menemani sang pemilik duka

Setelah kehilangan Papa 5 tahun lalu, aku mulai memahami bahwa waktu tidak bisa menyembuhkan luka kehilangan, tapi waktu mengajarkan kita bagaimana berdamai dengan rasa kehilangan.

Sahabatku yang setengah tahun lalu baru saja kehilangan suaminya juga mengatakan hal serupa,
“waktu tidak bisa menyembuhkan tapi membiasakan kita hidup berdampingan dengan luka”

Benar, itu benar. Lima tahun berlalu, namun rasa sakit itu masih terasa, menusuk di dada. Dan aku mulai terbiasa dengan sesak di dada ini. Saat rasa itu datang, maka ku nikmati sakitnya, ku nikmati rasa rindu ini, ku kirimkan doa lebih banyak dari biasanya, berharap Allah menghadirkan Papa kedalam mimpiku, meskipun hanya sekejap mata.

Tidak pernah ada duka dan luka yang bisa dibandingkan. kehilangan orang yang kita cintai merupakan luka terdalam, namun Iman dan keihklasan lah yang mengontrol emosi kita untuk menyikapi rasa itu.

“Hi, how are you”
“gimana kabarnya?”

Ini pertanyaan yang lumrah kita tanyakan kepada teman ketika baru berjumpa setelah beberapa waktu berpisah. Namun pertanyaan ini akan aneh rasanya ketika kita tanyakan kepada orang yang baru saja berduka. Kita tahu bahwa dia-mereka-beliau tidak sedang baik-baik saja.

“gw bingung menjawab pertanyaan orang ketika menanyakan “how are you”.. karena gw tidak sedang baik-baik saja, cuma tidak tahu bagaimana mendeskripsikan apa kabar gw”

jawaban dari sahabatku ketika dia berusaha mengurai apa yang dia rasakan setelah kepergian suami tercintanya.

kawan ini adalah satu dari beberapa sahabat dan temanku yang harus iklas ketika suami mereka di panggil pulang kembali kepada sang pemilik kehidupan ini. Di umur yang terhitung muda, dimana hubungan suami-istri sudah memasuki fase saling memahami, hubungan antara dua orang dewasa yang sudah saling tahu arah biduk rumah tangga ini akan dibawa kemana dan akan berlabuh dimana.

seketika dunia mereka gelap, pekat, dan hilang arah. Secara tiba tiba seorang diri, tangan yang selama ini saling bergandengan, tiba-tiba harus dilepaskan. Tangan ini pun kebingungan mencari tempat berpegang, belum lagi anak-anak yang masih kecil, yang masih butuh sosok orang tua lengkap, bayangan ekonomi yang harus di pikul sendiri demi anak-anak tetap bisa terpenuhi kebutuhannya. Bayangan label baru bagi anak-anak ini, anak-anak yatim. Semua itu pasti sangat menyakitkan, butuh waktu lama untuk membiasakan diri ini hidup dengan luka yang tidak akan pernah sembuh, karena orang yang sudah meninggal tidak akan pernah bisa kembali lagi.

pantas kah kita bertanya “are you okay”
atau memberikan nasihat “kuat ya, anak-anak butuh kamu”

Jangan tambahkan beban dengan mengingatkan bahwa mereka HARUS KUAT. Mereka sangat tahu bahwa mereka HARUS kuat, karena ada anak-anak yang butuh di jaga. Biarkan mereka luapkan kesedihannya, agar luka itu kering secara alami.

Aku mengamati cara sang pemilik duka ini melewati hari-hari barunya. Mereka mencoba memahami bahwa mereka di pilih merasakan duka ini lebih dulu dibandingkan kawannya yang lain karena Allah yakin mereka kuat.

Biarkan mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka bisa kuat, tanpa harus di berikan tekanan “Lo harus kuat, kawan..!”

Biarkan mereka menikmati rasa sakit kehilangan belahan jiwanya, mungkin dengan itu mereka memahami bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan yang ditugaskan untuk menjadi pengingat bagi kita semua yang masih memiliki pasangan hidup disamping kita masing-masing.

Mereka mencontohkan cara berdampingan dengan luka ini melalui cara mereka masing-masing.

Mereka menuliskan kepedihan hatinya lewat caption foto di sosial media, dan rasa sakit itu tersampaikan. Aku, bisa merasakannya. Menyadarkan bahwa satu saat entah aku atau suamiku yang akan berada di posisi tersebut.

Berikan tangan kita, ketika mereka butuh digandeng, berikan telinga kita ketika mereka butuh di dengar, berikan bahu kita ketika mereka butuh di topang.

Sebut namanya dalam setiap doa kita, karena kita hanya menunggu giliran untuk berada di posisi tersebut, menunggu saat kitalah yang butuh di doakan, butuh digandeng, butuh bahu untuk menopang tangis kita.

Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: