Bertetangga di Jepang -1

Mungkin bagi yang mengikuti Instagram ku, sudah tahu kasus kami dimana kami sekeluarga mendapatkan keluhan dari keluarga yang tinggal di lantai bawah apartemen kami.

kali ini akan aku ceritakan kronologisnya. Kami tinggal di gedung 25 lantai, dan kami menempati apartment di lantai 23. Sebelum memutuskan tinggal di gedung tersebut, kami mencari tahu terlebih dahulu lingkungan sekitar. Karena saya dan suami mulai memahami bahwa di Jepang sangat menyukai ketenangan. Dilarang keras mengganggu ketenangan orang lain dan juga ketenangan umum.

Apartemen berada di daerah yang strategis, 20 menit berkereta menuju shinjyuku. Dari apartemen hanya memerlukan 7 menit berjalan kaki untuk mencapai stasiun kereta. banyak daycare dan juga sekolah. Taman besar dan kecil pun ada dimana-mana. Terlebih lagi, gedung tersebut ramah anak, karena mereka menawarkan paket diskon “mamawari”, dimana hanya bisa diambil oleh keluarga yang memiliki anak dibawah umur 18 tahun.

Kamipun memutuskan pindah. 5 tahun lebih kami tinggal nyaman di gedung ini. Tidak ada keluhan sama sekali. Dari Aina berumur satu tahun hingga masuk SD kelas 1. Kenes pun lahir, menambah kebahagiaan kami sekeluarga.

Bulan Mei 2021, datang sepucuk surat dari manajemen gedung yang isinya menyampaikan bahwa orang yang tinggal di lantai bawah apartemen kami merasa terganggu dengan suara dari dalam apartemen kami.

Dalam surat itu tertulis bahwa suara ribut setiap hari terdengar, mulai dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

hampir enam tahun kami tinggal nyaman di gedung tersebut, sampai satu ketika datanglah complaint dari tetangga yang tinggal di lantai 22.

Awalnya datang surat dari management gedung, yang isinya menjelaskan bahwa penghuni lantai 22 terganggu dengan keributan yang ditimbulkan keluarga kami. Dalam surat keluhan tersebut, menyatakan bahwa dari jam 6 pagi sampai dengan jam 11 malam, keributan terus berlangsung tiada henti. Suara langkah kaki yang berdebam, suara furniture yang di geser, dan ada suara pukulan seperti orang sedang memperbaikin sesuatu.

Kami menyadari bahwa memang anak-anak kami membuat keributan dengan berlari di dalam rumah, melompat atau menjatuhkan barang. Tapi kami juga menyangkal kalau itu terjadi sepanjang hari dari jam enam pagi sampai dengan jam sebelas malam. Anak-anak jadwal tidur adalah jam sembilan malam dan bangun pagi jam 6.30 untuk Aina dan jam 7 pagi untuk kenes.

Aina jam 7.30 berangkat kesekolah, aku berangkat kerja jam 8 pagi dan kenes serta ayah akan pergi ke taman jam 9 pagi. Kenes tidur siang jam 1 siang sampai dengan jam 3 sore, Aina baru pulang sekolah jam 3 sore lanjut les mengaji atau pergi ke tempat bermain di kelurahan. Intinya keributan rumah akan dimulai jam 6 sore hari hingga jam 9 malam.

Tetangga kami membuat laporan bohong dan itu membuat aku marah. Tapi si ayah mencoba berpikir lebih tenang untuk menanggapi keluhan tersebut.

Si tetangga bawah meminta waktu untuk bertemu langsung. Awalnya aku keberatan karena memang aku tidak ada waktu, tapi staff managemen gedung berusaha mencari waktu dimana aku bisa datang. Karena merasa lelah di todong tanggal dan jam kapan aku bisa bertemu, akhirnya aku berikan hari dan jam paling malam, dan mereka bersedia.

Keesokan harinya, aku ceritakan hal ini kepada teman kantor. Temanku orang Jepang, dan dia memberikan masukan bahwa lebih baik hindari, karena akan berbahaya kalau mereka tahu wajah kami. Ada kemungkinan mereka akan bisa menyakiti kami ketika bertemu di luar area gedung. Kami adalah orang asing , terlebih lagi aku menggunakan jilbab, yang sangat mudah dikenali.

langsung aku telpon manajemen gedung dan mengatakan ke khawatiran ku tentang keselamatan kami sekeluarga. Staff tersebut menjamin bahwa saat mediasi aku akan aman, tapi aku meminta mereka menjamin keamanan kami sekeluarga kalau ternyata hasil dari mediasi itu tidak berjalan baik. Dan mereka tidak berani menjamin hal tersebut. Maka mediasi dibatalkan.

Aku berjanji untuk mengingatkan aina-kenes agar tidak membuat keributan seperti, berjalan lebih pelan tidak perlu berlari didalam rumah. Tidak melompat-lompat dan berhati hati ketika menggeser kursi makan, serta sebisa mungkin tidak menjatuhkan barang.

Namun, itu tidak membuat tetangga bawah kami puas. Mereka mulai meneror kami dengan surat-surat.

2 Replies to “Bertetangga di Jepang -1”

  1. pinkuonna says:

    Walaupun udah tahu dari IG, tetapi tetap penasaran pengeo tahu detailnya. Ditunggu lanjutannya πŸ™

    Liked by 1 person

Leave a Reply to pinkuonna Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: