BAg 10 “Sweater putih dan mata coklat”

“Gara san, apakah baik baik saja?” suara berat seorang lelaki terdengar sangat dekat di telingaku
“Gara san..?” suara itu mengulangi kembali panggilannya. Ku angkat wajah yang basah karena air mata, Kulihat sosok laki laki bersweater putih dengan bola mata bening berwarna coklat.

“saya Satoshi, muridnya ibu nadya. Tadi saya makan siang bersama Gara san di restoran sanur. Masih ingat tidak?” laki-laki itu berkata dengan bahasa Indonesia yang kaku.

Tidak ada jawaban yang bisa kuucapkan. Aku hanya terdiam memandang wajah laki-laki itu. Badannya setengah membungkuk dan dari sorot matanya aku menebak dia terkejut melihat kondisiku.

Aku mencoba bangkit, namun keseimbangan tubuhku saat itu buruk dan hampir terjatuh, beruntung lelaki itu dengan sigap menangkap tubuhku. Dengan satu lengan, dia berhasil merangkul tubuhku. Tubuhku kecilku berada di dalam dekapannya, hidungku membentur dadanya cukup keras.

Dengan sisa-sisa tenaga, ku dorong tubuhku menjauh dari pelukannya, dia pun seperti menyadari bahwa niat baiknya untuk menolong mendapatkan penolakan. Dengan segera, dia melepaskan lengannya dari tubuhku. Sekarang kami berdiri berhadapan. Ku bungkukan tubuhku dua kali berturut-turut tanda terima kasih sudah menolong. Lalu segera berbalik badan dan meninggalkan laki-laki itu.

“gila, badan apa tembok, keras banget” keluh ku dalam hati sembari mengelus hidungku yang nyeri.

Salju masih terus turun, makin lama makin deras. Sejauh mata memandang, semua area berwarna putih. Jalanan mulai tidak terlihat karena tertutup salju. Salju sisa kemarin masih menumpuk dan sudah mengeras menjadi es batu, sekarang turun lagi salju yang baru, yang masih lembut.

Setelah bertahun-tahun di Jepang dan melewati beberapa kali musim dingin, aku masih saja terpukau melihat salju, tapi juga menyadari bahwa salju tidak hanya indah, tapi juga berbahaya. Tumpukan salju yang sudah membeku, menjadi sangat licin dan berbahaya. Di jalan raya dan jalan tol, diwajibkan mengganti ban mobil biasa menjadi ban mobil khusus salju, ini untuk menghindari terjadi kecelakaan mobil terselip karena jalanan tertutup salju yang sudah membeku.

Ketika hujan salju turun terlebih lagi badai salju, petugas akan berdiri di depan gerbang tol untuk memeriksa apakah mobil yang akan masuk kedalam tol sudah menggunakan ban salju sesuai standar keamanan berkendara atau belum. Apabila belum menggunakan, maka biasanya pemilik kendaraan memasang rantai yang mengililingi ban mobil. Apabili salah satu dari tersebut tidak dilakukan, maka di larang untuk masuk kedalam jalur bebas hambatan.

Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, akhirnya tiba juga di apartemenku. Badanku terasa membeku, jari jemari kebas, padahal aku sudah menggunakan sarung tangan dan menyelipkan kedua tanganku kedalam kantong jaket.

Jam menunjukan pukul 4 sore hari, namun matahari sudah mulai beranjak turun, langit pun mulai terlihat gelap. Ku bersihkan tubuhku. Sembari menyeruput teh hijau hangat, ku duduk di sofa kecil dekat Jendela. Salah satu tempat favorite menghabiskan waktu. Di situ aku membaca buku, menulis cerita dan menumpahkan segala kegelisahan hati ini yang tidak bisa aku sampaikan kepada siapapun. Atau terkadang hanya duduk memandang langit dari balik jendela.

Ku raih buku terakhir kiriman mas Radit. Buku karya Andre Hirata dengan judul Ayah, sudah 2 kali kubaca ulang. Aku sangat menyukai gaya penulisan Andrea HIrata, ringan dan menyentuh. Gaya hidup khas orang melayu digambarkan dengan begitu manis.

Dear Kanigara,
i wish i had done everything in my life with you
-Radit-

Tulisan tangan mas radit tertera di lembar pertama buku itu. Tulisan tangannya cukup bagus untuk ukuran seorang lak-laki.

Kami teman satu SMA, dia kakak kelasku satu tahun diatas ku. Kami satu team basket, sering menghabiskan waktu bersama. Dia tidak lucu, bukan laki-laki humoris, dia pendiam, introvet, kaku. Tapi bisa berubah sangat hangat ketika sedang berdua dengan ku. kami bisa tertawa bersama. Sepuluh tahun sudah kami saling mengenal dan dalam sepuluh tahun itu, kami mengikat janji sebagai sepasang kekasih, membangun rencana masa depan kami selama tujuh tahun. Tapi ternyata harus kandas.

sedih.. hati ku hancur, remuk. Menjelang pernikahan kami, aku menyerah. Aku lepaskan ikatan

Menikah bukan hanya aku dan mas Radit. Bagiku, keluarga adalah segalanya. Ketika aku menikah, maka keluarga suamiku pun akan jadi segalanya bagiku. Tapi, aku tidak pernah merasa diterima oleh ibu mas Radit. Selalu saja ada yang salah dimatanya. Aku tidak ingin pernikahan ku gagal, atau membuat mas Radit harus memilih antara aku dan ibunya.

Ketika kami bertunangan, ibu mas Radit berkali-kali menyerang ku dengan pernyataan yang sungguh di luar nalarku.
“Gara, kamu jangan pernah berhenti bekerja ya, karena kamu harus membantu Radit mencari nafkah, jangan selalu mengharapkan pemberian dari Radit.”

Aku tidak paham maksud dari perkataan tersebut. Aku hanya bisa diam mematung, mendengar perkataan sang ibu mas Radit.

Intimidasi kecil pun berkali-kali aku rasakan.

Mulai dari cara berpakaian ku yang di nilai tidak sesuai dengan umurku dan tidak elegan, make up yang cukup buruk, dan hal-hal kecil yang menurut ku bukan hal penting yang berhubungan dengan masa depan hidup ku dan mas Radit.

Hingga puncaknya, malam itu. Intimidasi terakhir yang harus aku akhiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: