bag 9 “Salju di telapak tangan”

“Gara, tolong berikan nomor telpon kamu, supaya mereka bisa menghubungi kamu apabila mereka ada keperluan atau butuh pertolongan” Bli ketut berkata dari ujung ruangan. Suaranya menggema di seluruh ruangan membuat semua orang menoleh ke arahnya. Saat itu, pelanggan hanya tersisa kami, aku dan para pria berbadan tegap. Jam makan siang sudah selesai, para pengunjung sudah meninggalkan restoran. Jam beroperasi restoran di Jepang berbeda dengan jam operasional cafe. Restoran hanya buka pada jam makan siang dan makan malam. Jam makan siang dimulai jam 11.30 dan berakhir jam 3.00 sore pada umumnya. Kemudian restoran tutup dan mengistirahatkan pekerjanya. Beroperasi kembali pada jam 6 sore, jam makan malam, hingga pukul 10.30 malam.

aku terdiam sesaat, tanpa sengaja tatapanku berpapasan dengan sorot mata pria berbaju putih yang sedari tadi hanya diam, sibuk dengan smartphonenya. Bola matanya berwarna coklat.

Tiba-tiba aku merasa gugup dan tanpa berpikir lagi, aku sebutkan nomor telpon. Seketika para lelaki berbadan tegap seperti memasukan nomor telpon ku ke dalam smartphone mereka.

“Terima kasih” serempak mereka berkata.

“sama sama” jawab ku

“aku pamit ya” sembari beranjak dari kursi.

“Gara san tidak perlu membayar, kami yang akan membayar makanan Gara san.” pria berbaju hijau seperti bisa membaca pikiranku.

“terima kasih, tapi aku tadi makan banyak sekali.”
“tidak masalah, kami juga makannya banyak.” sahut sweater hijau lagi.

“Ok. sekali lagi terima kasih ya. Aku duluan ya”

Bli ketut berdiri di depan pintu keluar, di lengannya sudah tergantung Coat coklat milikku, dan dengan sopan membantu ku mengenakan coat tersebut.

“kamu tidak ingin pulang bersama salah satu dari mereka, minimal menemani berjalan kaki sampai dekat apartemen.”
“Tidak perlu, bli. terima kasih. Aku sedang ingin berjalan dalam tenang, sendiri..”jawab ku sembari mengenakan topi rajut merah bata kesayangan.

Ketika keluar dari restoran, langsung di sambut semilir angin dingin yang menusuk tulang. Ku tarik nafas panjang sembari merapatkan Coat, kulangkahkan kaki memasuki jalanan yang masih saja di guyur rintik salju lembut.

“Begini rasanya patah hati.” Gumamku.

Aku pernah merasakan kehilangan Papa empat tahun lalu, namun rasa ini berbeda. Letak rasa sakit di dada ini sama, namun rasanya berbeda.

Kehilangan mas Radit, laki-laki yang selalu menemaniku sepanjang usia remaja. Kami satu club basket di Sekolah Menengah Pertama, satu club musik di Sekolah Menengah Atas. Dia kakak kelasku, dia pelindungku ketika aku kehilangan teman-temanku. Dia selalu ada ketika aku butuh sahabat, teman, guru, pembimbing. Aku mencintainya, dia cinta pertamaku. Mungkin hidup tanpa mas Radit bisa aku lewati, buktinya memang selama 5 tahun ini aku hidup berjauhan, tapi menghapuskan kenangan bersama mas Radit, butuh banyak usaha dan tenaga. Butuh waktu yang panjang.

“Sanggupkah aku?”

7 tahun kami berakhir seperti ini. Kenangan, janji dan cita-cita harus berhenti dan kandas disini.

Tapi aku harus tetap melangkah maju, lewati segala proses ini, sesakit apapun. seperti ketika aku bisa melalui proses kehilangan papa.

Ku genggam salju halus yang jatuh dari langit. Entah sudah berapa kali aku telah merasakan tekstur lembut dan dinginnya salju. Tetesan kecil salju yang jatuh sangat bening dan rapuh. Namun apabila mengendap dan menggumpal, tetesan bening dan rapuh itu berubah menjadi gundukan berwarna putih, kokoh dan sangat dingin. Segala kesedihan dan rasa sakit ku ini, menggumpal menjadi satu, semoga bisa menjadi kekuatanku untuk menghadapi segala rintangan hidupku di masa depan.

Aku tak sanggup berjalan, kaki ku lemas. Aku berhenti sejenak dan menepi ke pinggir jalan. Aku putuskan untuk berjongkok. Ku peluk kedua kakiku, wajah ku letakan masuk di sela-sela lutut. Aku menangis, akhirnya aku menangis..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: