Tag: fiksi

Bag 14 “sapu tangan”

setelah memuntahkan isi perut, aku merasa sangat lapar sehingga makanan yang sudah dingin pun habis ku lahap tuntas. “Sudah selesai?” Satoshi bersiap menekan tombol panggilan pramugari.“sudah, aku saja yang panggil pramugari” jawabku sembari menekan tombol panggilan. Pramugari datang mengambil nampan kosong dan kupesan segelas ice kopi. “saya juga mau ice

bag 13 “Menghadapi jakarta”

“O.. Gara-san” setengah menjerit kaget pria tersebut memanggil namaku.“hi.. hallo..” tergugup aku menjawab. Aku tidak pernah mengingat nama pria ini. Tapi aku selalu ingat bola matanya yang coklat. “saya muridnya ibu Nadya. nama saya Satoshi” sambil menganggukan kepalanya, pria ini memperkenalkan dirinya lagi. “Hallo Satoshi san. Apa kabar” sapaku terlihat

Bag 12 “aku tidak nyaman”

“Gara, besok mau aku anter ke Bandara? kamu naik pesawat jam 12.30 kan ya?” sms masuk dari bang Robi. Belum sempat aku membalas pesan tersebut, telpon masuk. “hallo” “duh, galak amat jawabnya. Besok gw antar ke bandara ya.” jawab suara di seberang“engga perlu bang, aku bisa sendiri. Udah biasa sendiri.”“kamu

Bag 11 “Tulang muda babi”

Sejak bang Robi kantornya berdekatan, sering sekali kami pergi makan siang bersama. Bang Robi lebih tua dariku sekitar 10 tahun, namun selera humornya tidak jauh denganku. Lelucon yang keluar dari mulut nya selalu membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa membaca tulisan Jepang dan juga tidak bisa berbahasa Jepang, itupun membuatnya

bag 9 “Salju di telapak tangan”

“Gara, tolong berikan nomor telpon kamu, supaya mereka bisa menghubungi kamu apabila mereka ada keperluan atau butuh pertolongan” Bli ketut berkata dari ujung ruangan. Suaranya menggema di seluruh ruangan membuat semua orang menoleh ke arahnya. Saat itu, pelanggan hanya tersisa kami, aku dan para pria berbadan tegap. Jam makan siang

bag 8 “Djaidi Alwi”

Anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir dari ibu berdarah betawi asli, dan Bapak asal yogyakarta. Sang Bapak datang ke Jakarat untuk menimba ilmu kedokteran di Unviersitas terbaik Indonesia. Ditengah perjalanan pernikahan, bapak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah keluar negri, di tahun di mana Indonesia baru saja merdeka dan masih sangat

bag 7 “Mawinei Nara”

Mawinei Nara, seorang gadis Dayak yang lahir di sebuah kampung di pinggir sungai barito. Abahnya termasuk orang terpandang di suku Dayak bakumpai, memiliki bisnis kayu yang cukup sukses. Mawinei anak perempuan satu-satunya dari enam bersaudara. Layaknya anak orang kaya, Mawinei sangat cantik dengan kulit kuning langsat yang jarang terkena sinar

Bag 6 “Para Lelaki Berbadan Tegap”

Jam 8 pagi, Mama sudah menelpon ku, sekedar bertanya kabar dan mengingtkan ku agar tidak meninggalkan shalat, pasrah dan selalu bersyukur. jam 9 pagi. Telpon kembali berbunyi. “hallo , Nad. apa kabar?” sapa ku kepada sang penelpon“Alhamdulillah baik. Gara chan, apa kabarnya? siang ini ada acara engga? tolongin aku dong,

bag 5 “Grup Anak Pak Alwi”

“ya mungkin elo butuh teman, karena itu gw menawarkan diri”“makasih loh ya, sebelumnya. tapikan gw ke Indonesia, pulang kerumah. Ada keluarga, banyak. ada teman-teman gw juga. nanti lo malah gw cuekin, ato gw malah terbebani ada elo. jadi engga perlu lah..” jawabku santai Setelah kenyang menyantap nasi uduk, bang Robi

Bag- 4 “Sepiring Nasi Uduk”

Segera kusiapkan air hangat di bath up. Air hangat membantu mengendurkan oto-otot tubuhku yang seharian ini terasa tegang. Sembari berendam, aku terus memainkan smartphone ku. Tiba-tiba ada video call dari grup “anak pak Alwi”. kak Gaya dan adik ku Saras. “woi..” sapaku“nih kak, gadis pembuat onar sudah masuk” Saras membuka

Website Powered by WordPress.com.