Tag: kehidupanjepang

Sebuah Proses Panjang

Terdengar aneh memang, tapi kenyataannya memang aku baru menyadari siapa diriku, apa yang harusnya ku identitaskan, setelah berumur 32 tahun dan memiliki seorang putri. Pencarian panjang yang kalau diingat kembali menjadi sebuah pembelajaran hidup, pengalaman berharga. Tempaan di negri rantau yang jauh dari keluarga dan sahabat, menumbuhkan rasa percaya akan

Bertetangga di Jepang-2

Beberapa kali kami mendapatkan surat dari management gedung yang isinya adalah menyampaikan keluhan dari tetangga bahwa kami. Saya pun berulang kali meminta maaf, dan menolak untuk menerima surat-surat dari tetangga bawah lagi. Ketika libur musim panas, masa emergency status di berlakukan. Maka kami tidak bisa membawa anak-anak liburan. Hanya sekitaran

Perjalanan Hijab

Tahun 2009, aku meninggalkan Jakarta dan hijrah ke Tokyo. Salah satu kota Metropolitan terpadat di dunia. Aku datang membawa sejuta harapan dan cita-cita serta idealisme layaknya anak muda yang masih keras kepala. Pada kenyatannya minim pengalaman hidup. Sembari kuliah, aku bekeja paruh waktu di sebuah restoran Indonesia. Lalu ada satu

Bertetangga di Jepang -1

Mungkin bagi yang mengikuti Instagram ku, sudah tahu kasus kami dimana kami sekeluarga mendapatkan keluhan dari keluarga yang tinggal di lantai bawah apartemen kami. kali ini akan aku ceritakan kronologisnya. Kami tinggal di gedung 25 lantai, dan kami menempati apartment di lantai 23. Sebelum memutuskan tinggal di gedung tersebut, kami

menemani sang pemilik duka

Setelah kehilangan Papa 5 tahun lalu, aku mulai memahami bahwa waktu tidak bisa menyembuhkan luka kehilangan, tapi waktu mengajarkan kita bagaimana berdamai dengan rasa kehilangan. Sahabatku yang setengah tahun lalu baru saja kehilangan suaminya juga mengatakan hal serupa, “waktu tidak bisa menyembuhkan tapi membiasakan kita hidup berdampingan dengan luka” Benar,

Bag 14 “sapu tangan”

setelah memuntahkan isi perut, aku merasa sangat lapar sehingga makanan yang sudah dingin pun habis ku lahap tuntas. “Sudah selesai?” Satoshi bersiap menekan tombol panggilan pramugari.“sudah, aku saja yang panggil pramugari” jawabku sembari menekan tombol panggilan. Pramugari datang mengambil nampan kosong dan kupesan segelas ice kopi. “saya juga mau ice

bag 13 “Menghadapi jakarta”

“O.. Gara-san” setengah menjerit kaget pria tersebut memanggil namaku.“hi.. hallo..” tergugup aku menjawab. Aku tidak pernah mengingat nama pria ini. Tapi aku selalu ingat bola matanya yang coklat. “saya muridnya ibu Nadya. nama saya Satoshi” sambil menganggukan kepalanya, pria ini memperkenalkan dirinya lagi. “Hallo Satoshi san. Apa kabar” sapaku terlihat

Bag 12 “aku tidak nyaman”

“Gara, besok mau aku anter ke Bandara? kamu naik pesawat jam 12.30 kan ya?” sms masuk dari bang Robi. Belum sempat aku membalas pesan tersebut, telpon masuk. “hallo” “duh, galak amat jawabnya. Besok gw antar ke bandara ya.” jawab suara di seberang“engga perlu bang, aku bisa sendiri. Udah biasa sendiri.”“kamu

Bag 11 “Tulang muda babi”

Sejak bang Robi kantornya berdekatan, sering sekali kami pergi makan siang bersama. Bang Robi lebih tua dariku sekitar 10 tahun, namun selera humornya tidak jauh denganku. Lelucon yang keluar dari mulut nya selalu membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa membaca tulisan Jepang dan juga tidak bisa berbahasa Jepang, itupun membuatnya

bag 9 “Salju di telapak tangan”

“Gara, tolong berikan nomor telpon kamu, supaya mereka bisa menghubungi kamu apabila mereka ada keperluan atau butuh pertolongan” Bli ketut berkata dari ujung ruangan. Suaranya menggema di seluruh ruangan membuat semua orang menoleh ke arahnya. Saat itu, pelanggan hanya tersisa kami, aku dan para pria berbadan tegap. Jam makan siang

Website Powered by WordPress.com.