Bag 12 “aku tidak nyaman”

“Gara, besok mau aku anter ke Bandara? kamu naik pesawat jam 12.30 kan ya?”
sms masuk dari bang Robi. Belum sempat aku membalas pesan tersebut, telpon masuk.

“hallo”
“duh, galak amat jawabnya. Besok gw antar ke bandara ya.” jawab suara di seberang
“engga perlu bang, aku bisa sendiri. Udah biasa sendiri.”
“kamu bawa banyak barang kan?”
“produk sih sudah dikirim dari kantor ke Indonesia, jadi aku hanya bawa barang-barangku sendiri dan juga beberapa oleh-oleh”
“ya gpp.. nanti aku jemput. naik mobil ya, supaya engga repot tarik-tarik koper”
“engga perlu bang.. makasih” tanpa pikir panjang, ku tutup telponnya. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan perlakuan bang Robi.

Jarak apartemenku ke stasiun bus sekitar 3 menit berjalan kaki, perjalanan dengan bus sampai ke stasiun kereta memakan waktu kurang lebih 15 menit. Dan dari situ, aku bisa naik kereta cepat langsung menuju bandara Narita. Jadi tidak ada alasan aku merasa kesulitan dengan barang bawaan, karena memang semua praktis. Aku tidak ingin memulai rasa ketergantungan dengan orang lain.

Jam 8 pagi aku sudah berada di bus menuju stasiun kereta. Perjalanan dari stasiun kereta kichijouji sampai bandara Narita sekitar 47 menit. kira-kira jam 9.20 aku sudah berada di bandara. Masih ada sekitar satu setengah jam sebelum masuk ke dalam pesawat, aku akan habiskan waktu sarapan pagi dan berjalan-jalan di area perbelanjaan di dalam bandara.

Aku akan tiba di Jakarta di hari yang sama, sekitar jam 17.15 WIB. Saras akan menjemputku di bandara soekarno hatta. Hari berikutnya, Sabtu jam 2 siang akan ada meeting dengan EO yang bekerjasama untuk acara launching produk perusahaan di Plaza senayan pada hari minggu sore. Setelah meeting, aku harus pergi ke bandara untuk menjemputt Yamazaki san dan Ueno san di bandara soekarno hatta, karena mereka akan menghadiri acara launching tersebut. Mereka berdua akan berada di Jakarta selama 4 hari, hari kamis tengah malam mereka akan kembali lagi ke Tokyo. Setelah itu, kalau menurut rencana sebelumnya, kesibukan menyambut akad nikah dan resepsi pernikahanku pun dimulai.

Masih Menurut jadwal, hari Jumat adalah jadwalku mencoba baju untuk akad dan resepsi pernikahan. Setelah itu, selama seminggu aku harus diam dirumah atau bahasa daerah nya di pingit untuk menyambut akad nikah hari jumat minggu berikutnya di masjid yang sangat megah di daerah Pondok Indah. Dilanjutkan resepsi di hari selanjutnya, kemudian hari minggunya acara ngunduh mantu di kediaman mas Radit.

Padat sekali acaraku, seharusnya. Tapi kenyataannya, aku akan berada di Indonesia selama empat minggu, satu minggu awal padat dengan pekerjaan, sisanya aku libur, tidak ada rencana apapun. Aku berlibur tanpa rencana liburan.

Kak Gaya sudah menyiapkan hadiah tiket bulan madu ke bali. entah lah, apa mungkin terpakai atau malah hangus. Kita lihat saja nanti, bagaimana episode hidup membawaku.

Setelah selesai chek in, aku masuk kedalam lorong bandara. Salah satu tempat yang tidak pernah sepi. Aku menyusuri toko demi toko, mencari sesuatu yang menarik, entah apa aku sendiripun tidak tahu. Aku merasa bingung, ada rasa tidak nyaman menjalar di dalam dada. Seperti perasaan khawatir, perasaan akan terjadi sesuatu yang tidak bagus. Aku bukan manusia yang memiliki kelebihan bisa melihat masa depan atau bisa membaca tanda-tanda masa depan. Hanya saja, aku merasa ada sinyal-sinyal yang tidak bagus yang akan terjadi kepadaku. Atau ini hanya perasaan takutku saja, perasaan khawatir akan gagal acara launching ini, atau takut menghadapi orang-orang yang menuntut penjelasanku perihal pembatalan pernikahan ini.

entahlah, yang jelas aku sedang merasa tidak nyaman.

Jam menunjukan pukul 10.45 JST. Pintu masuk ke area pesawat sudah terbuka, penumpang kelas bisnis, lansia dan ibu yang membawa anak sudah di dahulukan. Tibalah giliranku menyusuri lorong menuju lambung pesawat. Di mulut pesawat, pramugari yang anggun dan cantik menyambut para penumpang, menanyakan nomor kursi kemudian memberitahukan arah menuju kursi-kursi tersebut. Aku merasa belum siap untuk kembali ke Jakarta, aku mulai menyadari rasa tidak nyamananku.

ya.. aku takut bertemu dengan mas Radit. Aku khawatir tidak bisa menguasai diriku sendiri. Aku takut tidak bisa menahan rasa rindu ini, aku takut.. aku takut.

Banyak hal yang aku takuti.

Ku hempaskan perlahan bokong ku di kursi pesawat. Aku sengaja memilih kursi di dekat jendela, agar aku tidak terganggung oleh lalu-lalang penumpang lain. Tidak lama datanglah seorang laki-laki berbadan besar, dia meletakan kopernya di kompartemen, kemudian duduk disampingku. Aku melihat pergerakan orang itu dari ujung mataku, aku tidak memalingkan wajah sama sekali. Aku terus menatap lurus keluar Jendela.

Pesawat mulai bergerak, dan suara pramugari mulai terdengar dari pengeras suara, mengumumkan rute pesawat, peraturan dalam pesawat dan penanganan diri ketika situasi bahaya tiba.

kurapihkan posisi duduk sembari memasang sabuk pengaman, saat itu mata ku beradu pandang dengan laki-laki yang duduk di sebelah. Bola matanya coklat, aku kenal mata ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: