Bertetangga di Jepang-2

Beberapa kali kami mendapatkan surat dari management gedung yang isinya adalah menyampaikan keluhan dari tetangga bahwa kami. Saya pun berulang kali meminta maaf, dan menolak untuk menerima surat-surat dari tetangga bawah lagi.

Ketika libur musim panas, masa emergency status di berlakukan. Maka kami tidak bisa membawa anak-anak liburan. Hanya sekitaran taman daerah apartemen saja. Satu hari di sabtu, sekitar jam satu siang, suamiku sedang membersihkan beranda, menyikat lantai dan mengaliri dengan air. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai bahwa yang kurang jelas mengatakan apa, tapi cukup jelas terdengar bahwa suara tersebut meneriakan rasa marah.

Suamiku berhenti membersihkan beranda, dan mulai merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.

Beberapa minggu kemudian, ada surat dari penghuni lantai bawah yang langsung di masukan ke kotak surat kami. Surat tersebut menyatakan bahwa selama satu bulan ini suara ribut semakin menjadi dari apartemen kami, padahal sebelumnya sudah mereda.

Ku foto surat tersebut dan ku masukan kembali surat tersebut ke kotak surat si tetangga bawah. Kesal rasanya! Harusnya mereka paham bahwa anak-anak sedang libur musim panas, maka pasti full berada dirumah.

Keesokan harinya ketika kembali memeriksa kotak pos, surat itu ada lagi. Tanpa pikir panjang, ku sobek dan kumasukan kembali ke kotak suratnya si tetangga resek.

Aku telpon management gedung, dan kutumpahkan kekesalanku terhadap tetangga ini. Sebelum surat ini, beberapakali bapak penghuni lantai bawah naik dan memencet bel apartemen kami dan mengeluh soal keributan dari apartemen kami. Suami awalnya selalu meminta maaf, tapi lama kelamaan kami merasa tidak adil. Banyak aduan yang tidak masuk akal dan seolah-olah mengada-ada.

Ketika aku yang menjawab bel dari si bapak lantai bawah, aku tidak meminta maaf. Aku hanya menjawab “HAI” dengan nada ketus. Ada kesempatan lain dimana aku pencet tombol intercom bel apartemen kami ketika si bapak memencet bel apartemen kami dan langsung aku matikan kembali.

Dan akhirnya, di akhir september, tepatnya hari minggu jam 8.50 malam. Saat itu hanya ada aku dan kedua anak kami, suamiku sedang pergi berbelanja ke supermarket. Kembali bel kami berbunyi. Sebagai penggambaran singkat, apartemen kami memiliki sistem autolock, jadi ada dua bel. Pertama di pintu masuk gedung, hanya yang memiliki kunci apartemen gedung saja yang bisa membuka gerbang. Ketika ada tamu atau para pengantar barang, mereka memencet nomor apartemen kami, dan kami bisa membukakannya dari dalam apartemen kami. Bel tersebut dilengkapi dengan kamera, jadi wajah tamu bisa terlihat jelas. Bel yang selanjutnya tepat di depan pintu aparteme kami.

Malam itu suara bel yang terdengar adalah suara bel di depan pintu apartemen. Aku baru saja selesai mengurus aina-kenes berendam di bathup. Perasaanku sudah mengarah ke bapak tetangga bawah yang memencet bel, dan benar saja itu dia. Karena merasa tidak diperdulikan oleh ku, si bapak sepertinya marah, dia memukul pintu apartemenku dua kali dengan cukup keras.

Saat itu emosi, tanpa pikir panjang, aku balas memukul pintuku. tidak lama kemudian, suamiku pulang. Kami memutuskan untuk menelpon 110, nomor telpon untuk meminta pertolongan ketika keadaan darurat.

Aku laporkan apa yang terjadi. tidak perlu menunggu lama, kurang dari 15 menit polisi sudah datang ke apartemen kami. Satu orang polisi muda datang dan 5 menit kemudian di susul oleh dua orang polisi senior. Mereka mewawancarai aku dan suami. Aku ceritakan semua keluhan dan kekesalan serta rasa khawatir kami atas perilaku tetangga kami yang mulai membahayakan. Polisi muda mendatangi apartemen si bapak tetangga untuk memperingatkan bahwa perilakunya mengganggu dan membahayakan.

Polisi senior memperingatkan kami untuk lebih berhati-hati lagi. Selama ini si tetangga bawah beberapa kali meminta untuk bertemu langsung, namun kami tolak dengan alasan keamanan. Dan ternyata itu di dukung oleh para polisi. Mereka melarang kami untuk bertemu langsung dengan si bapak tetangga bawah, untuk menghindari segala kemungkinan yang membahayakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: