Laci laci kenangan

Pagi ini aku bangun dengan rasa sesak didada, lelah. Aku yakin ini penyebabnya karena mimpi buruk yang datang menghampiriku malam tadi.

Ku runut-runut mimpi apa sih malam tadi, tapi ternyata gagal. Aku tidak berhasil mencari apa yang kumimpikan. Semakin ku ingat, semakin lelah rasanya. Mungkin kalian juga pernah merasakan hal ini.

Setelah mimpi yang membuatku lelah, perasaan ini rasanya campur aduk. Sayang sekali aku sedang tidak bisa bersujud karena ada tamu bulanan. Jadi rasa galau ini tidak bisa kutumpahkan diatas sajadah. Aku tidak bisa berbisik ke bumi supaya bisa terdengar sampai langit.

Yang ku tahu, aku merindukan sesuatu.

Setelah mandi dan bersiap berangkat ke kantor, langit terlihat mendung. Betapa langit memahami apa yang kurasakan saat ini, gloomy-sedih tak beralasan.

Suara musik love song tahun 90-an mengalun di telingaku, dihantarkan oleh headphone yang kutancapkan dismartphone. Sembari berjalan menyusuri taman depan apartemen menuju stasiun kereta, alunan musik ini memancing kenangan masa kecilku, masa dimana hanya merisaukan urusan PR sekolah. Hingga tibalah sosok laki-laki gagah yang wajahnya samar keluar dalam ruang ingatanku, aku tau sosok itu. Itu Papah. Dadaku berdegup lebih kencang, mataku terasa panas.

Aku mulai melupakan wajah muda Papah, dan ada rasa penyesalan dihati. Aku berjuang keras mengorek-ngorek laci ruang kenanganku, mencari wajah muda Papah. Semakin ku obrak-abrik ruangan kenangan, semakin jauh aku melangkah kemasa kecilku, aku berlari dan mencari. Aku merasa panik, aku telah melupakan wajah muda cinta pertamaku. Hanya sosoknya yang bisa kukenali.

Ku coba menepi di pinggir jalan, ku tenangkan diri, beristighfar berkali-kali. Ternyata ini mimpiku malam tadi, aku mencari wajah laki-laki itu. Laki-laki yang mengumandangkan adzan di telingaku untuk pertama kalinya, yang bahkan tidak pernah sama sekali bisa kuingat moment itu.

Aku merindukan Papah.

Ku buka smartphone, kulihat folder photo dan dengan cepat kutemukan photo itu. Photo papah ketika masih muda, dan itu satu-satunya foto yang kumiliki. Ke peluk gambar itu, kudekapkan ke dada. Di umur yang mendekati empat puluh tahun ini, tetap aku butuh sosok laki-laki ini. Berat rasanya melewati hari-hari ketika rasa rindu ini datang.

Kulanjutkan berjalan sembari tetap mencari alasan kenapa aku merasa kehilangan banyak moment bersama papah ketika masih kecil. Selalu kutemukan wajah umi di setiap moment memoriku. Aku bisa mengingat lesung pipi umi sedari wajahnya masih kencang, tapi aku kesulitan mencari sorot tajam mata papah ketika tulang pipinya masih terlihat tegas.

Satu-satunya jawaban yang bisa membuat ku berhenti mencari sosoknya adalah bahwa Papah sangat sibuk mencari nafkah demi kami, enam orang anaknya. Hingga sedikit sekali waktunya bersamaku ketika masih kecil. Kesibukannya terus berlangsung hingga si bontot selesai masa sekolahnya, dan Papah hanya memiliki waktu pendek untuk menikmati masa tuanya, kemudian harus meninggalkan kami selamanya. Airmataku bergulir, betapa menyesalnya aku, kenapa aku jarang menatap wajah papah ketika ku kecil dulu, apabila itu aku lakukan, akan banyak memori yang masuk kedalam laci-laciku, dan bisa ku buka kapan pun aku mau.

Yang tersisa dan tidak pernah bisa hilang dari ingatanku adalah suara merdunya ketika mengaji. Ya, aku lebih sering mendengar suara Papah mengumandangkan adzan ketimbang menatap wajahnya. Aku lebih sering mendengar suara papah mengaji ketimbang suara dia memberiku nasehat apalagi memarahiku.

Kututup kembali laci kenangan di dalam otakku. Layar seperti tergulung rapih, dan aku harus melangkah kedepan, menghadapi hidup ini. Memperbanyak waktuku menatap wajah kedua putriku, agar kelak ketika aku sudah tiada, wajahku, senyumku akan selalu tersimpan rapih didalam laci-laci kenangan anak-anakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: