Bertetangga di Jepang -1

Mungkin bagi yang mengikuti Instagram ku, sudah tahu kasus kami dimana kami sekeluarga mendapatkan keluhan dari keluarga yang tinggal di lantai bawah apartemen kami. kali ini akan aku ceritakan kronologisnya. Kami tinggal di gedung 25 lantai, dan kami menempati apartment di lantai 23. Sebelum memutuskan tinggal di gedung tersebut, kami

menemani sang pemilik duka

Setelah kehilangan Papa 5 tahun lalu, aku mulai memahami bahwa waktu tidak bisa menyembuhkan luka kehilangan, tapi waktu mengajarkan kita bagaimana berdamai dengan rasa kehilangan. Sahabatku yang setengah tahun lalu baru saja kehilangan suaminya juga mengatakan hal serupa, “waktu tidak bisa menyembuhkan tapi membiasakan kita hidup berdampingan dengan luka” Benar,

Bag 12 “aku tidak nyaman”

“Gara, besok mau aku anter ke Bandara? kamu naik pesawat jam 12.30 kan ya?” sms masuk dari bang Robi. Belum sempat aku membalas pesan tersebut, telpon masuk. “hallo” “duh, galak amat jawabnya. Besok gw antar ke bandara ya.” jawab suara di seberang“engga perlu bang, aku bisa sendiri. Udah biasa sendiri.”“kamu

BAg 10 “Sweater putih dan mata coklat”

“Gara san, apakah baik baik saja?” suara berat seorang lelaki terdengar sangat dekat di telingaku“Gara san..?” suara itu mengulangi kembali panggilannya. Ku angkat wajah yang basah karena air mata, Kulihat sosok laki laki bersweater putih dengan bola mata bening berwarna coklat. “saya Satoshi, muridnya ibu nadya. Tadi saya makan siang

Laci laci kenangan

Pagi ini aku bangun dengan rasa sesak didada, lelah. Aku yakin ini penyebabnya karena mimpi buruk yang datang menghampiriku malam tadi. Ku runut-runut mimpi apa sih malam tadi, tapi ternyata gagal. Aku tidak berhasil mencari apa yang kumimpikan. Semakin ku ingat, semakin lelah rasanya. Mungkin kalian juga pernah merasakan hal

bag 9 “Salju di telapak tangan”

“Gara, tolong berikan nomor telpon kamu, supaya mereka bisa menghubungi kamu apabila mereka ada keperluan atau butuh pertolongan” Bli ketut berkata dari ujung ruangan. Suaranya menggema di seluruh ruangan membuat semua orang menoleh ke arahnya. Saat itu, pelanggan hanya tersisa kami, aku dan para pria berbadan tegap. Jam makan siang

bag 8 “Djaidi Alwi”

Anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir dari ibu berdarah betawi asli, dan Bapak asal yogyakarta. Sang Bapak datang ke Jakarat untuk menimba ilmu kedokteran di Unviersitas terbaik Indonesia. Ditengah perjalanan pernikahan, bapak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah keluar negri, di tahun di mana Indonesia baru saja merdeka dan masih sangat

Bag 14 “sapu tangan”

setelah memuntahkan isi perut, aku merasa sangat lapar sehingga makanan yang sudah dingin pun habis ku lahap tuntas. “Sudah selesai?” Satoshi bersiap menekan tombol panggilan pramugari.“sudah, aku saja yang panggil pramugari” jawabku sembari menekan tombol panggilan. Pramugari datang mengambil nampan kosong dan kupesan segelas ice kopi. “saya juga mau ice

bag 13 “Menghadapi jakarta”

“O.. Gara-san” setengah menjerit kaget pria tersebut memanggil namaku.“hi.. hallo..” tergugup aku menjawab. Aku tidak pernah mengingat nama pria ini. Tapi aku selalu ingat bola matanya yang coklat. “saya muridnya ibu Nadya. nama saya Satoshi” sambil menganggukan kepalanya, pria ini memperkenalkan dirinya lagi. “Hallo Satoshi san. Apa kabar” sapaku terlihat

bag 7 “Mawinei Nara”

Mawinei Nara, seorang gadis Dayak yang lahir di sebuah kampung di pinggir sungai barito. Abahnya termasuk orang terpandang di suku Dayak bakumpai, memiliki bisnis kayu yang cukup sukses. Mawinei anak perempuan satu-satunya dari enam bersaudara. Layaknya anak orang kaya, Mawinei sangat cantik dengan kulit kuning langsat yang jarang terkena sinar

Website Powered by WordPress.com.