaki ditengah panas yang membakar Jakarta di tahun tujuh puluhan. Sandal satu-satunya milik Alwi, putus dijalan. Alwi melanjutkan perjalanan dengan telanjang kaki. Telapak kakinya terbakar panasnya terik matahari, dan tertusuk bebatuan, namun Alwi tidak menyerah, dia harus bertemu bapak demi dia dan 2 saudaranya, demi sekolah mereka.

Akhirnya, tibalah Alwi dirumah bapak, rumah yang bagus, jauh sekali dibandingkan rumah Alwi yang hanya terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia. Namun sayang seribu sayang, bukan bapak yang menemuinya, melainkan si ibu tiri. Tanpa mempersilahkan masuk apalagi memberikan Alwi segelas air putih, sang ibu tiri mengusir Alwi di iringi dengan kata-kata hujatan yang tidak pernah bisa Alwi lupakan. Alwi pulang dengan tangan kosong. Emak sangat marah, dan melarang Alwi serta kedua saudaranya untuk meminta pertolongan kepada bapak.

Kepahitan hidup membuat Alwi tumbuh kuat. Dia bekerja serabutan dari usia yang sangat muda demi untuk menyambung sekolahnya. Alwi pandai bermain bola dan mendapat julukan “maradona dari pejaten”.

Hasil bermain bola, terkadang mendapatkan sayuran, beras dan juga lauk-pauk. Apapun hasilnya, Alwi selalu bersyukur, dan membawa pulang untuk dimakan bersama keluarga.

Alwi juga pandai mengaji, memiliki suara yang merdu ketika mengaji dan mengumandangkan adzan, dari situ jugalah berdatangan rezeki yang bisa membuatnya tetap bisa makan meskipun tidak membuat perutnya kenyang.

Ketika lulus SMA, sembari menjadi marbot di masjid, Alwi pun diminta menjadi satpam perumahan mewah sebuah Bank Central. Satu hari, seorang pejabat dari Bank Central memberikan informasi bahwa di bank tersebut sedang membuka lowongan besar-besaran, Alwi di minta untuk mengirimkan surat lamaran pekerjaan. Tanpa pikir panjang, Alwi segera membuat lamaran tersebut, dia meminta doa kepada emak, dan melakukan sholat tahajud selama 40 malam.

Ditengah usahanya mendapatkan pekerjaan di Bank Central, Alwi jatuh hati kepada gadis berambut panjang bermata coklat yang bekerja di kantor di depan masjid tempat Alwi menjadi marbot. Setiap pagi gadis berkulit putih itu turun dari sedan mewah dan naik kembali ke sedan mewah pada pukul lima sore hari.

Gayung bersambut, nyonya Marina, pemilik kantor tersebut meminta Alwi untuk mengawal gadis itu. Perempuan berdarah dayak yang luar biasa cantik. Berjalan beriringan, mendengarkan semua cerita gadis ini, melihat lesung pipinya ketika dia sedang tersenyum. Menghirup aroma rambutnya ketika tersapu angin, semua itu membakar semangt hidup Alwi. Disetiap sujudnya, diselipkan doa untuk cinta pertamanya.

Cinta Alwi tidak bertepuk sebelah tangan, gadis dayak itu mau menunggunya, Alwi berjanji akan datang melamar, ketika Alwi sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Alwi berjanji kepada dirinya sendiri, apabila dia tidak mendapatkan pekerjaan tetap, maka tidak ada jatah baginya untuk menikah.

Di malam tahajud yang ke 40, Alwi menangis tersedu-sedu. Mengadukan gundahnya, meminta kekuatan kepada sang Khalif pemilik jagat raya ini.

Keesokan hari nya, sang pejabat Bank Central memanggil Alwi, menyampaikan bahwa Alwi mendapatkan kesempatan untuk maju ke test pertama, yaitu wawancara.

Sujud syukur tidak Alwi lewatkan, serta sujud di pertengahan malam berikut nya dan seterusnya. Alwi selalu berusaha menunaikan shalat di pertengahan malam.

Hingga akhirnya Alwi benar-benar diterima bekerja di Bank Central.

Surat cinta dari gadis dayak tidak pernah absen datang kerumah setiap bulan, begitupula tulisan tangannya tidak pernah terlambat Alwi kirimkan kepada gadis pujaan hatinya, gadis dayak bakumpai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.
%d bloggers like this: